Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.
Showing posts with label eofuria. Show all posts
Showing posts with label eofuria. Show all posts

Monday, September 5, 2011

photograflove 6 :)

"Dianaaaa" seseorang menjatuhkan tubuhnya disampingku. ia meneriaki namaku dengan sangat girang. suaranya tidak asing bagiku. 
aku mulai membuka mata. dan sempat terngiang kejadian semalam. aku baru sadar kalau itu Kak Fahmy! wajah nelangsaku berubah menjadi segumpal senyum kecil dari mulutku. 
"kak mimi" begitu aku memanggil kakak ku. 
Kak Fahmy menerawang wajahku dengan pandangan prihatin. ia melihat wajahku yang sayu. 
"hey, kamu gapapa day?" aku menggeleng. 
pertanyaan Kak Fahmy seolah aku ini baru dilanda Tsunami. nyawaku mulai mengumpul. 
"kak mimi kapan datengnya?" yap! pertanyaan bagus! long time no see with Kak Fahmy. i miss you kak! begini ceritanya. Kak fahmy baru balik dari negara sakura. 6 bulan ia mengikuti pertukaran pelajar indonesia-jepang dan hampir 4 bulan ia mendalami sastra jepang. dan Kak Fahmy satu-satunya kakak ku. rumah jadi sepi tanpa kak Fahmy. makanya aku jadi yaa.. bisa dibilang jarang dirumah.
aku malah lebih sering ke Rumah Kakek untuk mengobrol dengan Fia. ya setidaknya aku jadi punya kegiatan.
"take of dari sana semalem. pas sampe dijakarta mampir kerumah temen dulu" jelas Kak Fahmy. biar bagaimanapun kehadiran Kak Fahmy menjadi big sureprize sendiri untuk ku.
aku membulatkan mulut begitu mendengar penjelasannya. pikiranku terngiang kembali. soal Papah yang begitu Over protektif pada anaknya untuk belajar.
aku bukannya tidak setuju dengan orang tuaku yang bertindak seperti itu. tapi, tanpa perlu di beri warning. aku juga akan melaksanakan kewajibanku sebagai pelajar. dan kalo di lihat lihat aku gak bego bego amat ko. buktinya aku masuk kelas XIII IPA 1 dan aku juga tidak pernah ketinggalan peringkat kelas. yeah kalo papah menginginkan lebih dari itu aku akan tetap berusaha.
"jam berapa kak?" tanyaku. kak Fahmy melirik jam di atas meja belajar, begitu juga aku.
"mati gue!" aku menepuk jidat. seperti abis melihat bencana 
Tornado di Amerika. 
JAM DELAPAN! 
aku mencari-cari handphoneku dengan gelisah. setelah ku temukan wajahku malah terlihat lebih panik. 
"udah siap day? kita udah nungguin dari tadi" sahut Lin setelah telepon diangkat. nampaknya ia jengkel serta bete. 
"Lagi packing, bentar ya" aku meringis. 
"oke" 
Kak Fahmy mengadah wajahku dengan sorot mata curiga. aku nyengir kehabisan akal untuk berkelit. 
"mau kemana?" akhirnya Kak Fahmy mengeluarkan pertanyaan yang membuat aku gelagepan. aku segera turun dari tempat tidur dan secepat kilat memberesi barang-barang bawaanku. sembari mikir jawaban atas pertanyaan Kak Fahmy. takut takut kalo aku nanti salah jawab Kak Fahmy malah bertindak yang diluar rencanaku pagi ini. apalagi kalo sampe ngadu sama Papah. haduh bisa gagal total ini. 
"Day?" Kak Fahmy melirikku dari ujung matanya. ia memanggilku untuk memastikan aku. sadarkah aku ini atas pertanyaannya? aku tidak ingin Kak Fahmy menggugat ideologiku seperti Papah! aku memasukan beberapa lembar baju kedalam koper yang berada di samping lemari. sebelumnya aku sudah berpesan pada Bi Inem agar menyiapkan koper di kamarku. aku berbalik badan melihat Kak Fahmy dengan expresi wajah yang masih menunggu jawabanku. aku menarik napas sejenak lalu menghembuskannya perlahan. aku tau denyut nadiku sedang tidak lagi normal. tidak! aku tidak sakit hanya saja perasaan khawatir serta takutku akan Papah yang bisa saja mencegah untuk pergi hunting. padahal seharusnya Papah mengerti ini impian terbesarku.
oke, mari mulai bicara. kali ini jangan berlogis-logis ria. tapi, sentuh perasaan Kak Fahmy!
aku mengembangkan senyum mautku. agar Kak Fahmy percaya bahwa adik kesayangannya ini tidak akan berbuat aksi anarkis.
"Kak Mimi sayang gak sama Day?" tanyaku dengan nada sehalus mungkin, seperti halusnya beledu.
Kak Fahmy membelalakan bola matanya. seolah itu adalah pertanyaan bodoh yang pernah aku ajukan untuknya.
ia memegang bahuku. lalu menatapku dalam. kalau seandainya ia bukan Kakakku pasti aku sudah kelepek-kelepek dibuatnya.
karena untuk ukuran seorang cowok. Kak Fahmy termasuk cowok yang gampang banget bikin cewek cewek bego sepertiku meleleh dalam hitungan detik. lalu Kak Fahmy tersenyum serta mengangguk.
"sekarang Kak Mimi tau, gimana hobby dan keinginan?" alisnya terpatri. lalu ia mengangguk setelahnya.
"bakat, hobby dan keinginan besar. yang selalu terkatung-katung diatas kepala kakak untuk mencapai kesuksesan, apa kakak hanya diam? sementara bintang itu menanti untuk di petik" aku tau gaya bicaraku sudah seperti Khalil Gibran. tapi seperti itulah gambaran nya hingga aku nekat begini.
"pergilah" ujar Kak Fahmy. yap! itu kata-kata yang ku nantikan dari Kak Fahmy. aku menebar senyum bahagia.
"biar aku yang tanggung jawab disini" kata-kata Kak Fahmy bagaikan superhero yang tengah menyelamatkan aku dari bencana alam serta ancaman maut.
senyumku kini haru..
"trimakasi kak, i'll always remember you. miss you"
"me too dear"
aku menyenderkan kepalaku pada dada Kak Fahmy. ia mengelus rambutku dengan segenap rasa sayangnya. momen-momen ini sudah lama tidak terjadi. dan aku sangat merindukannya. ternyata Tuhan menurunkan ia untuk menyayangiku. thanks god!
...

