udah lama gak curhat di postingan ini. mau cerita dikit ah. *semoga gak ada yang nimpukin*
minggu lalu saya datang ke jakata, dan bertemu dengan seseorang yang sudah lama sekali ingin saya temui. kami janji bertemu di suatu tempat. gramedia. tempat di mana orang-orang doyan baca. biasanya kami berkomunikasi lewat sms, twitter, facebook dan blog atau sesekali kami bertelpon jika ada sesuatu yang ingin kami diskusikan (sebetulnya sih bukan diskusi tapi curhat hahahahhaha). saya mengenalnya hampir setahun belakangan ini. kami sama-sama menyukai dunia sastra dan kepenulisan. well, dia adalah patner menulis yang asiik banget, kami berkolaborasi dalam berbagai macam jenis karya tulis, mulai dari 30 hari menulis surat cinta (sumpah ini banyak banget yang nanyain kalo kak di itu pacar gue, dan pas di tanyain begitu gue malah ketawa ngakak.) kemudian cerpen, (walaupun di sini cerpen kita gak lolos tapi seneng banget bisa nulis bareng) atau sengaja mentionan di twitter dengan bahasa nyastra (dia manggil gue Nona, gue manggil dia Tuan,) *gak penting*
nah kemarin ketemu orangnya yang baru aja lulus skripsi (sayang banget gue kagak dapet traktiran, -_-) penampilannya anak band banget. kalo dari stylenya gue jadi keingetan pasha ungu (ovie mengkhayalnya tinggi bet) cuma gantengann pasha lah *dijambak semua admin blogger*
ah dia masih saja menyinggung soal kak **i. padahal aku.. hehehhe. setidaknya senang mendengar kabarnya yang sudah kembali menulis lagi. :)
nah di sana (gue lupa dah tuh tadi nyampe mane?) oh iya di garmed, *(lho kok ini tadi di atas saya jadi gue?* udah biarin aja ovie emang ababil. kita nyari buku, setelah muter-muter, menimbang-nimbang mana buku yang cocok buat ababil kayak gue, dan akhirnya nemu bukunya indah hanaco dengan judul "meragu"
abis itu kita duduk berdua, lu tau gue ngapain sama kak dii? ini dia sesi orang gilaaa.
doi cerita kalo doi lagi nunggu sidang dan lagi pedekate sama cewek. ciyeee ciyeee. dan pas pulang dia nganterin gue sampe stasiun kereta dan gue salim sama dia. wkwkwkwk. udah ah segitu aja curhatnya. gak semua postingan gue ngegalau kan? sebetulnya mah yang nulis agak-agak pe.a gitu. XD
sampai jumpa di postingan gajelas berikutnya.
ps: jangan lupa sediain kantong kresek. biasanya yang baca postingan gue mau muntah. :3
Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.
Saturday, September 14, 2013
Love is blind
Semuanya
terlihat gelap. Aku meraba-raba sekelilingku, mencari tempat berpegangan untuk
bangkit dari tempat tidurku.
“Adira..”
aku menemukan suara yang selalu akrab dengan indera pendengaranku. “Aku kira,
kamu sudah tidur,” lanjutmu menghampiriku.
“Kan
aku selalu menunggumu pulang kantor,” ucapku sambil tersenyum lalu aku
merasakan kecupan lembut yang mendarat tapat di keningku. Kamu mulai membelai
rambutku dan memelintir ujungnya dengan gemas, seolah itu adalah mainan
favoritmu. Padahal akhir-akhir kata
Mamamu, kamu sedikit di sibukan dengan PSP barumu setelah pulang kantor atau
hari libur. Beliau yang memergokimu dengan permainan anak belasan tahun itu.
“Aku
siapkan makan malam untukmu, ya?” tawarku.
Kamu
tidak pernah mau makan malam di kantor. Entah alasannya karena catering di
kantor itu tidak pernah enak, atau memang aku harus percaya dengan alas an gombalmu
yang menyatakan rindu dengan masakanku. Ya, sepertinya kata-kata gombal itu
lebih enak didengar.
