Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.

Monday, May 13, 2013

Tears


 
Aku menangis lagi.

Ku teriakan
larik-larik cinta kita yang
menarik—merenggutku, pada
fakta, bahwa kita sudah tak
lagi bersama.

Entah bagaimana, aku tidak mampu menahan bendungan
yang bersemayam di bawah
pelupuk mataku—keluar dari
dasar kalbu—mengeruyak
rindu yang sedari tadi
menggebu, mengingat kepergianmu.

Air mata ini, perlahan turun.
Membentuk garis sejajar
dengan kenangan.

Membelah
lalu mengukir sayatan-sayatan
kecil pada hati.

Mengeruyak semua kenangan
yang menjelma menjadi bilah-
bilah luka—menyudutkanku
pada rengkuh cinta pekatmu.

Berkali-kali, aku mengutuk
diriku untuk tidak menangisimu.

Berulang kali,
aku sudah memproklamirkan
lelahku.

Tapi mengapa, aku
masih saja mengeluarkan
butiran air mata, yang
merangkum kata cinta, mewakili rasa.

Taukah?

Sadarkah kamu?

"Tolong ajari aku bagaimana
caranya merelakanmu?" di
wajahku sudah tidak lagi tergambar emosi apapun,
kecuali sendu sempurna.

Ku lirih kan namamu, aku
melayang di antara relung yang
meneriakan kekosongan.

"Tolong—tolong beri tahu aku, bagaimana caranya agar tidak
menangis saat kehilangan?"

Sunday, April 14, 2013

Mengerti






Mengerti.

Sakit hati ini, seperti sahabat
yang melekat dalam setiap
malam yang pekat.

Tolong jangan tanyakan lagi,
bagaimana aku menghadapinya
seorang diri. Melihatmu datang
dan pergi seenak hati.

Sakit ini, bukan sesuatu yang
baru, tapi kau tau? Ini
membelengguku setiap waktu.

"Aku janji, setelah ini, aku tidak
akan pergi lagi," katamu.
Membuat janji (lagi).

Entah, ini kali keberapa kau
membuat janji, tapi, masih saja
aku percaya kalau itu bukan
dusta.

Aku bertahan, untuk kita.

Aku menatapmu, memutar
bola mata lalu mendesah
berlebihan. "Sampai kapan
kamu akan terus berjanji?"
Tanyaku.

Kau membungkuk,
menyungkurkan lututmu di
atas debu, lalu berkata dengan
wajah sendu yang selalu
menjadi senjata andalanmu, "Ini
yang terakhir, sayang. Sungguh, aku tidak akan
menyakitimu,"

Rasanya sakit.

Sayatan-sayatan ini semakin
dalam, semakin merusak sel-sel
hatiku. Bahkan, aku sendiri tidak tau
sampai kapan aku berhenti
mencintaimu?

Lelah ini turut andil dalam
pertemuan kita.

Lidahku mengelu.

"Aku ingin bersamamu, tidak
lebih dari itu," katamu seraya
meraih tanganku yang sedari
tadi gemetar, menahan isak
tangis.

Ku tarik urat-urat leherku,
butuh beberapa detik untuk mencerna kata-katamu. Kali ini syaraf senrorikku kurang bekerja dengan baik.

ku ulurkan tanganku, membantumu berdiri dan
mengumpulkan nyali menatap
matamu, kemudian berkata,

"kau hanya perlu mengerti kita, sesederhana itu."

| terinspirasi dari lagu Rio Febrian, - bertahan.
 
Sumber gambar: www.google.com



Saturday, April 13, 2013

Akhir penantian



AKHIR PENANTIAN.

Langit jingga.
Aku paling suka berlama-lama
menatapnya dari balik rintik
hujan yang menggelayut di
sepanjang cakrawala.

Aku duduk di bangku reot setengah basah, di ujung halte
bus yang atapnya sedikit bocor.

Orang-orang sibuk berlalu-
lalang menghindari derasnya
hujan, sementara aku sibuk
membiarkan diriku, dengan ingatan yang mengisi labirin
kosong. Mencari tempat teduh,
di dadamu.

"Nona, kau tidak pulang?"
Tanya pemuda yang tersenyum
kearahku. Saat itu aku baru saja keluar
dari gedung sekolah.

Dari balik kacamataku, aku bisa
melihat wajah aristokrat. Tidak
sadar aku sudah menggigit
bibirku, tidak sanggup melihat garis senyumnya yang
menawan.

