Aku meniti sebuah pigura, kuamati baik-baik.
Sebuah foto yang berhasil menyeretku pada kenang pilu. Yang berhasil ku rekam dalam potongan ingatan.
Kau tau waktu itu, senyum merkah di sudut bibirmu seraya menatapku. Berkali-kali tatapanmu menggodaku untuk bicara, entah apa yg ingin kubicarakan aku tidak peduli aku hanya ingin menatapmu lebih lama.
Aku ingat saat kita menggantungkan harapan-harapan itu dalam genggaman tangan. Atau saat aku menaruh lelahku pada bahumu, sebentar. Dan sepatumu selalu berjalan beriringan dengan sepatuku.
Hari itu aku sangat bahagia, aku mengerti bagaimana caranya berbagi. Aku mengerti bagaimana caranya memberi tanpa diminta. Aku mengerti, sungguh.
Namun..
Jika pada kenyataanya kamu terlalu rumit untuk di pikirkan. Maka, adakalanya aku berfikir untuk melepaskan.. Padaakhirnya, kita akan saling 'menemukan' entah siapa yang lebih dulu.
Apakah setelah ini kita akan berpisah? Tak saling kenal satu sama lain, menghabisi rindu dengan berpura-pura menjadi orang lain?
Apakah semua hal yang pernah kulakukan untukmu tidak pernah ada artinya?
Mungkin iya, sebab aku tidak pernah meminta kau mengasihi.
Aku tidak pernah hebat dalam hal apapun, aku yang tidak pernah pintar berpura-pura, dan aku yang tidak pernah berarti dimatamu ini sedang berusaha mengenyahkan segala pikiran tentangmu.
Tapi.. Pigura ingatan ini selalu membawaku kembali padamu.
Haruskah aku kembali?
Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.
Monday, August 28, 2017
Friday, July 21, 2017
Pamit (Sebab yang sembab)
Jika kau hapus aku dalam hidupmu. Seketika itu juga mungkin aku akan hilang. Lenyap. Dengan mudah.
Namun, jika aku yang menghapus kamu dalam hidupku, mungkin aku yang pandai bilang kemereka bahwa kamu sudah hilang. Dan menutupi segala perasaanku yang tak bisa menghilangkan kamu dari hidupku. Lalu berpura pura bersikap bahwa aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja tapi sebenarnya tidak.
Iya, perempuan selalu menutupi perasaannya. Seluruh selukbeluk rasa sakit hatinya.
Kini Kubiarkan kita berjalan masing-masing. Terpisah pada garis. Aku dengan harapku dan kamu dengan egomu
Mungkin, ada bahu lain yang lebih nyaman dari bahumu.
Mungkin juga, ada dada yang lebih bidang yang lebih hangat untuk memeluk.
Tapi apakah pencarian akan berujung pada kesempurnaan?
Apakah aku harus mencari lagi, memahami lagi, mencari tahu lagi seluk beluk yang lain. Sementara menerimamu adalah hal yang paling ku kilah.
Andrea, banyak jika dan maka yang selalu berpasangan. Karena mereka saling keterkaitan dan saling menemukan. Jika kau adalah jika dan aku adalah maka, apakah kita akan terkait seperti sebuah kalimat terangkai yang ditulis oleh bolpoint? Sulit terhapus.
Melupakanmu.
Sebab tidak seutuhnya aku bisa. Bisa ku ulang memori otakku untuk menghapus segala kenangan yang telah kita buat. Sudah kujelaskan berulang ulang bahwa aku tidak mudah. Tidak semudah kamu melupakanku.
Waktu yang terus berputar ini tidak akan mengizinkanku membuat jeda. Pertemuan dan perpisahan membuat seluruhnya terasa bergejolak.
Jika kau ingin pergi. Maka aku yang akan lebih dulu pamit. Aku akan merelakan segala hal ada. Melupakan semua hal yang pernah kulakukan untukmu, tapi mengenang semua hal baik yang kau lakukan untukku.
Jika jalan kita memang berbeda, aku akan selalu berusaha menghapus sebab yang sembab yang tertuang oleh bulir dari sudut mata.
Maka, sulit rasanya. Iya, kau benar. Sekalilagi, kau benar. Dan aku selalu di ambang kesalahan.
Lalu, bagaimana kata maaf bisa menghapus semuanya.