“Gak
perlu, sayang. Aku sudah bawa ayam bakar untuk kita,”
Aku
yakin saat mengatakan itu kamu sedang tersenyum.
Tunggu
sebentar … aku mengingat-ingat lagi bagai mana bentuk seringai senyum yang
selalu bisa membuat aku jatuh cinta padamu—senyum yang menawan—yang menarik
garis-garis sederhana dari wajahmu. Dan kamu tau? Aku selalu bahagia melihat
kamu tersenyum, aku masih mencintaimu walaupun aku tidak pernah bisa lagi
melihat senyummu. Itu kenyataan paling pahit yang pernah aku terima.
“Waw,
ini bukan pesta ulang tahunku kan?” tanyaku, aku meraih tubuhmu, bergelayut
manja di lenganmu. Lalu aku bisa merasakan lenganmu mendekapku, erat. Erat sekali.
Setidaknya
jika aku tidak akan pernah lagi melihat senyummu, aku masih bisa merasakan
kehadiranmu.
“Bukan,
kamu salah sayang, aku masih hafal betul tanggal ulang tahunmu, tanggal
pernikahan kita, tanggal jadian kita dan tanggal di mana kamu pernah menolakku,”
katamu dengan Pe-Denya. Aku tergelak-gelak. Aku pernah menolakmu mentah-mentah.
Tapi wanita mana yang tidak luluh kalau ada laki-laki rela mendobrak pintu
kamarnya saat ia lupa membawa kunci kamar. Oh sepertinya aku tidak jauh berbeda
dengan nenek-nenek.
“Ini
adalah makan malam spesial dengan isteriku,”
Aku
tertawa getir ketika mendengarmu menyebut wanita tidak berdaya ini sebagai
isterimu.
Aku
mencoba membuka dasi yang terikat di balik kerah kemejamu seperti biasa—karena
tadi pagi aku juga yang memakaikannya untukmu.
“Sayang,
kamu gak berminat mencari perempuan lain?... Setidaknya … yang bisa membuatmu
lebih bahagia?” aku tau kedengarannya ini bukan pertanyaan yang bagus untukmu. Tapi
paling tidak aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini.
“Perempuan
itu banyak, banyak banget, tapi buat apa nyari yang lain kalau semua
kebahagiaan aku itu ada di kamu,” ucapnya tanpa nada ragu.
Aku
menggigit bibirku, merengkuh wajahnya yang tidak pernah kulihat lagi—dengan
kedua tanganku. “Kamu tau aku gak sempurna, aku gak bisa lihat kamu, aku gak
bisa melakukan segala sesuatu dengan baik, terus apa yang kamu harapkan dari
aku?”
Aku
bisa merasakan airmataku mengalir, jatuh selaras dengan unek-unek di kepalaku
saat ini.
“Kamu
pernah gak marah sama aku, waktu kita kecelakaan, dan aku bikin kamu gak bisa
liat lagi?” kamu mengelus pipiku pelan.
Aku
menggeleng, aku malah takut dengan kondisiku yang seperti ini kamu sudah tidak
lagi mencintaiku.
“Jawabannya
sama dengan apa yang aku pikirkan sekarang tentang kamu. Seseorang bisa
terlihat begitu mencintai pasangannya saat mereka sempurna, tapi aku akan
selalu mencintai kamu dan menerima kamu apapun kondisinya. Dan aku bahagia,
sangat bahagia. Jadi, jangan pernah minta aku untuk mencari kebahagiaan lain.”
Rasanya
lututku lemas, aku tidak bisa berbuat apapun selain membalas cintamu yang
begitu dalam.
“Baiklah
sayang, sekarang, ayo makan malam denganku. Siapa yang paling banyak
menghabiskan ayam bakar dapet bonus cium!” katamu bersemangat.
Aku
tersenyum lagi. Semua kebahagiaanku ada di kamu. Sungguh.
Sunday, September 1, 2013
Delapan jam perjalanan
Sebentar lagi kita bertemu. Delapan jam dari sekarang sebelum mata kita
beradu, mencumbu rindu. Ya, sudah terbayang semua hal yang akan kita lakukan
bersama setelah berbulan-bulan aku pergi meninggalkanmu.
