Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.

Saturday, July 13, 2013

sebuah pilihan

Tuan yang berkacamata, hidup kita gak pernah mudah. Kadang kita dikasih pilihan yang gak sesuai dengan keinginan. Tapi kalo gak memilih, kita akan terus merasa terpuruk dan gagal. Tapi aku percaya, setiap manusia sudah ditempatkan sesuai porsinya.  Pada akhirnya, aku akan sadar. Yang mana yang benar-benar sebuah pilihan, Dan yang mana pilihan yang tidak tepat. Tinggal bagaimana kita menghadapi, berjuang demi hidup, demi sebuah cinta yang benar-benar kucari.

Tuesday, July 9, 2013

mencintai dalam diam



Ada getar berbeda saat mata kita bertemu, saling menatap, mengumpati kagum, memuji dalam diam.
“Elvana.” Dan jantung ini bergejolak tiap kali kamu memanggil namaku.
“Ya?” sahutku pelan, kutatap pijar hangat itu, berkali-kali aku mencoba mengeja makna di matamu.
“Kamu masih ingat aku, kan?” suara bariton itu begitu akrab di telingaku.
Aku mendesah, menikmati setiap jengkal napas ini, membuat cemburu andromeda yang menjadi saksi keakraban kita.
“Mana bisa aku lupa sama kamu, jabrikk! Kamu cowok paling nyebelin sedunia.” Aku tertawa kecil melihat potongan rambutnya yang masih sama, seperti yang terakhir kali kulihat. Jabrik.
Aku bergeser ke sebelah kiri ketika sadar percakapan kami menghalangi sejumlah orang yang berlalu lalang. Aku menenteng beberapa kantung belanjaanku yang berisi roti dan buah pesanan, Alexi.
“Enam tahun kita gak ketemu, kamu gak kangen sama aku?” aku mendengar helaan napasnya yang sedikit berat.
Barangkali, ini hanya sebuah rasa yang naif, yang tidak bisa ku realisasikan dengan kata. Atau, aku yang salah menilai sosok laki-laki sempurna di hadapanku. Emelio. Tapi rasa ini begitu menjulang, menagih rindu, berkelebat hebat, dan selalu bermain petak-umpat dengan hatimu.
“Emelio, ku kira kamu di mana, ternyata di sini,” suara manja dari perempuan dengan potongan dress selutut yang bergelayut manja di lengan Emelio itu menarik sadarku.
“Sayang ini siapa?” tanyanya saai ia mulai sadar dengan sosokku yang terpaku.
Aku menghitung bilangan sampai enam dalam hati, kalau tidak salah, Emelio sempat menarik napas. Pijar matanya berubah cemas dan sedikit sendu, sebelum ia berkata, “Elvana, ini Kareen dan.. Kareen, ini Elvana, teman… sekolahku dulu.” Ucapnya setengah gugup.
Kami berjabat tangan, saling menyebutkan nama. Aku mencoba menarik seuntai senyum dari sudut bibirku.
“Sayang, kita harus mengambil pesanan cincin,” nada Kareen seperti mengingatkan.
Ini kedua kalinya aku menatapmu dengan frustasi, setelah yang pertama kamu meninggalkanku dengan kecupan di dahi, enam tahun lalu. Dan sekarang, saat kita di hadap-hadapkan kembali, aku kembali dibuatmu pilu.
Aku mencoba mencari sesuatu di matanya, tapi tidak ada yang kutemukan selain semburat sendu.
Bagaimana jika detik ini adalah diktik terakhir untuk kita? Dan bagaimana jika air mata yang tidak rela untuk kehilanganmu lagi?
“Ayolah Emelio, kita gak punya banyak waktu,” rengek Kareen.
Dan rasanya, waktu yang justru mencekik leherku karena aku terus-terusan mencintaimu dalam diam, dengan rasa yang kupendam sendirian.
“Elvana,” Aku mendengar desahanmu, “datang ya, ke pertunanganku?” nadanya penuh harap. Ia tersenyum ragu saat melihat perubahan warna di sekitar wajahku.
Aku hanya sanggup melontarkan senyumku menutupi sebagian sendu, sebelum setelah ini aku yang akan dihabisi rindu itu sendiri.
“Senang bertemu denganmu,” ia menambahkan sebelum mereka melambaikan tangan lalu menghilang di ujung blok.
“Aku kangen sama kamu!” ucapku, mencoba menjawab pertanyaan yang tadi sempat terabaikan.
Sekarang tinggal bagaimana aku yang lagi-lagi menelan sakit ini sendirian?

nb: jangan tanyain kapan dibuat kelanjutannya :D

Monday, May 13, 2013

Tears


 
Aku menangis lagi.

