Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.
Showing posts with label lomba puisi. Show all posts
Showing posts with label lomba puisi. Show all posts
Sunday, January 5, 2014
[puisi] pelik
kalau saja hati bisa bicara
pada kata yang di anggap cinta.
mengenang senja yang selalu kita lalui bersama.
kalau saja rindu itu tidak terlalu pelik,
untuk ku palak sebuah peluk darimu.
dengan demikian aku tidak terlalu berkelit untuk rasa yang sulit.
kalau saja aku bisa menutup kedua mataku.
untuk tidak melihat senyummu yang candu! Rancu!
berdiri dengan egoku yang selangit tanpa harus menunggu.
cukup, rindu ini menjadi cambuk tersendiri bagiku. Menyiksaku untuk meminta temu dariku.
sayangnya, kita adalah sebuah kata yang tidak seharusnya hanya tertulis kemarin.
dimuat dalam web klubbuku.
kain satin usang
Kain satin yang
usang.
Kain satin
berwarna putih kecoklatan tergantung di dekat jendela.
Menghadap kaca
di sebelah utara.
Menyisakan wajah
dan telapak tangannya.
Sehari lima kali, dengan asa
limpah pahala.
Kain satin putih
kecoklatan termakan usia.
Polos dan
sedikit lusuh.
Ada harapan di berikan setiap kali senyumnya
muncul ke permukaan.
Di balik
kacamata minusnya, tersimpan kerut-kerut yang mendandakan usianya mulai senja.
Kain satin yang
di sebut mukena.
Simbol kemuliaan
hatinya.
Menemaninya
dalam simpuhan.
Saat ia
melantunkan sajak Tuhan yang paling indah, bernama Qur’an.
Kain satin
usang, menghiasi wajahnya yang sayu.
Membalut tubuh
Ibu setelah berwudhu
Dibawanya untuk
menghadap Mu.
Dengan doa yang
terbalut khusyuk.
Kain satin putih
kecoklatan, suatu hari aku pasti kuganti.
Subscribe to:
Posts (Atom)