Aku berdiri dengan cropped tee
dengan aksen terpotong yang kupadukan dengan rok dan jeans hitam juga blazer serta bowlers hat untuk
menghilangkan kesan cropped tee yang
tidak rapi jadi kelihatan formal, menggenggam selembar tiket single trip di
tanganku. Potongan kertas ini yang akan mengantarkanku ke pelukanmu.
Aku meninggalkan secangkir kopi dan croisant
yang kupesan di sudut café, dekat stasiun Tugu, karena kereta yang akan
kutumpangi telah tiba. Dengan sengaja, aku mengambil jadwal keberangkatan
malam. Kupikir selama perjalanan aku bisa tidur. Dan esoknya, kala aku
terbangun aku sudah ada di kota yang berbeda.
Aku berjingkrak-jingkrak menuju gerbong-gerbong tua yang ditarik sebuah
lokomotif. Aku melirik tiketku lagi, menyamakan nomer tempat duduk dengan
tiketku. D-24. Aku duduk di peron, di antara bangku-bangku yang berhadap-hadapan
dengan cahaya neon seadanya, dekat jendela.
Tidak lama kemudian, kereta pun berangkat. Aku memandang ke luar jendela,
mataku mengitari siluet-siluet cahaya lampu yang terlihat kabur dari balik kaca
film gelap.
Aku tersenyum dan mulai memejamkan mata. Sebentar lagi kita akan
bertemu..
“Nah, sekarang kamu yang jaga!” seru Alsero. Kamu tersenyum ke arahku dan
mengedipkan mata.
“Kamu aja deh, aku yang ngumpet,” balasku dengan nada menggoda.
Aku menyukai rambutnya yang jabrik, digel hati-hati untuk menimbulkan
kesan agak berantakan.
“Baiklah, sekali aja ya, abis itu gantian kamu yang jaga!” kamu tersenyum
lagi, mendekatkan wajahmu untuk menatap lekat-lekat wajahku yang merah padam
kemudian mencolek hidungku, jail.
Aku mewanti-wanti. Takut kalau kamu mendengar degup jantungku yang
hiperaktif. Aku segera mengambil sapu tangan untuk menutupi dua bolamata
cokelatmu dan mengalihkan pandanganmu dari wajahku. Setidaknya, dengan begini,
aku bisa dengan puas menikmati senyummu. Aku lebih suka diam-diam menatapmu dan
mengagumimu secara sembunyi-sembunyi. Entah kenapa, setiap kali kita di
hadap-hadapkan seolah perbendaharaan kataku berantakan. Dan aku selalu gugup.
Aku memberanikan diri untuk mencium pipimu sebelum tubuhmu kuputar-putar
kemudian, dengan kesenanganku, aku berteriak, “Ayo, cari aku!”
Aku berlarian ke sana-ke mari sepuas hati untuk menghindarimu. Tawa kita
bersahut-sahutan. Aku tergelak-gelak melihatmu yang sedang berusaha mencariku
dengan mata masih tertutup. Sementara kamu gemas sekali ingin menemukanku.
“Awas ya, kamu! Kalau tertangkap, aku akan mencium kamu sampai gak ada
sisanya!” begitu caramu mengancamku.
Bolamataku terbelalak, “Sini, kalo berani,” balasku. Aku tetap menjulurkan
lidahku meski aku tau kamu tidak akan melihat tindakan bodoh itu.
Aku mundur beberapa langkah untuk menjauhkan diriku darimu. Dari sini,
aku bisa melihatmu lebih lama—tanpa kamu ketahui.
Aku hanya terlalu nyaman dengan kehadiranmu di sampingku, hingga aku lupa siapa
kamu sebenarnya.
Tanganmu meraba-raba sekitarmu yang kosong, aku sudah berhenti berlari
sejak tadi dan bersembunyi di belakangmu. Kamu memperlambat langkahmu, berbalik
badan dan dalam hitungan satu.. dua.. ti.. hap! Kamu berhasil menemukanku. Atau
tepatnya aku yang menyerah. Tapi biar saja, aku tidak akan mengatakan hal itu
padamu.