Dan setelah ini, biarkanlah aku dengan hatiku. Perlahan. Menata satu persatu lagi. Biarkan aku membawa pulang puing-puing yang berserakan sebagai tanda perpisahan.
Sunday, July 9, 2017
Ketidakmengertian
Kupikir selama ini dengan jeda yang begitu lama kita bisa memahami arti jarak yang membentang yang membuat aku hampir kesulitan menata hatiku.
"Aku ingin sendiri," balasku. Tapi rasanya hatiku mengatakan yang berkebalikan. Aku justru menginginkan ia disini. Menemaniku.
Kulihat rasya menggeleng. Bibirku mulai gemetar. Aku berlari di tengah-tengah arus kendaraan. Rasa sakit ini mulai memenuhi tubir dada. Aku merasakan sesak yang begitu amat.
"Kalau kamu pikir kamu bisa hidup tanpa aku, pergilaah," aku tak yakin rasya sungguh-sungguh mengatakan hal itu.
"Iya, baik. Aku akan pergi. Aku tidak akan lagi menunggumu dan berharap," kataku, aku hampir saja kehabisan suara. "Kamu egois, rasya," lirihku pelan. Tapi cukup menusuk rasya.
"Aku tidak mengerti kenapa perempuan selalu dikelilingin atom negatif di kepalanya. Sedangkan aku harus selalu mengerti mereka tanpa mereka memberi tahu apa yang mereka mau," aku tak melihat sedikitpun senyum di bibirnya. "Itu sebuah kecurangan,"
"Mereka memang diciptakan seperti itu," aku tidak mengerti lagi apa yang kubicarakan.
"Kina, kumohon jangan seperti ini. Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan."
Dan akhirnya aku juga tidak mengerti apa yang kuinginkan, rasya. Aku hanya ingin bersamamu. Meski kadang mengatakan hal itu lebih rumit dari kalkulus. Perasaan itu seperti anak kecil yang merengek minta mainan baru. Tidak mau tahu. Dan egois.
Aku menggeleng, rasya terlalu sibuk untuk bertemu denganku sekarang. Bahkan sebentar saja.
"Rasya, aku selalu berpikir bahwa bersamamu adalah rasa bahagiaku, tapi jika menurutmu itu sesulit ini, aku tidak akan berada disini," aku mulai kesulitan bernapas.
Entah mengapa, aku harus bertahan selama ini. Entah mengapaa aku yang harus menunggu rasya hingga bertahun-tahun. Sebab masih ada sebab yang membuatku terus bertahan. Salah satunya: sebab aku jatuh cinta padamu meski telah berkali-kali.
Kupikir melupakan seseorang tidak semudah yang dibicarakan orang orang. Hujan sejak tadi melumuri sekujur tubuhku. Hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah memendam perasaan.
Rasya, setelah banyak hal kita lewati bersama. Setelah banyak hari yang hadapi dengan menutupi seluruh perasaanku. Apakah ada satu waktu dimana kita bisa bersama. Dimana cinta itu menjadi atmosfer setiap pertemuan kita?
Aku merasa luapan emosiku kini berubah menjadi bulir air mata.
Aku tidak mengerti. Sungguh. Aku tidak mengerti mengapa hal ini harus terjadi padaku. Kutemukan Rasya yang tidak lagi bicara. Ia hanya menatapku kosong. Sedangkan aku selalu mencari kemengertian dalam setiap sudut wajah rupawannya.
Aku berlari.. Aku ingin pergi sejauh mungkin. Jika waktu dan jarak bisa mengubah perasaan. Aku akan melakukan hal itu. Tapi nyatanya, sejauh apapun aku berlari. Aku tidak menemukan titik temu dimana aku harus berhenti.
Hingga akhirnya sebuah mobil sedan hitam menabrakku, "Kinaaaaaaaa!!!" aku mendengar jeritan rasya.
Rasya berlari dan menghampiri kakiku yang berlumuran darah. Dia paham sekali aku takut dengan cairan berwarna merah itu. Sejak kecil aku mudah jatuh, entah tersunduk karang atau berlarian ketika bermain sepeda. Dan sekali lagi, rasya yang selalu menyelamatkanku. Ia penyelamat bagiku seperti halnya superhero tanpa kostum.