"aku pergi ya kak" pamitku setelah aku merasa telah siap untuk berangkat. aku juga tidak lupa untuk mandi lho!
"tolong rahasiakan hal ini sampai beberapa jam setelah aku berangkat" pintaku pada Kak Fahmy.
"siap laksanakan tugas pak!" serunya meledekku. aku memukul pelan bahu Kak Fahmy.
"thank you. i belive with you" ujarku riang.
"yeah, i sure"
dan aku merasa hidup kembali.
"jangan nakal ya, Kak Fahmy jauh dari kamu Day!" pesannya.
"okay" kataku bersemangat. Kak Fahmy mencium keningku. seperti kita akan terpisah lama. padahal aku hanya akan meninggalkan rumah dalam beberapa hari saja. memang kesanny Kak Fahmy agak 
lebay hehe. tapi aku cukup maklum kok dalam kondisi seperti ini seharusnya aku dan Kak Fahmy menghabiskan waktu berdua. entah hanya sekedar jalan-jalan. atau nonton bareng. yang pasti aku ingin bersamanya. tapi semua rencana itu mungkin akan ku tunda. sampai aku menyelesaikan hal yang satu ini. ambisiku terus berapi-api. 

aku mulai keluar kamar dengan celingak-celinguk. sebelumnya Kak fahmy sudah mendahuluiku ke luar kamar. sampai aku mendapatkan tanda aman dari Kak Fahmy. barulah aku mengendap-endap berjalan keluar. 
ya gak jauh bedalah sama maling kutang yang di peraktekan Dino kemarin. 
aku berhasil melewati kamarku, dan menuruni tangga dengan aman. meski aku tau, jalanku agak ribet. karena barang bawaanku kayak orang diusir dari kost-kostan. Kak Fahmy berjaga jaga di depan pintu ruang tamu. ia malah lebih mirip satpam perumahan hehe. peace! 
aku berpapasan dengan Bi Inem. aku sudah memprediksikan sebelumnya ia pasti akan bertanya "mau kemana?" hal yang seperti ini sudah ku wanti-wanti sebelumnya. tidak ada seper sekian detik aku berhasil membungkam mulut Bi Inem. lalu aku berbisik di telinganya.
"Bibi tanya sama Kak fahmy aja tiga jam kemudian, oke?" Bi inem mengangguk sepakat.
"sekarang Bibi mau bantuin Day gak?" tanyaku.
"mau" jawabnya dengan nada suara paling rendah.
"Bibi sekarang ke dapur, terus pecahin piring. satu plis!" aku bernada memohon.
"sayang piringnya atuh"
"gapapa Bi"
"nanti kalo disuruh ganti gimana?"
"nih buat gantiin piringnya. sisanya buat Bibi beli baksonya mang jaka!" seruku. aku menyodorkan uang 50ribuan kepada Bi Inem. sengaja aku melakukan tindakan ini. kita lihat gimana hasilnya!
"PRANGGGGGG!!!" akhirnya suara piring pecah terdengar dari dapur.
"ada apa Bi?" teriak Mamah dari ruang TV.
ini salah satu trik untuk mengalihkan perhatian orang rumah. aku menjajarkan tubuhku dengan bupet di sebelah tangga. dan lekas berdoa atau sekedar 
komat-kamit. semoga saat Mamah lewat. ia tidak menyadari keberadaanku. aku mendengar jelas langkah kaki Mamah. dan semakin mendekat. aku memepetkan tubuhku pada tembok. semepet mungkin. serta menahan napas selama sekian detik. setelah Mamah melewatiku. aku memastikan ia benar-benar masuk ke dalam dapur dan...