“Yeahh! Kena kamu!” katamu kegirangan. Kamu membuka saputangan yang
menutupi matamu lalu memelukku. Erat sekali. Mencium kedua pipiku, keningku dan
satu kali bonus untuk hidungku.
Aku mencari-cari bolamatamu dengan keingintahuan. “Kamu menang banyak
hari ini,” gumamku.
“Oh ya?” kutemukan kamu yang berkacak pinggang, lalu melanjutkan, “Itu
hukumannya buat orang yang sering ilang-ilangan kayak kamu,”
Aku menahan napas untuk mancerna kata-katanya, bukannya ilang-ilangan
tapi kisah kita mungkin berbeda. Cepat atau lambat otak sadarku akan menghakimi
perasaan bahwa kamu miliknya.
Aku tertawa datar, “kan kita lagi main petak-umpet,”
Kamu menggeleng pelan, menatapku hangat, sederhana namun tetap memesona. “Oliv,
aku suka banget main petak-umpet, aku suka menebak-nebak atau bermain tebak-tebakan.
Tapi, aku gak pernah bisa menebak makna di balik mata kamu,” katamu. Aku nyaris
tidak pernah bisa menirukan cara bicaramu yang mengalun lembut dengan
artikulasi sempurna. “Tolong jangan akrabkan aku dengan ketidak mengertian,”
kamu melanjutkan.
Aku hanya bisa membalas kata-katamu dengan satu senyum setelah berhasil
menela’ah semuanya.
Pada detik ke sekian aku baru bisa membalas, “Ini bukan soal permainan,
ini soal perasaan. Sial memang. Kita harus benar-benar sadar yang mana yang
jagoan dan yang mana yang pecundang,” aku tidak yakin saat aku mengatakan itu
apakah nada bicaraku sudah benar atau belum. Yang jelas, detik ini aku masih
merasakan gugup yang berlarut-larut.
“Kamu terlalu abu-abu buat aku,” suaramu terdengar gamang di telingaku.
“Pecundang selalu terlihat samar,” tambahku tidak peduli kalau aku
mendapat tatapan menyipit darimu.
“Jangan bicara seperti itu,” lagi-lagi kamu mengeluarkan dekrit yang
membuatku tidak berkutik. “Kamu mencintaiku, kan?” itu pertanyaan retoris yang
tidak perlu kujawab. Ini terlalu rumit untuk dijabarkan.
Aku menghela napas, merelaksasikan semua perasaan dalam atmosfer hening. Rasanya
aku tetap utuh jika dalam pelukanmu, walaupun itu adalah kesimpulan implusifku.
Setidaknya kita pernah ada, kita pernah bersama.
Walaupun pada akhirnya kita harus jadi orang lain.
***
Aku terbangun dengan dada sedikit sesak. Aku menggeser tubuhku yang kaku.
Kereta sudah tiba di stasiun gambir, para penumpang mulai meninggalkan peron,
termasuk aku.
Kulirik jam di pergelangan tanganku, ini masih jam empat pagi. Taburan cahaya
lampu kota terlihat lebih ramai dari pada yang kulihat dari balik kaca jendela.
Aku menenten clutch bag-ku yang lumayan besar. Rencananya, aku akan menetap di
kota ini selama liburan smester.
Aku pernah pergi atau melarikan diri—yang jauh—jauh
sekali darimu—tapi ternyata sejauh apapun aku melangkah, sekencang
apapun aku berlari tempatku berpulang adalah dadamu.
Mataku mengitari ornamen stasiun yang didominasi warna
hijau. Aku bergeming di tengah lalu lalang orang yang otaknya tidak jauh dari
seputar selangkangan.
Handphoneku bergetar, terpampang sebuah nama yang sama
dengan panggilan terakhir.
Alsero cheri.