Ku teriakan
larik-larik cinta kita yang
menarik—merenggutku, pada
fakta, bahwa kita sudah tak
lagi bersama.

Entah bagaimana, aku tidak mampu menahan bendungan
yang bersemayam di bawah
pelupuk mataku—keluar dari
dasar kalbu—mengeruyak
rindu yang sedari tadi
menggebu, mengingat kepergianmu.

Air mata ini, perlahan turun.
Membentuk garis sejajar
dengan kenangan.

Membelah
lalu mengukir sayatan-sayatan
kecil pada hati.

Mengeruyak semua kenangan
yang menjelma menjadi bilah-
bilah luka—menyudutkanku
pada rengkuh cinta pekatmu.

Berkali-kali, aku mengutuk
diriku untuk tidak menangisimu.

Berulang kali,
aku sudah memproklamirkan
lelahku.

Tapi mengapa, aku
masih saja mengeluarkan
butiran air mata, yang
merangkum kata cinta, mewakili rasa.

Taukah?

Sadarkah kamu?

"Tolong ajari aku bagaimana
caranya merelakanmu?" di
wajahku sudah tidak lagi tergambar emosi apapun,
kecuali sendu sempurna.

Ku lirih kan namamu, aku
melayang di antara relung yang
meneriakan kekosongan.

"Tolong—tolong beri tahu aku, bagaimana caranya agar tidak
menangis saat kehilangan?"

Sunday, April 14, 2013

Mengerti






Mengerti.

Sakit hati ini, seperti sahabat
yang melekat dalam setiap
malam yang pekat.

Tolong jangan tanyakan lagi,
bagaimana aku menghadapinya
seorang diri. Melihatmu datang
dan pergi seenak hati.

Sakit ini, bukan sesuatu yang
baru, tapi kau tau? Ini
membelengguku setiap waktu.

"Aku janji, setelah ini, aku tidak
akan pergi lagi," katamu.
Membuat janji (lagi).

Entah, ini kali keberapa kau
membuat janji, tapi, masih saja
aku percaya kalau itu bukan
dusta.

Aku bertahan, untuk kita.

Aku menatapmu, memutar
bola mata lalu mendesah
berlebihan. "Sampai kapan
kamu akan terus berjanji?"
Tanyaku.

Kau membungkuk,
menyungkurkan lututmu di
atas debu, lalu berkata dengan
wajah sendu yang selalu
menjadi senjata andalanmu, "Ini
yang terakhir, sayang. Sungguh, aku tidak akan
menyakitimu,"

Rasanya sakit.

Sayatan-sayatan ini semakin
dalam, semakin merusak sel-sel
hatiku. Bahkan, aku sendiri tidak tau
sampai kapan aku berhenti
mencintaimu?

Lelah ini turut andil dalam
pertemuan kita.

Lidahku mengelu.

"Aku ingin bersamamu, tidak
lebih dari itu," katamu seraya
meraih tanganku yang sedari
tadi gemetar, menahan isak
tangis.

Ku tarik urat-urat leherku,
butuh beberapa detik untuk mencerna kata-katamu. Kali ini syaraf senrorikku kurang bekerja dengan baik.

ku ulurkan tanganku, membantumu berdiri dan
mengumpulkan nyali menatap
matamu, kemudian berkata,

"kau hanya perlu mengerti kita, sesederhana itu."

| terinspirasi dari lagu Rio Febrian, - bertahan.
 
Sumber gambar: www.google.com



Saturday, April 13, 2013

Akhir penantian



AKHIR PENANTIAN.

