Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.
Showing posts with label flash fiction :). Show all posts
Showing posts with label flash fiction :). Show all posts

Sunday, April 14, 2013

Mengerti






Mengerti.

Sakit hati ini, seperti sahabat
yang melekat dalam setiap
malam yang pekat.

Tolong jangan tanyakan lagi,
bagaimana aku menghadapinya
seorang diri. Melihatmu datang
dan pergi seenak hati.

Sakit ini, bukan sesuatu yang
baru, tapi kau tau? Ini
membelengguku setiap waktu.

"Aku janji, setelah ini, aku tidak
akan pergi lagi," katamu.
Membuat janji (lagi).

Entah, ini kali keberapa kau
membuat janji, tapi, masih saja
aku percaya kalau itu bukan
dusta.

Aku bertahan, untuk kita.

Aku menatapmu, memutar
bola mata lalu mendesah
berlebihan. "Sampai kapan
kamu akan terus berjanji?"
Tanyaku.

Kau membungkuk,
menyungkurkan lututmu di
atas debu, lalu berkata dengan
wajah sendu yang selalu
menjadi senjata andalanmu, "Ini
yang terakhir, sayang. Sungguh, aku tidak akan
menyakitimu,"

Rasanya sakit.

Sayatan-sayatan ini semakin
dalam, semakin merusak sel-sel
hatiku. Bahkan, aku sendiri tidak tau
sampai kapan aku berhenti
mencintaimu?

Lelah ini turut andil dalam
pertemuan kita.

Lidahku mengelu.

"Aku ingin bersamamu, tidak
lebih dari itu," katamu seraya
meraih tanganku yang sedari
tadi gemetar, menahan isak
tangis.

Ku tarik urat-urat leherku,
butuh beberapa detik untuk mencerna kata-katamu. Kali ini syaraf senrorikku kurang bekerja dengan baik.

ku ulurkan tanganku, membantumu berdiri dan
mengumpulkan nyali menatap
matamu, kemudian berkata,

"kau hanya perlu mengerti kita, sesederhana itu."

| terinspirasi dari lagu Rio Febrian, - bertahan.
 
Sumber gambar: www.google.com



Friday, November 30, 2012

Rona jingga untukmu.


Namaku senja, sebuah rona yang menceritakan kisah kita. Sesuai dengan namaku, aku sangat menyukai langit jingga. Menghirup aromanya dalam-dalam dan melepaskannya ke pelukan malam.
Ku lihat sebuah bayangan wajahmu yang sukses menyelundup dari sel-sel otakku. Aku harus mengkerutkan kening, dan menahan gejolak perasaan yang lama tak mengalami perubahan. Lihat kita sudah tidak bersama lagi. tapi, bayanganmu masih ada disisi. Kini, aku menemukanmu. Dalam garis-garis jelas yang membentuk wajahmu, tanpa bingkai, tanpa kanvas, atau kuas yang seperti biasa ku gunakan untuk melukiskanmu.
“Senjaa!” panggilnya, setelah aku menemukannya di depan pintu rumahku dengan pakaian yang superkeren dan setangkai mawar di tangan.
Aku hampir tidak percaya, lelaki ini muncul di hadapanku. Sudah hampir enam tahun, orang ini selalu menempel di kepalaku. Ku dengar kabar terakhirnya ia sedang dalam perjalanan menuju Amerika, untuk melanjutkan kuliahnya di universitas of Cincinnati.
“Hai, how are you?” senyumnya seperti candu, desahan napasnya begitu lembut seperti beledu. Aku mencintai sosok itu, tanpa ada rasa jengah, sekalipun gundah menamparku. Dengan ingar bingar hati yang ingin mengakhiri, kau buat perasaanku meledak-ledak, seperti kembang api.
“Aku baik-baik saja. Kamu gimana? Aku kangen deh sama kita,”
Kita? Itu berarti aku dan kamu? Dengan segala kenangan yang menyelimuti setiap hembusan napasku.
Ku pandangi wajahnya dengan ketidakmengertian. Tapi, tidak ku temukan jawabannya di senyumnya yang rancu.
“Aku baik, bahkan dengan baik, aku mengingatmu.” Setelah nada terakhir itu, aku ingin sekali membanting pintu agar tidak lagi melihat wajahnya.
“Senja, sudah jelas, aku mencintaimu, apa perlu di jelaskan lagi?”
FAJAR DANISWARA, dengar, aku mencintaimu! Teriakku dalam hati.
Ia langsung memelukku, rasanya lututku melemas. Aku seperti kehabisan napas. Dengan sabar Fajar mendekapku, membelai rambutku, ia memberi suang kosong di dadanya untukku isi. Selanjutnya, aku seperti terbang ke awang-awang, semakin tinggi, semakin tinggi, satu dekade, satu dasawarsa, satu aneon, lalu sadar membuatku kembali lagi ke bumi. Aku bermimpi.

Friday, November 23, 2012

epilog



Ini cerita yang seharusnya tidak ku tuliskan. selama dua tahun, 730 hari, 17.520 jam, dan 1.051.200 detik, yang seharusnya tidak ku jalani dengan berpura-pura bahagia. Sebagaimana cerita ini sudah berakhir, tidak ada lagi klimaks, tidak ada lagi tanda tanya, tidak ada lagi koma, dan seluruhnya sudah menjadi titik yang tidak berkesinambungan.
Tapi rasanya, pena di tanganku masih mau menari-nari diatas kertas, membuat cerita tentang kita, menulis bait-bait yang seharusnya tidak kau ungkit. Ku bilang hubungan kita sudah rumit, bahkan limit. Tapi, masih saja kau berkelit.
“Tolong lepas aku,” kataku, dan tidak perduli rela atau tidaknya air mata ini. memaksa kedua lenganmu menyudahi pelukan di tubuhku. Aku tidak ingin terjerat (lagi).
Kau seperti bayangan kelam yang selalu menempel di telapak kaki, dan tak pernah pergi. Mengakrabkan ku pada suara hati menahan perih dan rintih. Dan seberapa jauh aku melangkah, kau adalah titik temu di antara rindu.
Berapa banyak kata cinta yang telah kau nyatakan? Dua puluh? Tiga puluh? Atau mungkin seratus.
“Tidak, aku terlalu mencintaimu,” katamu, mungkin ini yang keseratus. Kau jangan membuatku iri, pada andromeda di langit utara.
Sekali lagi, masih ku temukan namamu yang tertulis di penaku, seberapa lama lagi aku sanggup menuliskan mu? Sementara aku tidak bisa membaca perasaanmu.. Ku tatap pijar matamu yang meluluhkan ku, asa kisah ini akan berakhir bahagia. Sayang, kenyataan seolah menamparku sebagai manusia biasa dan terkait dengan realita.
“Biarkan aku pergi, untuk mencari cintaku sendiri.” Gubrisku.
“Aku mencintaimu.” Oke, kali ini, aku yakin ini yang keseratus. Tapi bukan itu jawaban yang kunantikan darimu.
“Aku tidak ingin mencintaimu, kalau kau sendiri belum yakin dengan perasaanmu,” ucapku lalu pergi meninggalkanmu.
Ku tarik garis dari sudut kertas putih. sekali lagi, ku temukan diriku, menuliskan namamu dengan kata-kata yang terangkai dalam satu bait. Kisah ini berakhir dengan, Sungguh.. sungguh aku mencintaimu.. sungguh aku rindu padamu..