“Hallo, olivia, sudah sampai?” suaramu mengalun lembut di
telingaku. Suara yang begitu akrab dan selalu terkonfirmasi sebagai teman karib
dengan indra pendengaranku.
“Hei, Al, aku sudah sampai, aku di pintu keluar, kamu di
mana?” balasku sambil memasukkan potongan tiket ke dalam mesin pintu keluar
yang dingin dan kokoh.
“Aku di ujung jalan, dekat deretan pertokoan,” ucapnya.
“Oke, aku yang akan ke sana, tunggu sebentar ya,”
balasku.
“Pastikan kalau dalam hitungan enam detik kamu sudah ada
dalam pelukanku?” aku mendengar suaramu yang lebih ringan dari kalimat
sebelumnya. Bertolakbelakang sekali dengan suaraku yang lazim di bilang parau.
“Dalam hitungan enam, aku akan menonjokmu!”
“Tidak, aku yang lebih dahulu akan menciummu,” katamu
tidak mau kalah.
Aku keluar. Menyusuri deretan toko souvenir yang masih
tutup. Hanya ada satu-dua mobil yang berseliweran dengan sorotan lampunya yang
menangkap basah wajahku yang memucat. Aku baru ingat kalau aku melewati makan
malamku. Aku yakin sekali kalau setelah ini kamu akan menggeretku ke sebuah
warung sate ayam di pinggir jalan, tempat biasa kita menghabiskan waktu dengan
asap bakaran daging ayam dan bumbu kacang favoritmu.
Aku melihat lelaki berdiri di sebrang jalan sambil
memegangi ponselnya. Kupikir setelah mengakhiri pembicaraan tadi, kamu belum
bisa melepaskan pandanganmy dari layar ponselmu yang masih menyala. Kamu mengalihkan
pandanganmu ke arahku, lalu melambaikan tangan. Aku bisa melihat senyummu yang
kontras dengan keadaan sekelilingmu.
Aku melangkah dengan cepat untuk menghampirimu. Tanpa pikir
panjang aku berlari, menyebrang jalan—dan di saat yang bersamaan sebuah
X-Trail dengan kecepatan penuh melintasi tubuhku, kepalaku beradu dengan aspal
jalanan dan terseret beberapa meter. Aku merasakan perih yang amat sangat. Darah
mulai bersimbah memenuhi tubuhku. Aku melihat kepanikan di wajahmu ketika berlari
menghampiriku. Lututku lemas, badanku remuk, sakit kepala dan sesak napas
berkombinasi menghantamku berkali kali.
“Olivia, bangun, sayang.. kumohon..”
Pendar-pendar cahaya lampu jalanan, di antara deretan
pertokoan, dekat persimpangan di antara setumpuk rindu yang gaduh menjadi
telaga perpisahan yang kemudian melukis bayang semu dalam lara cinta.
Setidaknya, sebelum aku pergi yang terakhir kali kulihat
adalah ragamu, yang terakhir kali kudengar adalah suaramu. Dan aku sangat
bahagia..
Saturday, August 24, 2013
The soul
The soul.
“Setiap
orang membicarakan cinta. Mengapa kita malah kehilangan kata-kata. Aku, kamu.
Bisakah menjadi kita? Dengan ikatan mulia, atas nama cinta.” Syaira.
Kurasakan cairan infus mulai
menjalar ke seluruh tubuhku hingga perutku seperti menahan gejolak. Selang
oksigen yang secara paksa di masukan ke lubang hidungku. Alat pengukur detak
jantung juga menempel persis di dada sebelah kiriku. Bau obat yang selalu akrab
dengan hidungku, dan di atas tempat tidur ini yang menjadi saksi, malaikat maut
akan menjemputku ke ruang yang berbeda.
Sebentar. Kuingat-ingat dulu, aku
baru saja masuk ke ruangan ini sekitar lima belas menit yang lalu. Kurasakan
sesuatu yang hangat di dahiku, aku memaksa menyuruh sel syaraf sensorikku untuk
membuka mata. Samar-samar aku melihatmu sedang mencium keningku. Tapi aku
yakin. Sangat yakin, itu kamu.