Kak fahmy melambaikan tangannya setelah ia mengantarku hingga aku masuk kedalam mobil Benny. napasku masih terdengar host host host.
karena aku setengah berlari hingga mulut komplek.
"ngapain aja si lo Day?" tanya Lin.
aku nyengir "kesiangan"
"fiuuuh dasar lo! gue udah nunggu seabad juga disini" protes Dino.
aku nyengir lagi. aku sendiri gak sadar kalo dari tadi expresiku cuma cengar-cengir. aku harap mereka masih menganggapku waras.
Benny yang menyetir mobil ditemani kekasihnya yaitu Dino. Lho? hehe.
aku dan Lin duduk ditengah. sementara.. ada kejanggalan disini ternyata. yaitu dengan kehadiran selly anak cheers dan tidak lain 
adalah pacarnya Rifky. ini sungguh diluar rencana. tapi kemungkinan-kemungkinan yang telahku analisa sangat kecil peluang untuk selly ikut hunting. pertama aku tau selly gak suka dunia photografi. kedua sell alergi traveling. dia bakal mabuk kalo terlalu lama didalam mobil. tapi ku rasa semua itu akan kandas begitu saja demi Rifky.
"Day, tadi lo tu dapet ijin gak si?" tanya Dino. ia menoleh kearahku dengan wajah penasaran.
"iya day, gue bingung. lo dianter abang lo tapi kok ya lari-lari?" tambah Rifky menyerangku.
"tapi kalo menurut gue si, Day pasti kabur dari rumah" putus Dino.
"kata siapa lo? sotoy banget. masa kabur bareng abangnya" sanggah Rifky.
"gue harap gak begitu" gumam Dino tanpa diayak. Lin segera memelototinya dengan galak.
Dino nyengir kuda. "sayang kan lin lima puluh ribu gue masuk dompetnya si gembel!" Dino mendongak kearah Rifky . ia belum juga tobat. wajah Lin tambah garang.
aku masih diam. tanpa peduli mereka.
"Makanya sob, kalo gak punya duit jangan berani taruhan. ah sayang deh tu duit lo!" ujar Benny.
yap. aku setuju sama Benny.
"Day?" panggil Rifky lembut. alisnya bertaut. aku tau ia menginginkan ku untuk segera menjawab. supaya pundi-pundi di dalam dompetnya bertambah.
Selly mencubit pinggang Rifky. ia merasa nada bicara Rifky terlalu lembut untuk berbicara denganku. dasar cewek tingkat cemburunya tinggi banget! aku tersenyum penuh kemenangan. aku sadar aku ini cewek. tapi perasaan cemburu itu gak kelewatan gitu. lalu pikiranku berkelana teringat saat aku bersama Jimmy. dan bahkan aku sendiri gak bilang kalo aku akan pergi keluar kota. Jimmy pasti marah.
"bokap gue tetep gak ngasih ijin" aku segera tersadar dari lamunanku.
"tapi Kak Fahmy yang tanggung jawab atas gue" jawabku sejujurnya.
Lin menatapku cemas.
"nah gue menang!" seru Dino puas. sementara reaksi Rifky mendadak kecewa.
"limapuluh ribuku sayang. muach. bye bye!"
Rifky menciumi kertas biru yang ditandatangani gubernur Bank Indonesia sebagai tanda perpisahannya.
