Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.

Saturday, June 6, 2015

Untukmu yang tak sanggup kusebut namanya




Dua dolar empat sen, dua cangkir kopi panas tersaji di depan kami. Saat orang-orang berlalu lalang sibuk dengan kepulangan. Kita menikmati sisa senja dengan duduk bedua menghadap jendela yang sama. Berbagi cerita sederhana.
Sebelum ada dirimu aku yakin aku baik-baik saja, namun setelah entah sengaja atau tidak kita bertemu dan membuat aku tidak baik-baik saja.
Dengan pertama kali kita bertegur sapa dan menyebut nama masing-masing dengan malu-malu, lalu kamu duduk di sebelahku, sesekali tertawa atau berceletuk riang. Mengenang obrolan pertama kita yang selalu berhasil membuatku tersenyum.
Diantara kita tak perlu ada pembicaraan berbelit-belit sebab hidup sudah hampir pelik, pembicaraan kita cukup sederhana saja, lalu setelah bingung harus membahas apa kamu menatapku dengan tatapan yang membuat dadaku meledak-ledak, sementara aku berusaha menutupi pipi merahku dengan memalingkan wajah. denganmu semua terasa mudah. aku baru merasakan kebahagiaan yang sederhana, yang tak selesai bila kutuliskan sekalipun di lautan.
Pernah suatu hari saat hujan lebat, di tengah jutaan manusia dengan keegoisan mereka masing-masing dan aku tidak bisa pulang ke rumah, menjadi satu-satunya orang yang menemuiku dengan jas hujan dan rambut basah lalu menanyaiku “Kamu baik-baik aja kan?” dan tanpa kuminta kamu melepas jas hujanmu untukku.
Kamu yang sering kali lupa dengan segala hal ketika sedang bermain game, Aku selalu menyukai keramahanmu, kepedulianmu mengulurkan tangan. kamu yang marah-marah ketika aku melupakan kunci, dompet atau handphone.
Di kala aku sedih, bahumu tersedia untukku. Saat aku lelah lenganmu selalu ada untukku.  kamu yang tidak pernah mengingatkanku untuk selalu berdoa, siapa yang tahu kalau diantara kita diam-diam saling mendoakan?
dari situ aku membandingkan kamu dengan lelaki lain. kamu baik.
Saat ini bukan lagi kata-kata cinta yang kuharapkan, tapi soal keberadaanmu yang pernah membuatku nyaman. Sungguh.. Aku terlalu nyaman hingga takut akan kehilangan.
Aku menghampiri waktu yang hampir tidak pernah kuinginkan. Waktu dimana aku dan kamu sudah tidak lagi bersama. Dan meneruskan kembali jalan kehidupan masing-masing.
Tapi sebaik apapun efek kamera, foto yang paling indah adalah pigura ingatan. Semua ingatan lampau tentangmu, kenangan yang tidak mungkin rela dilupakan begitu saja.
Seberapapun aku mencoba untuk tidak merindu adalah hal paling mustahil. Aku selalu melakukan hal yang sama, berkali kali menyeka perasaan yang ada. Berkali kali terjatuh dalam lubang yang sama; kenangan memilukan yang hanya bisa kupendam sendirian..
dua dolar empat sen, aku memesan cangkir kopi dan rasa yang sama. mengenang sebuah kebersamaan kita.
Aku yang bertahan dalam pijakan yang sama, dalam angan tak bersua, dalam lorong-lorong sempit yang mungkin pahit bernama penantian..
Untukmu, yang akan selalu ada dalam hatiku. Semoga kamu baik-baik saja, selalu.

Dari perempuan yang tak sanggup memendam rindunya sendirian..