Senyummu menarikku ke tiga beberapa waktu
lalu, di mana kita menyimpan sejuta cerita yang telah dilewatkan bersama.
“Sudah aku bilang, kan, kalau
kamu tidak akan sanggup melewati hujan tanpa aku,” kata Andro sambil bertolak
pinggang menghadapku.
Ini minggu ke tiga dari bulan
November, bulan yang paling romantis di antara sebelas bulan yang lain. Air
hujan mewarnai kota ini. Meluncur dari sela-sela atap sekolah. Kulihat wajah
Andro tampak sangat rupawan. Alis matanya yang tebal, bibirnya yang kemerahan,
tubuhnya yang six pack dan nyaris bertolak belakang dengan tubuhku yang kurus.
“Siapa bilang? Aku berani,”
sanggahku menantangnya dengan seluruh keegoisan yang kupunya.
“Oke, coba kulihat? Seberapa
beraninya kamu dengan air hujan yang dingin itu?” kerut-kerut di keningnya
muncul yang menandakan ia ingin mengetahui seberapa nyaliku, dan itu yang
membuatku tersenyum.
“Kalau aku bisa, kamu akan beri
aku apa?” ku lemparkan senyum paling manis ke wajahnya.
“Yang kamu mau apa?” Andro malah
berbalik menantang.
“Aku mau, teraktiran es krim
selama satu minggu, setuju?”
Bolamata Andro terbelalak, “Hanya
itu?” tantangnya membuatku mengingit bibir, “Tidak ada yang lain?”
Aku terdiam sejenak, untuk
membayangkan hal apa yang ku inginkan dari Andro, berenang? Main bulu tangkis?
Mengerjakan PR ku selama satu minggu? Atau mengantar jemput kesekolah setiap
hari?
“Bagaimana kalau menjadi pacarku
selama satu bulan?” pertanyaan Andro sukses membuatku sesak napas, seperti ada
bongkahan es yang menyumbat tenggorokanku.
Kemudian aku tertawa
“Kamu ini sudah gila? kamu mau
aku diintimidasi oleh Elly?” kataku membelalakan bolamata.
Senyum Andro keluar dari sudut
bibirnya, aku seperti lebih membutuhkan senyumnya dari pada ratusan obat yang
sudah mengakar di tubuhku.
“Itu konsekuensi dari taruhan
ini,”
Mataku melotot ke arah Andro,
tidak setuju dengan argumentasinya.
“Andro, kamu tau..” belum selesai
aku bicara Andro sudah menelan kata-kataku dengan tatapannya yang cukup tajam
tubuhnya yang terlalu dekat denganku membatku sedikit bergetar. “Aku bisa
bicarakan nanti dengan Elly,” ucapnya pasti.
“Sekarang, aku ingin melihat
seberapa nyalimu?” lanjutnya.
“Baiklah,” kataku tidak ambil
pusing.
Kucopot kedua sepatuku lalu mulai
aku mendekat ke ujung teras, gemercik air hujan sudah mulai membasahi sebagian
rok abu-abuku. Aku tau Andro sudah tidak sabar melihat tindakan kuselanjutnya,
karena itu aku bersiap mencelupkan kaki kananku.
“Andro!” teriak wanita yang
suaranya akrab di telingaku dan sukses membuat konsentrasi aku dan Andro.
Elly menghampiri Andro dengan
setengah berlari. “Ayo kita pulang! Mama sudah menunggu kita untuk makan malam
bersama,” ucap Elly setelah sukses meraih tubuh Andro dan bergelayut di
tangannya.
Aku cemburu, rasanya ingin sekali
mengguyurkan air seember air es di kepalaku, karena air hujan di hadapanku
belum cukup dingin untuk menyadarkanku.
“Aku mau main bersama Ara,” kata
Andro sambil menatapku penuh harap.
Kemunculan senyum dari sudut
bibirku menutupi kecemburuanku saat itu. “Besok kita masih bisa bermain lagi,”
ucapku meyakinkan Andro.
“Lihat, senja mulai datang,
sebaiknya kita cepat pulang.” Sergah Elly.