Langit jingga.
Aku paling suka berlama-lama
menatapnya dari balik rintik
hujan yang menggelayut di
sepanjang cakrawala.

Aku duduk di bangku reot setengah basah, di ujung halte
bus yang atapnya sedikit bocor.

Orang-orang sibuk berlalu-
lalang menghindari derasnya
hujan, sementara aku sibuk
membiarkan diriku, dengan ingatan yang mengisi labirin
kosong. Mencari tempat teduh,
di dadamu.

"Nona, kau tidak pulang?"
Tanya pemuda yang tersenyum
kearahku. Saat itu aku baru saja keluar
dari gedung sekolah.

Dari balik kacamataku, aku bisa
melihat wajah aristokrat. Tidak
sadar aku sudah menggigit
bibirku, tidak sanggup melihat garis senyumnya yang
menawan.

"Aku menunggu hujan
berhenti," jawabku, aku tidak
membawa payung atau mantel
hujan.

Ia terdengar sedikit mendesah,
"aku tidak yakin hujan akan
cepat berlalu,"
Ucapannya membuat keningku
mengerut,

"aku juga mengira
begitu,"

"Bagaimana kalau kau duduk
denganku, kita bisa
bercengkrama sembari
menunggu hujan reda?"
Ajaknya. Entah ada sihir apa di
matanya, tapi aku merasakan sesuatu yang membuatku
mengangguk, sekali lagi, setelah
ku telusuri, ternyata senyum
itu yang sedari tadi
menggodaku.

Kemudian, aku menggeser tubuhku untuk lebih dekat
dengannya, sambil menatap
tirai hujan yang belum reda
kami bercengkrama.

Hujan menjadi saksi pertemuan kita.

Senyummu menjadi sesuatu yang candu, lebih candu dari
ribuan butir sabu. Dan setiap
kau menyebut namaku, hasrat
ini semakin kuat untuk
menjadikanmu pusat tatasurya,

mengorbitlah...

mengorbitlah dalam galaxiku.

***

"Titania," suara Daniel menarik
sadarku.
Ia memperhatikan setiap sudut
wajahku, terutama bibirku
yang membiru. Aku kedinginan
di terjang hujan.

"Ini, pakai mantelmu, aku tidak
ingin kau kedinginan disini,"
nadanya masih terdengar
khawatir.

Kini, keadaan yang menginjak-
injak kepalaku, membenturkan
pada tembok beton bernama
realita.

Untuk apa lagi? Aku terlalu
berlama-lama, membuang
waktu pada sebuah cinta yang
semu.

Kenyataannya, sampai pada
saat ini, kau tidak kunjung
datang, walau senja telah
menjelang.

Sayang, aku pernah bertahan,
tapi kau tidak pernah
memberiku harapan.

"Pulanglah bersamaku, Titania,
aku akan menjagamu," Sekali
lagi, suara itu menyadarkanku.


cerita terinspirasi dari lagu: Raisha-apalah arti (menunggu)

Tuesday, February 19, 2013

apa perlu kamu tau?

www.google.com



Apa perlu kamu tau? 

Tentang air mata yang hadir di pipi?

Apa perlu aku jelaskan?

Kalau aku masih menunggumu dengan perasaan gundahku.

Dengar aku,

implus otak ini sudah tidak lagi menerima penjelasan-penjelasan mengapa kamu datang dan pergi seenak hati.

Mengapa kamu masih saja menyakiti, dengan tidak ada lagi disisi.


Atau dengan janji-janji yang membuatku masih saja percaya kalau itu bukan dustamu.

Atau memang kamu belum cukup mengerti?

Kalau aku menyerah, 

menyerah untuk mencintaimu walau ingatanku memaksa labirin-labirin kesetiaan untuk selalu menunggu.

Aku ingin menyudahi semua ini, 

pergi ke tempat yang paling jauh darimu. 