"Aku menunggu hujan
berhenti," jawabku, aku tidak
membawa payung atau mantel
hujan.

Ia terdengar sedikit mendesah,
"aku tidak yakin hujan akan
cepat berlalu,"
Ucapannya membuat keningku
mengerut,

"aku juga mengira
begitu,"

"Bagaimana kalau kau duduk
denganku, kita bisa
bercengkrama sembari
menunggu hujan reda?"
Ajaknya. Entah ada sihir apa di
matanya, tapi aku merasakan sesuatu yang membuatku
mengangguk, sekali lagi, setelah
ku telusuri, ternyata senyum
itu yang sedari tadi
menggodaku.

Kemudian, aku menggeser tubuhku untuk lebih dekat
dengannya, sambil menatap
tirai hujan yang belum reda
kami bercengkrama.

Hujan menjadi saksi pertemuan kita.

Senyummu menjadi sesuatu yang candu, lebih candu dari
ribuan butir sabu. Dan setiap
kau menyebut namaku, hasrat
ini semakin kuat untuk
menjadikanmu pusat tatasurya,

mengorbitlah...

mengorbitlah dalam galaxiku.

***

"Titania," suara Daniel menarik
sadarku.
Ia memperhatikan setiap sudut
wajahku, terutama bibirku
yang membiru. Aku kedinginan
di terjang hujan.

"Ini, pakai mantelmu, aku tidak
ingin kau kedinginan disini,"
nadanya masih terdengar
khawatir.

Kini, keadaan yang menginjak-
injak kepalaku, membenturkan
pada tembok beton bernama
realita.

Untuk apa lagi? Aku terlalu
berlama-lama, membuang
waktu pada sebuah cinta yang
semu.

Kenyataannya, sampai pada
saat ini, kau tidak kunjung
datang, walau senja telah
menjelang.

Sayang, aku pernah bertahan,
tapi kau tidak pernah
memberiku harapan.

"Pulanglah bersamaku, Titania,
aku akan menjagamu," Sekali
lagi, suara itu menyadarkanku.


cerita terinspirasi dari lagu: Raisha-apalah arti (menunggu)

Tuesday, February 19, 2013

apa perlu kamu tau?

www.google.com



Apa perlu kamu tau? 

Tentang air mata yang hadir di pipi?

Apa perlu aku jelaskan?

Kalau aku masih menunggumu dengan perasaan gundahku.

Dengar aku,

implus otak ini sudah tidak lagi menerima penjelasan-penjelasan mengapa kamu datang dan pergi seenak hati.

Mengapa kamu masih saja menyakiti, dengan tidak ada lagi disisi.


Atau dengan janji-janji yang membuatku masih saja percaya kalau itu bukan dustamu.

Atau memang kamu belum cukup mengerti?

Kalau aku menyerah, 

menyerah untuk mencintaimu walau ingatanku memaksa labirin-labirin kesetiaan untuk selalu menunggu.

Aku ingin menyudahi semua ini, 

pergi ke tempat yang paling jauh darimu. 

Tapi sekali lagi, 

kemanapun aku pergi, 

aku akan berlabuh lagi di kamu.