Kuperhatikan anggukan Andro
perlahan. Ia seperti menyerah dengan keadaan. Aku masih terpaku dengan air
hujan di hadapanku saat Andro mulai menjauh dariku. Satu detik kemudian aku
menemukan tubuhku yang basah. Ku usap wajahku dengan kedua telapak tangan,
berharap apa yang aku lakukan barusan bukan apa-apa. Aku berjalan ke tengah
hujan, akan ku buktikan pada diriku sendiri kalau aku bisa tanpa Andro.
Tubuhku bergetar, aku menggigil
di tengah terpaan hujan. Bagaimana mungkin aku mencintai Andro? Tapi sungguh,
aku mencintainya.
Seperti ada aliran hangat yang
keluar dari lubang hidungku, turun ke baju seragamku, lalu jatuh ke tanah dan
tercampur air hujan dan aku tau, itu darah. Dan saat itu juga aku menghakimi
diriku sendiri. “Andro, aku tidak bisa tanpamu.” Ucapku pelan, dan
pengelihatanku mulai kabur, aku jatuh.
***
“Bagiku,
kamu adalah titipan tuhan yang harus ku jaga, titisan malaikat dari surga yang
turun ke bumi untuk bertemu denganku. Jika kita di takdirkan untuk bersama maka
cinta takan lari kemana. Jika tidak. Maka kenanglah aku sebagai bunga tidurmu.”
Andro.
Lelaki macam apa aku ini?
mementingkan egoku dan meninggalkan Ara begitu saja, di tengah lebatnya hujan
kemarin. Lihat wajahnya pucat, tubuhnya semakin kurus, dan aku tidak melihat
rona jingga dari bibirnya. Aku tidak akan memaafkan diriku kalau sampai terjadi
apa-apa dengan gadis yang paling kucintai.
“Hai Ara,” ucapku saat melangkah
menghampiri Ara, kulihat ia sedang serius dengan buku yang dibacanya. Kucium
pipinya seperti biasa saat kami bertemu. “Are
you okay?” tanyaku smbil memandangi wajah Ara.
Rupanya Ara cepat menangkap
pertanyaanku, ia segera mengangguk tanpa melihat wajahku.
“Kamu terlihat pucat?” kali ini
bolamataku mencoba menatap bolamata Ara lurus-lurus.
“Oh, aku belum makan siang,” kata
Ara dengan suara parau dan sukses membuat aku tidak percaya dengan jawabannya.
Kulihat Ara membatasi bukunya dengan telunjuk pada paragraph yang tengah ia
baca. “Aku Cuma sedikit Flu.” Lanjutnya.
“Kalau gitu, ayo kita makan
siang!” ujarku tidak perduli setuju atau tidak dengan usulanku, ku raih
tangannya beberapa menit kemudian aku berhasil mendudukkannya di salah satu
kursi di kantin.
“Kamu mau makan apa? Soto, bubur,
nasi rames, atau bakso?” tanyaku sambil menunjuk sederet gerobak pedangang di
kantin sekolah.
“Cukup teh manis hangat,” ucap
Ara.
“Enggak, kamu harus makan.”
Kataku.
Kutemukan Ara hanya memandangku
dengan tatapan cemas. Aku langsung melangkah menuju pedagang soto, dan memesan
satu porsi tanpa daun bawang yang seperti biasa dia pesan. Aku kembali ke
hadapannya dengan membawa nampan yang berisi soto dan teh manis hangat. Dan kudengar
Ara sedang berbicara di telpon, “Dia ada di hadapanku, kalau kamu mau kesini
saja, tidak masalah.” Ucap Ara lalu mengakhiri percakapan. Kupastikan yang
barusan menelpon Ara adalah Elly, tapi aku tidak peduli dengan itu.