"ah lebay lo! sini buruan domet gue udah kangen nih sama yang biru-biru" ujar Dino. Benny ikut terbahak. sementara aku menggigit bibir bawahku seraya menyunggingkan senyum muram ke arah Lin.
ia mengangkat sebelah alisnya. wajahnya seolah mengingatkanku untuk lebih serius lagi menghadapi masalahku. kesannya aku seperti main-main di mata Lin.
"tenang aja. gue gapapa kok" ucapku tenang.
"tapi Day seharus..."
"Lin!" aku segera menyanggah kalimat Lin.
"Day, lo yakin?" Benny menatapku melalui kaca diatas dasboard mobil.
"iya" jawabku.
"apa lo masih mau berubah pikiran? gue bisa puter balik kalo lo mau" imbuh Benny. yang lain menatap kearahku termasuk selly yang tidak mengetahui seluk beluk permasalahannya.
"i sure. jangan khawatir guys! gue gapapa" aku meyakinkan mereka sekali lagi. Benny mengangguk. Lin tak berkedip. dan Dino ber-ooo-ria. 
wajah Lin makin mencemaskanku. 
"Lin.. gue baik baik aja" aku mengusap bahu nya. disatu sisi Lin juga termasuk pengidap melankolis. 
setiap tiga jam sekali kami berhenti. itu karena permintaan dari Selly. ia tidak tahan terlalu lama berada di dalam mobil. 
disini Benny sangat piawai dalam hal menyetir itu patut ku acungi jempol. ini bukan perjalanan yang singkat dan akan memakan waktu yang cukup lama. perjalanan sudah hampir empat jam mungkin Benny terlalu kuat menginjak pedal gas. sehingga pemandangan sekelilingku sudah terlihat secara jelas. 
dua jam berikutnya aku dan lin tertidur. sementara Selly sudah tidur dari jam pertama setelah berangkat. aku yakin Rifky menyiapkan obat anti mual untuk pacarnya itu. 
Dino disini berperan menjadi second driver. ya setidaknya untuk menggantikan Benny bila ia merasa lelah. 
saat aku terbangun hari sudah gelap. tapi kami masih dalam perjalanan. ternyata perjalanan malam lebih menyeramkan serta mengerikanditambah kami melewati jalan-jalan yang curam. disaat seperti ini aku harus mengumpulkan segenap keyakinanku untuk berpositif thinking. kami akan baik-baik saja. bagaimana juga ancaman bisa datang kapanpun. aku merogoh kantung celanaku untuk meraih handphoneku. Jimmy tidak henti-hentinya mengirimiku pesan singkat. aku membacanya satu persatu. dan tanpa membalasnya. ia mengkhawatirkan aku. Jimmy saja tidak ku beri tahu soal ini. jadi wajar kalau ia bertindak seperti ini.
dan memikirkannya membuat dadaku nyeri oleh kehampaan. aku segera memasukan handphoneku kembali.
"udah di daerah mana kita?" Lin mendesah. mengucak matanya.
"kebumen" jawab Dino.
lalu tak ada sahutan lagi dari Lin. mungkin ia melanjutkan tidurnya.
kini gantian Rifky yang menyetir. ditemani oleh Selly disampingnya.
sementara Benny dan Dino pindah ke kursi belakang.
jam di dasboard mobil menunjukan pukul 19:00 malam. tapi terasa jam 2 pagi. kami melintasi beberapa   