dunia trisa by Eva Sri Rahayu


Sebuah novel imut yang aku terima dari penulisnya langsung. Aku berterimakasih sekali sama kak Eva yang berbaik hati memberikan novelnya padaku.
Bintang pertama aku berikan untuk desain covernya yang menarik, aku suka banget covernya rame, menggambarkan suasana penuh bintang, dengan trisa yang menikmati hidupnya.
Bintang ke dua, aku suka banget sama pribadi Trisa.
Rasanya setelah aku membaca buku ini, Nama Trisa Kania tidak lagi terdengar tabu untukku. Namanya hangat, menarik, simple, dan mudah di ingat.  Sosok yang tangguh, sok tau, Pede, to the point, gak munafik (Nah yang ini aku suka banget) biasanya banyak cewek di novel2 aku baca, saat si tokoh utamanya bilang gak suka, bilang benci tapi dia mau berciuman, tapi dia mau have sex.
Nah kalau si trisa ini beda, sekali dia bilang enggak, tetep enggak. Seperti perasaannya pada Desta. Mungkin kebaikan hati Desta membuatnya terpukau dan merasa tidak enak, tapi sekali bilang enggak, ya enggak. Dia memang benar-benar seorang bintang meskipun hanya di dalam buku. Tapi itu tidak membuat otakku berhenti, pikiranku malah berkelana, ikut mengarus dengan cerita hidupnya, berilustrasi dalam setiap lembarnya. Dengan konflik-konflik yang di ceritakan secara cerdas, memberi banyak informasi kepada pembaca awam seperti aku.
Aku suka banget cara Kak Eva menceritakan bagaimana seluk beluk kehidupan melalui sosok Trisa, yang menghadapi konflik kehidupan. Antara anak dan orang tua, sahabat, patah hati, passion, karier, gelar sarjana dan banyak peristiwa yang mendilema yang membuat aku menebak-nebak cerita, tapi tetap di kemas secara teratur.
Buku ini banyak di sisipkan lirik-lirik lagu yang membuat pembaca lebih terhanyut dalam cerita. Seperti lirik lagunya Rod Steward For The First Time.
For The First Time. I am looking in your eyes.
For The First Time. I’m seeing who you are.
Cant belive how much I see.
Beberapa lirik lagu itu Membuat (kalau tidak salah) tiga Typo itu tidak berarti! J
Semua tokoh di buku ini cukup logis, karakternya aku suka, terutama Rhein, Ajeng Dan Desta, meskipun mereka hanya pelengkap tapi buat pembaca tokoh tersebut adalah penguat. Oh iya, soal gak suka, aku satu presepsi sama Trisa. Aku benci banget sama Raisha, kemudian Bian. Setidak2nya tokoh antagonisnya gak seperti mista :p
Bintang ke tiga  untuk setiap bab cerita yang mengejutkan, membuat emosi ku juga naik turun, Meskipun di akhir cerita pas Rhein mau masuk ruang operasi, udah ketebak ceritanya. Karena pesan terakhir Rhein itu membuat pembaca bisa menebak cerita.
Endingnya cukup menarik, bertemu di swalayan lagi. Sempat menahan-nahan diri untuk tidak membalik halaman belakang karena penasaran sama ending. Tadinya aku menebak-nebak kalau pembaca akan di hanyutkan dalam sebuah adegan Film kemudian setelah membuat pembaca kehilangan seluruh harapannya pada si tokoh utama, terdengar bunyi “CUT” yang di teriakkan dari sutradara. Hehehehe. Tapi ternyata tidak, menghilangnya Adam malah justru menjadi konflik batin untuk trisa.
Overall, aku suka sama buku ini, recommended banget buat yang mau tau soal dunia artis, mulai dari casting, membuat video clip band, sampai proses pembuatan Film berserta behind scene nya, Bagaimana perjuangan seorang artis dari level naik angkot sampe punya pavilium. Keren bukan?
Bintang ke empat (wuiiihh, bonus nih) untuk alurnya yang keren, aku rasa penulisnya menang benar-benar observasi untuk menulis buku ini. Jadi, pertanyaan-pertanyaan dari pembaca yang bersifat apa, siapa, dimana, kenapa, dan bagaimana sudah di jelaskan secara deskripsi yang keren, jujur, membaca deskripsinya saja aku tertarik, tidak membuatku bosan atau membaca memindai.
J

Thursday, January 31, 2013

Dunia imajinasi kita.



Dear Tuan Capricon.

Disini aku akan mengajakmu menaiki pesawat ulang alik sebagai perjalanan kita kali ini, mari berpegangan, dan kencangkan sabuk pengamanmu. Sebentar lagi kita akan terbang. Ke dunia imajinasiku.

Aku senang mendengarnya, kamu baik-baik saja disana. Di rumahku pun sama, hujan dan cuacanya dingin, itu yang menyebabkan aku harus memakai jaket, dan dua selimut setiap malam. Saat aku menulis surat ini, rintik hujan masih menyertai malamku.

Aku sudah membaca balasan suratmu disini Terimakasih, aku senang sekali kamu menyambut kedatangan suratku yang kemarin dengan antusias.

Bertemu? Mungkin suatu saat nanti, kita akan bertemu.

Oh ya? Jadi Arka takut padamu? Setiap anak, punya proses untuk adaptasi dengan hal-hal yang baru. Mungkin Arka tidak tau, bahwa sebetulnya di dalam wajahmu yang horror itu, ada jiwa ondel-ondelnya J

Tapi pada dasarnya mereka sama-sama ingin disayang, diperhatikan, di ajak bernyanyi dan dipeluk sewaktu wajahnya bersedih. Begitu yang aku lakukan saat aku berdiri di depan kelas menghadapi puluhan anak yang hiperaktif. Meski kadang aku sediri masih suka kaget saat mereka menyebutku, Ibu.