Tatapan Ara kembali pada mangkuk
soto yang sudah kuletakan di hadapannya. Aku hanya menemani Ara disampingnya,
dan memastikan kalau makanan itu habis. Usai makan kami kembali ke kelas, aku
harus memapah tubuh Ara yang terlalu lambat untuk berjalan, sebelumnya aku
sudah menawarkan untuk mengantarnya pulang, tapi Ara mengelak, ia memilih
mengikuti jam pelajaran sampai usai. Sebelum kami sampai kelas, ku rasakan
tubuh Ara bergetar. Lututnya melemas hingga ia hampir terjatuh di lantai.
“Ara.. Ara..” panggilku, sambil
mengguncang-guncang tubuhnya.
“Aku baik-baik saja,” ucap Ara ku
lihat senyum masih muncul di bibirnya. Tapi wajahnya sepuluh kali lebih pucat
dari sebelumnya. Ku lihat aliran darah mulai keluar dari hidungnya dan sedetik
kemudia ia sudah tak sadarkan diri.
Dalam perjalanan menuju rumah
sakit, Ara terus memanggil-manggil namaku. Sementara handphoneku berdering ada
panggilan dari Elly, aku tidak mempedulikannya. Kulihat Ara menggenggam erat
tanganku, seperti ia tidak ingin kehilanganku. Ara.. andai kamu tau, seberapa
besar aku tidak ingin kehilanganmu. Ucapku dalam hati.
“Its okay.. its okay, I’m here..” ucapku.
Sampai di rumah sakit, Ara
langsung dilarikan ke UGD. Satu jam aku menunggu, sampai ia dibawa ke ruang ICU
untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Aku hampir ingin menonjok diriku
sendiri. Bagaimana bisa aku tidak tahu selama ini Ara menderita leukemia, atau
kanker darah. Aggrrrhhh! Tinjuku melesat ke tembok rumah sakit dan membuat
tanganku memar. Tubuh Ara sudah terbaring lemah di atas tempat tidur dengan
baju rumah sakit. Aku memandang Ara dengan bisu. Sudah kutelpon kedua orang
tuanya, dan mereka dalam perjalanan kemari.
Ara mulai membuka matanya, ia
memanggil namaku, “Andro..” lirihnya.
“Iya sayang, aku disini.” Kataku,
panggilannya seolah membuyarkan rasa frustasiku. Aku sangat sayang pada Ara.
“Taruhan kita belum selesai, kan?
Besok kita main lagi.”
“Pasti.”
Ara menarik napas sejenak. Akan
kubuktikan perasaanku padanya. Aku tidak ingin waktu terus menghabiskanku untuk
memendam perasaan. “Ara..” ucapku.
Kulihat senyum Ara yang membuat
hatiku terenyuh. “Aku mencintaimu, sungguh,” nadaku terdengar cukup pasti.
Ara menarik tanganku untuk
memasukan jarinya ke sela-sela jariku.
“Andro..” panggilnya.
“Ya,” dengan sabar aku menunggu
jawabannya.
“Aku..” kudengar napasnya
terengah-engah untuk meneruskan kalimatnya. “Aku..”
Aku menunggu sampai satu menit,
tapi tidak ada lagi kata yang terucap dari mulutnya. Ia hanya memandangku cukup
lama. Tidak lama kemudian, kabel yang menghubungkan Ara dengan sebuah kotak mesin
yang sekarang hanya berbunyi “tuuuuut…” dan layarnya menunjukan garis putih
lurus tanpa ada grafik di sana.
“Ara, ara!” teriakku saat
menemukan matanya telah tertutup. “Ara katakan kalau kamu juga mencintaiku!” kuguncang-guncang
tubuhnya yang tidak bergerak. Tidak lama kemudian dokter dan beberapa suster
datang dengan wajah panik. Salah satu suster memintaku untuk meninggalkan
ruangan.
Orang tua Ara berlarian
menghampiriku dan menanyakanku tentang kondisi Ara, aku tidak bisa menjawabnya.
Dengan perasaan gundah yang melanda, lima belas menit kemudian, sebuah tempat
tidur trolly sudah keluar dari ruangan dengan seseorang yang tubuhnya sudah
tertutup kain putih.
Ara.. kau lah satu-satunya wanita
yang kucintai.
Subscribe to:
Posts (Atom)