Monday, August 29, 2011

photograflove2 :)

entah ini yang dinamakan kabur dari rumah atau apalah namanya. mungkin dengan seperti ini kondisiku menjadi lebih baik. dan aku tidak lagi kesal dengan orang tuaku. sungguh durhakanya aku. bila itu sampai terjadi. 
"halo bi.." aku menelpon rumah. dan ternyata sesuai harapanku bi inem yang mengangkatnya. "iya, ini day.." sambungku. 
"oh non diana!" 
"ssttt... bi! jangan keras keras ngomongnya. nanti papah sama mamah tau" aku berusaha membungkam mulut bi inem biar gak berkoar koar. 
"maap deh non, ada apa non diana?" tanya bi inem kali ini setengah berbisik. 
"begini bi" kataku. aku berusaha membenarkan posisi tidurku. "day mau minta tolong... hemm buku buku pelajaran besok disiapin ya bi, baju sekolah, kaos ganti, juga kamera yg ada di sebelah laptop, nah semuanya bibi masukin ke dalem tas sekolahku yang warna coklat. minta tlg pak udin juga buat nganterin ke rumah kakek ya bi" 
"iya non, jadi non diana dirumah kakek?" nada bi inem seolah baru menemukan nazrudin yang menjadi buron selama ini. 
"iya bi, tapi bibi jangan buka mulut dulu ya!" dan aku juga ikut ikutan berpolitik seperti gayus yang menyuap polisi supaya bisa kabur ke bali. cuma bedanya aku gratisan. gak kayak gayus yang selalu bisa mandi duit! 
"sip deh, bibi pura pura gatau aja ya non!" 
"makasi ya bi, diana tunggu pak udin dan tas nya." 
"iya non" 
"klik" 
aku menutup telpon nya, satu masalah teratasi dengan mudah. besok aku tetep bisa berangkat ke sekolah. 
... 

apa papah dan mamah tidak mengkhawatir kan aku ya? mereka tidak sama sekali mencariku. setidaknya ada tanda tanda kekhawatiran mereka di handphone ku. aku mengaduk-aduk mangkuk serealku. 
"mikirin apa day?" tanya fia yang baru keluar dari kamarnya. ia duduk tepat di hadapanku. mengambil beberapa roti dan mengoleskannya dengan selai coklat favoritnya. 
"eh, enggak ko. kakek sama nenek mana?" tanyaku mengganti topik. fia ber deham sejenak.
"tuh didepan lagi mandiin si jelek. kalo nenek aku gatau deh" aku ber-ooo ria.
si jelek yang dimaksud fia adalah motor vespa tahun 80an.
"eh iya fi, kamu mau ikut gak nanti sore ada pameran camera lho" ajakku pada fia yang tengah menggigit potongan rotinya.
"dimana?"
"gallery cipta dua"
fia manggut-manggut.
"coba deh liat nanti sore. kamu tau sendiri dosen matematika ku kayak apa sangarnya?" brrr... galakan mana ya sama bu ida? guru bahasa inggrisku yang brekele tapi ga kawin kawin. aku rasa kalo mereka berdua dijodohin cocok kali ya?
"oke, kalo kamu mau nyusul aja ya, eh iya aku duluan ya sist, udah setengah tujuh. kalo terlambat bisa berabe nanti" aku lekas meraih tas coklatku yang semalam diantar oleh pak udin.
"bareng aja day, aku juga mau berangkat" pinta fia.
"yaudin, yok!"
aku mendului fia keluar rumah. ternyata benar kakek lagi mandiin si jelek.
"kakekkk.. aku sama fia berangkat yaa.." aku setengah berteriak.
kakek mengajukan jempolnya. dan tersenyum ke arah aku dan fia. aku segera masuk ke dalam Jazz biru fia. sepupuku yang satu ini memang orangnya selalu asik, smart, dan menarik. she's not beauty but aku suka dengan sifatnya yang familiar. itu point penting dari diri fia. makanya aku betah tidur dikamar fia hehe.
fia pun melajukan mobilnya.
"tengkyu ya" kataku selepas turun dari mobil fia.
"okay. yok duluan" fia melambaikan tangannya dari dalam. aku mengangguk cepat.