Oh iya, aku punya murid favoritku, namanya David, anak laki-laki setiap pagi ia menyambutku riang dengan suaranya yang supernyaring dan senyum polosnya memamerkan sederet giginya yang ompong, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan begitu saja tanpa berdosa, seperti;

“Ibu, pesawat itu kok besar sih?”

“Ibu, dulu waktu kecil giginya ompong gak?” tentu saja.

“Ibu, tadi pagi aku ngompol, gak sengaja lho bu, kalo ibu ngompol gak?” ya, itu realita. aku sering ngompol sampai kelas 5 SD. :P

Dan yang terakhir ku dengar kemarin, “Apakah ibu sudah menikah?”

Goddamnit, pertanyaan mereka membuatku kalap, syok, keki, ingin ketawa, dan segalamacam perasaan bercampur aduk di dalam hatiku. Haahahhaha. Mereka tidak tau bahwa sebetulnya aku ini anak ingusan (sama seperti mereka) hanya bedanya keberuntungan menghampiriku karena aku bisa berada di tengah-tengah mereka membimbingnya bernyani, bertepuk tangan, dan bercerita tentang hal-hal yang membuat mereka penasaran.

Aku selalu suka saat mereka bergelayut manja di lenganku, memelukku dari belakang, mencuri-curi perhatian, atau apapun mereka lakukan demi mendapat perhatian dariku.

Ada juga pasukan super girl, yang terdiri diantara cewek-cewek yang secara tidak langsung mempunyai skil sebagai artis, karena mereka selalu menunjukan beberapa fashion yang di pakai ke sekolah, seperti kunciran rambut, sepatu berwarna pink, atau bermacam-macam aksesori lainnya yang mencolok.

Dan aku sudah membuat anggota power ranger, untuk lima anak laki-laki yang suka berantem, namanya Opik, Pa’i, Ferry, Dimas, Dan Edo. Tidak jarang mereka membuat kekacauan di kelas. Bayangkan saja pada saat pelajaran menghitung mereka melakukan adegan salto, guling-gulingan, berlarian di atas meja, menendang papan tulis, atau adegan akrobat lainnya. Entah, sebetulnya ini taman kanak-kanak atau pertunjukan sirkus, sih?

Yang jelas, aku senang, aku sudah jatuh cinta pada mereka. Aku menyukai mereka, aku menyayangi mereka seperti menyayangi adik-adikku. Ya, hidup ini indah karena ada anak-anak kecil yang bisa bergerak bebas, mengkhayal setinggi mungkin, tanpa dibatasi dengan realita.

Mayday.. mayday.. pesawat ulang alik ini akan segera jatuh

Sekali lagi Huston.. Huston.. tolong segera di bantu, peringatan ini sebagai ujian dari kehidupan.. mayday.. mayday..

Tapi jika aku menarik sadarku, inilah perjalananku, sebuah proses kehidupan. Aku harus sadar bahwa semua yang aku lakukan adalah pencapaian, dimana pada akhirnya aku akan berhenti setelah raga ini sudah tidak bernapas lagi, tidak bisa melihat lagi, dan kembali kealam yang kekal.

Jika kamu tanya apakah sihir itu ada?

Aku akan menjawab, sihir itu ada jika kita mempercayainya, kamu lahir ke dunia ini, bisa berjalan, berbicara, bahkan bertengkar dengan lika-liku ujian kehidupan. Bukankah semua itu hal yang ajaib? Menurutku iya, dan menuliskan surat untukmu termasuk hal yang ajaib, karena dengan begitu saja mengalir seperti air yang mencari hilirnya, tulisan ini tercipta untukmu.

Mirror-miror on the wall, apakah tuan Capricon Bisa menyelesaikan skirpsinya?

Jawabannya, tentu bisa.

Pejamkan matamu, buang semua kebencian akan brengseknya dosen, angka-angka menyebalkan, dan lembaran kertas horror yang menjadi referensi. Bilang pada dirimu sendiri bahwa skirpsi terkutuk itu adalah temanmu, sahabatmu, bahkan calon isterimu yang kamu cintai. Berawal dari sana, kamu akan mendapatkan sebuah kehidupan yang baru, menemukan hal-hal baru yang lebih ajaib lagi, memukau, dan keren lebih dari pahlawan bertopeng.