Darah mulai menjalar di sekujur kakiku, alih-alih aku tersenyum dan sibuk mengamati wajah rasya yang khawatir. Sudah empat tahun kita terpisah. Sudah sekian lama aku mengamati senja seorang diri dari balik dek-dek kapal milik nelayan.
Aku sungguh kangen rasya. Iya. Kangen berat.
Ketidakmengertian ini membuat banyak hal menjadi semu. Sudah kah kita mengatakan satu hal yang memperjelas semuanya?
"Kamu pasti akan baik-baik saja, kina, Sayang," rasya tidak bisa menyembunyikan khawatirnya. Ia memeluk tubuhku. Aku masih bisa mendengar sebuah sirine yang meraung-raung tidak jauh dari tempatku. Aku memegang tangan rasya.
"Banyak yang tidak aku mengerti," lirihku. Dan akhirnya semua tidak lagi terlihat. Gelap.
Aku tidak bisa lagi melihatnya.
Monday, May 1, 2017
Perempuan yang bermata sendu.
Pagi ini aku terbangun di kamar ibu. Aku melihat samar-samar wajah ibu. Aku baru ingat, aku sampai di rumah sekitar pukul tiga setelah hari-hari panjang yang kulalui dan harus kupertahankan sendiri.
Melihat senyum diantara wajah lelahmu bu, ada sedikit rasa getir bercampur haru. Ada yang menyayat hati dan bertanya-tanya. Mengapa kita harus berada dalam jarak sejauh ini..
Banyak hal yang kupelajari darimu, aku sangat bahagia. Kau tidak perlu menjadi wanita karir yang selalu sibuk diluar. Dari kecil, aku selalu mendapat didikan darimu. Aku ingat tanpa harus bersekolah tk, kau orang pertama yang memberiku pensil dan buku, menggoreskan abjad namaku. Mengajari aku membaca hingga mengaji. Hingga aku hafal doa sederhana untuk mendoakanmu.
Setelah aku beranjak dewasa, kau yang mengajariku menutup aurat. Kau bilang padaku bahwa aku harus menutup auratku dari lelaki. Aku ingat saat itu aku sedang kesakitan karena datang bulan pertama. Bahkan, kau mengajariku bagaimana caranya memakai pembalut.
Kau pula yang mengajariku berbagi. Saat memberikan sesuatu yang kita punya, bahkan cara terbaik berbagi adalah memberi sesuatu yang berharga dan yang orang lain butuhkan.
Suatu hari, saat senja mulai meninggalkan langit jingganya. Ibu, aku dan adik-adik bercengkrama, bercanda-canda seperti biasa, ditemani wedang dan rebusan singkong kesukaanku. Ibu bilang, bahwa rezeki yang kita dapatkan seperti orang yang memancing ikan. Untuk menikmati gurihnya ikan di goreng, ikan harus di cuci dulu, di buang sisik dan isi perutnya, lalu dimasak. Itu cara terbaik mengolah ikan agar bisa dimakan.
Ibu mengaitkan hal itu dengan rezeki, kita harus pandai berbagi, pandai mengikhlaskan apa yang sudah kita berikan pada orang lain. Ada hak orang lain dalam setiap rupiah yang kita dapatkan.
Aku masih ingat itu.
Bu, setelah banyak hal yang kita lalui bersama. Hingga aku sedewasa ini, hingga suatu hari aku merasakan pahit getir hidup. Aku selalu ingat bagaimana caramu mengayangi kami, enam anak dengan kasih yang sama. Aku selalu ingat bagaimana caramu memperjuangkan kami hingga kami bisa bertahan hidup. Iya kau selalu mengingatkan cara hidup sederhana, kau selalu mengingatkan ingat masih ada hari esok yang akan kita jalani dan kita perlu makan.
Bu, entah terbuat dari apa hatimu. Kau sangat baik. Aku tidak ingin melihat mata sendumu. Sungguh tak ingin.
Rasanya, aku ingin selalu di dekatmu. Melihatmu setiap pagi untuk kucium tangan. Untuk ku pijat kakimu saat kau kelelahan. Kadang aku iri dengan teman. Aku yang selalu memuji masakanmu setiap hari. Apapun yang kau buat adalah gizi bagi anak-anakmu.
Ibu adalah dokter ketika aku sakit
Ibu adalah chef handal ketika sedang masak
Ibu adalah guru kehidupan yang selalu mengajariku bagaimana caranya kuat. Meski sering kali aku lemah. Namun aku selalu berpura-pura kuat.