camera siap, baju ganti siap, sepatu cats siap, oke nanti sore aku siap ke pameran camera. aku baru saja menghempaskan diriku di bangku. dan tanpa ku sadari Jimmy sudah menungguku dikelas sejak pagi.
"kemarin kemana?" pertanyaan jimmy menyelidik.
"gak kemana-mana" aku menggeleng.
"tapi kamu gak ada dirumah" desis jimmy. bolamatanya mengelang. seakan siap menerkamku tiada ampun.
"siapa suruh dateng kerumah!" aku makin kesal dibuatnya. kalau saja jimmy bukan pacarku pasti sudah ku lempar ia kedasar laut!
"hp mu kemana?"
kok jimmy nanyain handphoneku? oh... aku baru ingat.
"hp ku ketinggalan dikamar fitri" jawabku santai.
"sudahku duga, kamu pasti kabur dari rumah!" nadanya tambah berang! nyaris membuatku meringis. ternyata pertengkaran kami menjadi tontonan rakyat sekolah. ini bukan terjadi sekali duakali. tapi ini yang kesekian kalinya. entah kenapa, aku selalu salah dimata jimmy.
"memang kenapa? apa itu menjadi urusan kamu?"
"tentu!"
"jangan sok mencampuri urusanku lah" desisku..
"errrhh" Jimmy menggeram. "keras kepala kamu day!"
aku tidak menggubris omongannya. percuma saja berdebat dengan orang macam dia. gak akan ada habisnya. yang ada malah bikin aku emosi. sabar sabar day .
...

"udah siap?" tanya dino. aku mengangguk diikuti oleh senyuman Benny.
"lin mana?" benny celingak celinguk mencari lin.
"ganti baju" jawabku seraya mengikat tali sepatu cats ku.
"Rifky gak ikut sob!" ujar dino. aku mendongakan kepalaku. dan sebuah pertanyaan tersirat dalam garis wajahku.
"biasa, selly ngambek lagi" dino berhasil menjawab pertanyaan dalam benakku. lalu aku membulatkan mulut. ooo...
Rifky memang pengalah si. apalagi kalo selly lagi ngambek. semua akan dibatalkan demi pacarnya itu. walaupun aku tau banget. si penggila polaroid itu ingin sekali datang ke pameran, coba Jimmy bisa kayak Rifky yang selalu jadi the best boy for selly.
"mau kemana?" tanya Jimmy sinis. ia mengarah ke wajahku. bener kata penulis komedian : raditya dika "datang tak diundang pulang tak berkutang" tapi Jimmy kan gak kutangan hehe.
"gallery cipta" jawab dino santai sekaligus mewakili jawabanku.
"orang rumah tau?" tanya Jimmy dengan nada 
introgasinya. aku menggeleng. 
"kalo gitu kamu ga boleh ikut!" sergahnya. 
yang lain memandang kami. Benny meringis kesal. ia mengeratkan kepalan tangannya. 
"tapi fia tau kok!" ujarku 
"fia lagi fia lagi ckckck" Jimmy berdecak decak. "emang fia itu ibu kamu!" 
matanya kembali memancarkan suatu kesinisan padaku. 
"sekarang aku tanya" aku mengumbar senyum licik. "memangnya kamu itu papahku? seenak jidatnya melarangku pergi" kali ini aku gak tinggal diam. gak perduli dengan benny dan dino yang melihat pertengkaran kami. persetan dengan jimmy. yang aku lakukan ini bukan tindakan kriminal kok. lagi juga aku gak ada tampang copet pasar senen. aku hanya melakukan hal yang kusukai. hanya sebatas itu. apa aku salah? ku rasa tidak! dan aku tidak pernah melibatkan siapapun termasuk pacarku sendiri dalam hal ini. 
"ayo kita berangkat!" seru Lin melengang disampingku. lin memang tidak menyadari kehadiran jimmy yang masih garang. dan dia tidak ta
perkara antara aku dan jimmy yang baru saja berlalu. tapi nada semangat lin memecahkan atmosfer ketegangan yang mengelilingi kami.
"oke. yuk cabut!" seruku tak kalah bersemangat. aku dan lin melengang bersamaan. diikuti oleh benny dan dino. sementara jimmy tak aku hiraukan sedikitpun. biarin aja dia disana. sukur sukur gak membatu kayak malin kundang. tidak berperasaan!
inova milik benny sukes mendarat di parkiran TIM. aku segera turun membawa backpack camera saku ku yang berwarna merah marun. lin membawa toshiba camileo H30nya.
benny dan dino membawa versapack sebagai bag dari camera yang dibawa. kami memasuki pintu gallery. sepanjang pintu masuk banyak terpasang balileo, poster, slogan serta banner yang meramaikan area gallery.
photokina adalah ajang pameran fotografi, dimana para produsen dunia foto-video memamerkan produknya. acaranya digelar dua tahunan. di berbagai tempat. dalam arti tidak hanya satu tempat. 
emungkinan akan berpindah ke tempat lain. kebetulan tahun ini digelar digallery cipta 2. tempatnya sangat memungkinkan untuk dijangkau oleh para photografi pemula sepertiku. acara ini bukan hanya sekedar memamerkan produk produk baru didunia foto video saja, melainkan juga menarik para penggemar foto video karena banyak work shop, event fotografi dari seluruh indonesia. biasanya pada saat seperti ini para produsen saling berlomba untuk memamerkan sekaligus mengadu produk produk. mereka baik dari segi teknologi maupun bisnis. pameran ini dibanjiri new produk dari berbagai macam pabrik foto dan video. camera camera yang menyilaukan bagi mata seorang penggila fotografi terpajang pada frame kaca khusus di sepanjang lorong gallery. di sudut sudut dan beberapa dipajang ditengah untuk yang new mode. 
seperti sony alpha 560 dan sony alpha 580 seri 5xx hadir dengan sensor baru, video full HD serta feature 3D yang swing panorama.