Azalou erbapilo zeal, bermimpilah sejauh mungkin, setinggi mungkin dan berusahalah, gantungkan mimpi-mimpi yang gelap itu di atas kepalamu.

Wertyuo pobholak dertwan, anggap kertas-kertas mengertikan itu adalah sebuah pintu, yang di dalamnya berisi anak-anakmu yang satu perempuan dengan rambut bob dan senyum yang menawan, dan satunya laki-laki super kuat, keduanya lucu, dan menggemaskan. Setelah kamu lelah dengan seluruh perjuangan membuka pintu, semuanya terbayar ketika mereka berlari menghampirimu, memelukmu, dan mengatakan, “papa pulang,” kemudian mereka mencium tanganmu, dan bercerita bagaimana tentang boneka baru yang di belikan isterimu dan seberapa canggih robot ultramen dengan jubah merahnya.

Semuanya terangkum diatas tumpukan kertas yang kamu namai skripsi, hidup ini tidak berbatas menyelesaikan skripsi, masih banyak jutaan hal lain yang menantang, yang lebih seru, yang lebih membuatmu gila, sekaligus membobok benteng keteguhan hatimu. mungkin itu sejatinya sebuah petualangan hidup yang membuat kita sering kali merasa tidak kuat meneruskannya.

Tapi disini, semua orang berlomba-lomba mengadakan pencarian, pencarian jati diri, financial, kehidupan yang layak, iman, dan yang terakhir pencarian hati. dimana, saat ini kita sadar, kalau semua halau rintangan tidak bisa diselesaikan sendiri.

Tynbolif ozowara ufhvico, tuan capricon akan menyelesaikan skirpsinya dengan cepat.

Ia bisaa..

Aku yakin ia bisa..

Dan ia yakin, bahwa dirinya bisa.

Serta aku percaya, tuhan mendampinginya, berikut jutaan malaikat yang turut mengamini.

Tuan Capricon, percayalah. Semua yang kita lakukan di dunia ini tidak ada yang sia-sia kecuali diam dan berharap.

Pipiyot pun seorang penyihir jahat, tidak dengan simsalabim ia bisa membunuh nirmala. Jutaan proses ia ikuti. demi tujuannya, lihat seberapa usaha dia untuk mencapai sesuatu, tanpa memandang sesuatu itu berniat buruk atau tidak.

Lakukan, karena kamu mencintai, lakukan karena kamu ikhlas.

Bicara dengannya? Tidak terimakasih, tuan. Aku tidak ada kaitannya dengan dia.

Tapi jangan percaya kalau aku adalah orang yang seperti kamu bayangkan. Sekali lagi, surat ini hanya sebuah sihir yang ku tuliskan dalam hilafku.

Pada kenyataannya manusia sama, ada saat-saat mereka berada di titik jatuh, dan ada kalanya mereka berusaha bangkit karena tidak mau terus-terusan jatuh. Dan ada waktunya mungkin kita harus berpegangan agar tidak lagi terjatuh.

Alexi, tolong cepat bunyikan alarm peringatan, putuskan sebagian hal yang wajib di putuskan, buang seluruh hal yang menyulitkan perjalanan kita.

Kemudian…

Setelah pencapaian itu sampai pada titik tertentu, pesawat ini akan mendarat dengan mulus, dengan senyum sumringah dari semua maskapai, awak kapal, dan seluruh penumpang, termasuk kita.

Bersabarlah menunggu datangnya pelukan, Tuan.

Sekian perjalanan imajinasi kita hari ini..

Cepat bangkit dan kerjakan skripsimu atau aku akan menonjokmu! :p




Cheers,

Nona S.

tiga malaikat.


Hai Mr Leo.
Surat cinta ini ku tulis untuk seorang yang tidak pernah hilang dalam ingatanku, hidupku, dan hatiku. Laki-laki paruh baya yang selalu memberiku semangat kapanpun.

Bapak, apa kabar? Aku sengaja menulis surat ini, dengan linangan air mata, karena sungguh.. aku rindu sekali denganmu. Tidak ada yang mencintaimu sama seperti cintaku kepada Ibu, Ibu, Ibu kemudian barulah aku mencintaimu dengan utuh.