Tapi sekali lagi, 

kemanapun aku pergi, 

aku akan berlabuh lagi di kamu.

dunia trisa by Eva Sri Rahayu


Sebuah novel imut yang aku terima dari penulisnya langsung. Aku berterimakasih sekali sama kak Eva yang berbaik hati memberikan novelnya padaku.
Bintang pertama aku berikan untuk desain covernya yang menarik, aku suka banget covernya rame, menggambarkan suasana penuh bintang, dengan trisa yang menikmati hidupnya.
Bintang ke dua, aku suka banget sama pribadi Trisa.
Rasanya setelah aku membaca buku ini, Nama Trisa Kania tidak lagi terdengar tabu untukku. Namanya hangat, menarik, simple, dan mudah di ingat.  Sosok yang tangguh, sok tau, Pede, to the point, gak munafik (Nah yang ini aku suka banget) biasanya banyak cewek di novel2 aku baca, saat si tokoh utamanya bilang gak suka, bilang benci tapi dia mau berciuman, tapi dia mau have sex.
Nah kalau si trisa ini beda, sekali dia bilang enggak, tetep enggak. Seperti perasaannya pada Desta. Mungkin kebaikan hati Desta membuatnya terpukau dan merasa tidak enak, tapi sekali bilang enggak, ya enggak. Dia memang benar-benar seorang bintang meskipun hanya di dalam buku. Tapi itu tidak membuat otakku berhenti, pikiranku malah berkelana, ikut mengarus dengan cerita hidupnya, berilustrasi dalam setiap lembarnya. Dengan konflik-konflik yang di ceritakan secara cerdas, memberi banyak informasi kepada pembaca awam seperti aku.
Aku suka banget cara Kak Eva menceritakan bagaimana seluk beluk kehidupan melalui sosok Trisa, yang menghadapi konflik kehidupan. Antara anak dan orang tua, sahabat, patah hati, passion, karier, gelar sarjana dan banyak peristiwa yang mendilema yang membuat aku menebak-nebak cerita, tapi tetap di kemas secara teratur.
Buku ini banyak di sisipkan lirik-lirik lagu yang membuat pembaca lebih terhanyut dalam cerita. Seperti lirik lagunya Rod Steward For The First Time.
For The First Time. I am looking in your eyes.
For The First Time. I’m seeing who you are.
Cant belive how much I see.
Beberapa lirik lagu itu Membuat (kalau tidak salah) tiga Typo itu tidak berarti! J
Semua tokoh di buku ini cukup logis, karakternya aku suka, terutama Rhein, Ajeng Dan Desta, meskipun mereka hanya pelengkap tapi buat pembaca tokoh tersebut adalah penguat. Oh iya, soal gak suka, aku satu presepsi sama Trisa. Aku benci banget sama Raisha, kemudian Bian. Setidak2nya tokoh antagonisnya gak seperti mista :p
Bintang ke tiga  untuk setiap bab cerita yang mengejutkan, membuat emosi ku juga naik turun, Meskipun di akhir cerita pas Rhein mau masuk ruang operasi, udah ketebak ceritanya. Karena pesan terakhir Rhein itu membuat pembaca bisa menebak cerita.
Endingnya cukup menarik, bertemu di swalayan lagi. Sempat menahan-nahan diri untuk tidak membalik halaman belakang karena penasaran sama ending. Tadinya aku menebak-nebak kalau pembaca akan di hanyutkan dalam sebuah adegan Film kemudian setelah membuat pembaca kehilangan seluruh harapannya pada si tokoh utama, terdengar bunyi “CUT” yang di teriakkan dari sutradara. Hehehehe. Tapi ternyata tidak, menghilangnya Adam malah justru menjadi konflik batin untuk trisa.
Overall, aku suka sama buku ini, recommended banget buat yang mau tau soal dunia artis, mulai dari casting, membuat video clip band, sampai proses pembuatan Film berserta behind scene nya, Bagaimana perjuangan seorang artis dari level naik angkot sampe punya pavilium. Keren bukan?
Bintang ke empat (wuiiihh, bonus nih) untuk alurnya yang keren, aku rasa penulisnya menang benar-benar observasi untuk menulis buku ini. Jadi, pertanyaan-pertanyaan dari pembaca yang bersifat apa, siapa, dimana, kenapa, dan bagaimana sudah di jelaskan secara deskripsi yang keren, jujur, membaca deskripsinya saja aku tertarik, tidak membuatku bosan atau membaca memindai.
J