Wednesday, June 22, 2011

lost sms with fahmy

udah hampir satu minggu @fahmyhamidy gak sms gue. tu orang entar ngabur kemana gue gak tau. mimi i mis you heheh. sebagai sahabat gue pantes dongnyariin sohib tercinta gue #halah tercinta
gue dengar mimi ikut lomba http://www.facebook.com/fahmy.alhamidy1/posts/176485222412430 semoga berhasil ya. heheh ni orang nganenin si. dia adalah tempat curhat gue. gatau kenapa gue euforia banget pas sama fahmy heheh. buat siapapun yang jadi pacarnya fahmy jangan cemburu yaaa.  semangat ya mimiiii gue dukung lo!

Monday, June 20, 2011

for someone yang baru gue kenal (belom kenalan sih)

banyak banget orang yang emang terispirasi sama @radityadika yang dengan mukzizat ketololannya dia bisa nulis cerita-cerita kocak. dengan membaca sejumlah karyanya sumpah semua tulisannya bikin semua isi dalam perut gue goyah! bahkan usus-usus gue pun pada cekikikan gara2 ikut baca ceritanya. and now setelah gue baca http://saputrafijai.blogspot.com/ gue ikut ngakak juga.yang punya namanya Fijai Saputra di pacebok. gue nemuin namanya di wall nya bang dika setelah gue analisis dan ngubrakngabrik bloggernya. ahirnya gue bisa menyimpulkan kalo @saputrafijai pengen kayak bang dika hahaha oke2 kalo elo punya keinginan kayak bang dika meskipun dengan ketololannya elo harus terusin tuh karya lo. who know? bisa kayak bang dika. masih ada seribu dika kok :) god bless us

Thursday, June 9, 2011

rahasia bintang

judul :rahasia bintang
oleh: dyan nuranindya


Sejak ditinggal sahabatnya waktu kecil, Keysha nggak percaya lagi yang namanya sahabat. Baginya lebih baik mencari banyak teman daripada satu orang sahabat. Tapi semua berubah ketika dia mengenal Aji - cowok berandal, brengsek, tukang bikin onar, dan terkenal playboy di sekolah. Sejak mengenal Aji, setiap hari Keysha selalu jantungan menghadapi semua perilakunya yang gampang emosian. Apalagi ditambah musuh-musuh Aji yang jumlahnya bejibun. Keysha jadi merasa tidak aman dan terancam. 

Tapi bagaimana jadinya kalau ternyata cowok brengsek macam Aji justru menaruh kepercayaan besar pada Keysha sehingga ia berani menceritakan rahasianya yang paling dalam? Dan apa jadinya kalau orang seperti Aji akhirnya jatuh cinta pada Keysha?