Pak, aku rindu—rindu sekali. Rasanya beberapa kali mendengar suaramu di telepon membuatku tidak sanggup lebih lama lagi memendam air mata. Setelah malam itu, kau mengantarkanku, Ayub dan Dina pulang kerumah, dan kau menghilang di balik kaca mobil setelah melambaikan tangan kearah kami bertiga, aku ingin sekali berlari. Mengejarmu, memintamu singgah di rumah Ibu, sebentar saja. Ku mohon…

Tapi sekali lagi realita menamparku, memukul kepalaku menarik syaraf sensorikku, agar aku sadar. Bahwa kalian, Bapak dan Ibuku yang terbukti sampai detik ini sama-sama masih saling mencintai, tidak bisa bersatu, bersama lagi, seperti dulu; kita selalu menghabiskan waktu menonton Tv sambil minum teh hangat pada musim hujan. Atau pisang goreng buatan ibu? Ya, kau sangat suka kan dengan itu?

My hero, aku rindu saat aku pulang sekolah, kau selalu menanyaiku, apakah kakiku pegal-pegal? Ada kejadian apa di sekolah? Atau sering kali kau membantuku membuat tugas, setidaknya aku suka saat kau mengoceh di samping meja belajarku sewaktu aku sibuk dengan Bab Respirasi Mamalia, atau menghitung jumlah atom-atom menyebalkan itu.

Aku ingat, saat aku baru saja patah hati beberapa bulan yang lalu, aku tidak pulang kerumah, aku ke rumah mas gomes dan menginap di rumahnya sampai besoknya kau memarahiku karena aku tidak memberi kabar. Padahal malam itu, kau sama sekali tidak tidur karena menungguku pulang.
Yang paling membuatku ingin menangis, saat aku baru pulang dari kantor, waktu itu hujan. Kau menungguku di depan gang, di pinggir jalan, dengan sarung kotak-kotak andalanmu kalau tidur dan sebuah payung. Saat aku bertanya sedang apa kau disini, kau menjawabnya dengan senyum, kemudian berkata, “menunggumu,” sungguh, itu yang membuatku menitikan air mata.

Pak, kami disini selalu baik-baik saja. Aku sudah bekerja, mewujudkan impianku, Menjadi seorang guru, Ibu dan Bapak paling setuju dengan cita-citaku yang satu itu. Tengah hari aku pulang dan membantu Ibu, setiap minggu aku kuliah. mengejar sebuah gelar yang mengangkat derajat manusia.

Hari ini aku kepasar dengan Ibu. beliau membeli singkong, kesukaanku. Sawi, beberapa ekor ikan, tauge, buncis, dan jenis-jenis bumbu yang aku sendiri belum paham. Aku senang bisa membantu Ibu, satu-satunya wanita yang paling ku hormati, dan ku cintai. Kalau tidak sekarang, kapan lagi aku membantunya? Untuk sekedar mencuci piring atau mencuci pakaian saja aku tidak keberatan. Aku juga senang bisa menjadi tempat curhatnya ibu. Setidaknya, itu sedikit mengurangi beban hidupnya.

Kalau Ayyub, si bedul item anak laki-laki bapak yang satu itu udah besar lho pak, dia udah kenal perempuan, meskipun sedikit bandel karena jarang mandi dan males bantuin ibu, dia jadi wakil ketua rohis di sekolahnya. Oh iya ku dengar kemarin ia baru saja mendapat sertifikat karena memenangkan lomba catur di sekolahnya, ternyata jurus jitu catur yang di turunkan bapak ke Ayub itu ampuh hehehehe. oh iya, karena umur aku dan ayub yang berdekatan, kita sering menonton Film bareng lho, bermodal DVD pinjeman, atau donlot di situs tertentu, kita nikmatin semua Film2 itu, dari yang bergenre romance, action, fantasy, sampe horror yang membuat aku sering jitakin kepalanya pas setan lagi keluar dan berteriak huaaaaa, kampret lo! Setannnn!