Ibu, kau segalanya.
Kau yang selalu menelponku pagi-pagi, membangunkanku. Siang untuk mengingatkan makan dan solat disela-sela pekerjaanku, atau malam-malam saat aku masih saja berkutat dengan layar monitorku dengan segudang pekerjaan. Ya, terkadang aku lelah, dan jika lelah tubuhku selalu meminta istirahat dengan mengisyaratkan demam. Lalu kau ngomel-ngomel.
Tapi aku bahagia bu, meski hanya mendengar suaramu di sambungan telepon.
Kau yang membuat aku hingga detik ini mempertahankan hidupku yang sekarang. Aku selalu ingat aku punya adik yang menjadi tanggung jawabku. Meski yang jadi taruhan adalah tidak bertemu denganmu.
Bu, kau tahu? Aku tidak pernah tahan dengan perpisahan. Aku tahan melihat adik paling kecil menangis saat aku harus pergi.
Dan tangisku selalu pecah di dalam bis yang membawaku ke kota penuh keegoisan manusia.
Dari aku.
Sunday, April 9, 2017
Tuesday, April 4, 2017
Harap pada matamu
Ketika kita bertemu. Dan aku menemukan tatapan itu. Harapan kembali muncul. Aku merasa bahagia. Aku merasa bahwa aku adalah bagian darimu. Dari hidupmu.
Tapi ketika aku tak melihat sorot mata itu.
Semua yg awalnya kupikirkan. Hilang.
Tidak pernah ada aku, dalam hidupmu.
Tapi ketika aku tak melihat sorot mata itu.
Semua yg awalnya kupikirkan. Hilang.
Tidak pernah ada aku, dalam hidupmu.
Saturday, April 1, 2017
Kepada kamu yang sudah lama meninggalkanku..
![]() |
| Gambar diambil dari webtoon |
Dear alsero cheri.
Kupikir, dengan menghilangnya aku dari hidupmu. Aku akan semakin cepat melupakanmu. Tapi nyatanya tidak.
Aku tidak peduli postingan ini kau baca atau tidak. Sungguh aku tidak peduli.
Sudah banyak hari yang kulewati tanpamu. Dan aku selalu berpura-pura kita tak pernah ada. Atau mungkin kau juga melakukan hal yang sama? Setelah kau goreskan kenang pada masalalu kita. Saat aku baru saja jatuh cinta, aku harus kehilangan.
Sebagaimana, pelukan yang kau sudahi kemarin belum selesai tawar menawar dengan rindu.
Waktu itu, hujan turun di hari minggu pagi.
Aku menunggumu di persimpangan jalan. Berharap hujan mereda dan kau segera menjemputku.
Waktu itu aku masih terlalu muda untuk percaya kita akan bertemu lagi.
Waktu itu juga, aku masih terlalu bodoh untuk mengiyakan semua hal yang kau katakan padaku.
Tentang janji kita. Janji dua orang yang berseragam putih abu-abu.
Memang itu hal yang paling indah kurasa. Tak ada tempat yang saat ini kubilang nyaman selain bahumu.
Alsero cheri, kukira melupakanmu hanya akan memerlukan waktu yg tidak begitu lama.
Tapi luka yg belum sembuh itu-yang kupendam dalam-dalam kini mulai terasa pedih. Kupikir aku masih baik-baik saja.
Malam sebelum perpisahan denganmu, aku mencoba berkali-kali menghubungimu. Lalu yg kudapat bukan kepastian.
Dan di sana, aku mulai belajar merelakan. Merelakanmu.. Namun itu tidak mudah.
Kau benar, saat hujan berhenti. Payung biru tua menghampiriku. Aku melihat sekilas senyummu.
Senyum kamu yang kusayang dahulu dan (mungkin) hingga sekarang.
Sudah banyak waktu yg kulewati tanpamu. Aku akan tetap bilang bahwa aku baik-baik saja. Kini aku beranjak dewasa. Dan banyak hal yang tidak kamu ketahui.
Kita akan baik-baik saja. Meski tidak bersama.
Aku bahagia mengetahui kabarmu.
Dan itu yang membuatku menuliskan surat ini.
Sekali lagi, aku tidak pernah berharap kamu membaca ini.
Cheers,
Mademoiselle.
Subscribe to:
Posts (Atom)