Dina, si nenenoe, oh iya, aku emang terkenal suka merusak nama orang. hehhehe ._.v anak perempuanmu yang paling ganjen, entah kenapa antara aku dan Dina itu sangat bertolak belakang, dia begitu bawel, paling males sikat-gigi kalau enggak di omelin sama Ibu, dia anak Ibu yang paling ngejengkelin, paling ganjen, dan aku heran dia itu sering ngubrak-ngabrik tempat make upku. Kalau aku lebih suka membaca buku di kamar dia punya hobby menonton sinetron putih abu-abu dan beberapa FTV yang tayang setiap hari. Aku tidak tau lagi bagaimana caranya melarang anak kutu itu supaya gak terlalu banyak nonton sinetron. Tapi semenjak Bapak dan Ibu pisah, dia seperti kehilangan sesuatu di hidupnya. Aku mengerti Pak, mengerti sekali. perasaan adikku itu. Dia trauma sampai berpengaruh dengan minat belajarnya.

Harusnya aku bisa jadi seorang kakak yang baik, tapi itu butuh proses, suatu hari ia tidak di naikan oleh wali kelasnya. Tapi kau tau? Hal itu yang membuat minat belajarnya kembali. Dina yang dulu males bangun pagi buat berangkat sekolah, sekarang jadi semangat belajar. dan smester ini dia menadapatkan peringkat 3 lho pak, oh iya, kemarin juga dia yang jadi wakil sekolahnya maju ke tingkat kecamatan untuk turnamen tenis meja. Dan, yang sekarang ia lakukan setiap hari, setiap menit, di manapun ia berada, gadis kecil itu selalu berisik dengan hafalan pembukaan UUD-nya. Ibu lebih suka dia seperti itu, dari pada melihat dia naik ke atas pohon nyolongin mangga tetangga atau main panas-panasan ke tengah sawah sampe badannya kurus kering item, tinggal bolamatanya saja yang keliatan.

Bapak mau tau tentang Ibu? emmm, Ibu masih seperti dulu. Masih rajin solat, rajin ngomel, rajin bikin pisang goreng, dadar guling (kataku) dadar gulung (kata ayyub) kami memang selalu berdebat tentang nama panganan itu, dan ubi goreng. *horee*

Bapak pasti kangen sama pisang goreng Ibu ya? Rasanya aku mau ngirim satu pisang goreng itu ke Jakarta.

Ibu juga masih sering bertanya pada anak-anaknya, hari ini mau masak apa? Kalau di tanya seperti itu tentu saja beliau menerima jawaban yang berbeda-beda, selera makannya juga beda, kalau aku pasti menjawab, “sayur asem,” karena aku adalah sayur asem holic, tapi mungkin Ayyub berteriak “Ayam goreng,” karena ia benci sayuran, sementara Dina yang gak doyan makan hanya bergumam, “Mie goreng ijo,” karena belakangan ini dia menyukai makanan jenis itu, setelah mie goreng yang biasa kurang popouler lagi menurutnya.

Sebetulnya, kami tidak menginginkan hal ini terjadi. Namun kami pasrah pada kenyataan, yang aku ingat ucapanmu, bahwa hidup ini hanya menyamakan keinginan kita dan keinginan Tuhan. Jika keinginan kita dan Tuhan satu persepsi, maka terjadilah, tapi jika tidak, maka kita harus siap apapun yang di inginkan Tuhan.

Terlahir di dunia, aku hanya punya satu Bapak, dan satu Ibu, dan itu hanya sekali. Jadi menurutku, kalianlah panutan sesungguhnya. Kemanapun aku pergi, kalianlah tempat ku pulang. Dan aku, adalah tempat dimana kalian menanam sebagian jiwa kalian yang sudah di sepakati untuk mengikatkan tali cinta kalian. Dan sekali lagi, ini adalah kehidupan yang tidak terus berjalan tanpa hambatan. Ini jalan yang sudah Tuhan berikan untukku, agar aku lebih tegar, agar aku lebih banyak berikhtiar.

Pak, disana yang semangat ya kerjanya, jangan lupa cuci baju, sebab aku tidak bisa lagi mencuci bajumu, atau menjaitkan celanamu yang sering kali robek itu. Sungguh, aku rindu sekali denganmu, boleh aku memelukmu? Ya, nanti jika kita bertemu aku ingin mengatakan kalau aku yang merusakan kacamatamu, aku tidak sengaja menginjaknya waktu menyapu lantai.

Pak, jaga dirimu baik-baik ya, kita bertiga sayang sama bapak, selalu sayang, dan tidak akan pernah berubah sedikitpun.
Semoga tuhan menyatukan keluarga kita, diakhirat kelak.

Dengan tinta cinta dari ketiga malaikatmu.

Ovie, Ayub dan Dina.