Wednesday, June 3, 2015

gajoan nyebelin





Dear jagoan paling nyebelin.
Kalo ada klasifikasi orang paling nyebelin sedunia, orang paling egois sedunia gue bakal nulis nama lo segede gaban.
Gatau kenapa setiap kali ngobrol sama lo gue jadi kebawa emosi sendiri karena lo selalu merasa bahwa lo paling bener, terus kemudian kalo lo salah balik ke pasal pertama bahwa lo selalu bener. Gitu-gitu terus siklusnya. Dan kemudian gue yang harus sabar ngadepin temen yang modelnya kaya elo.
Tapi, gue ngerasa, di hari-hari sibuk kita dengan jutaan problematika pekerjaan dan sekelumit tugas kuliah lo adalah satu-satunya orang yang mau mendengar gue, yang mau nemenin gue di malem-malem gue sendirian di kostan. Lo orang yang mau ngeluangin sedikit waktu weekend lo buat berbagi cerita sama gue. Buat ngobrol hal-hal gak penting dan ujung-ujungnya gue emosi gara-gara elo lagi-lagi gak mau ngalah. Dan besoknya, kita kembali pada rutinitas yang panjang yang selalu menyita waktu panjang kita buat mikirin hal itu.
Sampe rasanya pengen nulis gini:
Dear weekend,
I really miss you.
Love, me.
Kayaknya itu surat cinta pertama yang bakal lo bikin, iya kan? Hehe.
Dari situ, gue seneng lo punya cerita. Lo udah mau cerita tentang banyak hal. Tentang orang-orang yang baru yang lo temuin kemudian lo ceritain ke gue.
Gue ngerasa lo berubah secara perlahan, jadi sosok yang lebih terbuka dibanding sama jarwo yang dulu yang gak pernah nyambung kalo diajak ngomong (meskipun sampe sekarang masih sering gitu).
Berbeda dengan kebanyakan remaja lain, gue sepemikiran sama elo. Buat memandang satu hal dari berbagaimacam segi kehidupan. Think different lo itu lho, wo. Kita gak boleh biasa-biasa aja. Karena bintang yang redup sekalipun belum tentu dia gak bersinar, tapi jarak yang terlalu jauh yang membuat dia gak terlihat. Dan siapa yang tau kalau bintang itu adalah starlight sesungguhnya.
Kenal-deket-jadian-pacaran-berantem-putus kemudian gagal move on adalah fase yang dirasain hampir setiap orang. Bahkan kadang mereka mengaku selalu benar dan gak intropeksi diri sama kesalahannya udah keburu kecantol sama cowok yang lebih ganteng didepannya tanpa pikir panjang.
Harusnya semua orang belajar dari kesalahan, agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
disaat orang lain sibuk memamerkan pacarnya, gue bakal lebih sibuk buat fokus ke tujuan dan impian gue, juga kesuksesan gue, dimana kerja dan belajar dengan sungguh-sungguh bakal gue lakuin semala gue bisa. yang nantinya suami gue yang bakal pamer kalo dia bangga punya gue.
Wo, obrolan kita banyak yang gue aplikasiiin dalam kehidupan gue. Soal statment2 konyol yang sebenernya itu gue anggep bener, tentang pekerjaan, dan filosofi-filosofi dari buku-buku yang udah lo baca atau apalah itu. Dan lebih saring lagi, gue yang gak nyambung kalo di ajak ngomong. Oke, gue pentium setengah.
Oh iya, jagoan nyebelin.
Walaupun lo nyebelin, lo udah baek bener ngebenerin notebook gue yang hampir sskarat. Ini baru gue percaya lo seorang web programmer. Hahahaha.
Makasih buat hari-hari singkat yang lo kasih ke gue. Makasih buat kafe, pojok mcd, es buah barito juga blenger yang hampir tiap weekend kita samperin.
Salam nyebelin,
Ovie.

Saturday, May 9, 2015

tak tahukah kamu

Tak tahukah, rasa yang bertahun-tahun kupendam sendirian seperti labirin tak berujung?
seperti ketika aku merindu, sekuatmungkin mencegah deretan sel tubuh ini yang meminta temu untuk mengantarkan rindu pada angan.
Aku menumpahkan segala sumpah serapah tentang harapan untuk bersama yang mana disetiap partikel doa selalu kukaitkan dengan seuntai namamu, Tuan.
Rasa kesedihan untuk mencintaimu, kupendam sendiri. Kukubur dalam angan yang tak bermunculan kecuali dalam ruang hampa bernama ingatan. tak tahukah kamu.. 


tak terganti

Ada hal yang tak pernah tergantikan dengan apapun, ada hal yang tak bisa terukur, juga ada hal yang tidak bisa tergantikan dengan siapapun, dengan bagaimanapun dan sampai kapanpun, kamu tau apa? yaitu; Kamu.

Saturday, May 2, 2015

Tentang Perbedaan.

Permalink gambar yang terpasang




ketika sebuah perbedaan menjadi sebuah jalan untuk berbagi.


untuk Noviar Fajar Triatmoko alias Jarwo.
kita temenan udah berapa tahun congs?
jawabannya gue juga gatau seberapa banyak uban lo yang udah tumbuh selama temenan sama gue. tapi waktu itu gue inget banget gue baru aja lepas seragam Putih abu-abu dan elo masih jadi gembel di kampus hahahah.

kali ini blog gue ternodai dengan kata-kata yang gak romantis, padahal ini blog sengaja gue setting buat semua tulisan dengan genre sad romance. tapi, gue tau lo bukan (lelaki) yang romantis. dan ini pertama kalinya gue nulis tentang elo setelah novel gue (yang entah kapan jadinya itu) gue kirim ke elo.
gue ngerasa banyak malem minggu yang gue lewatin sama elo, banyak weekend gue yangma  terisi sama tingkah nyebelinnya elo. sampe gue gak sadar udah berapa kali kita jalan dan ngelewatin jalan yang itu-itu aja, karna lo (dan gue) gak apal jalan.

di dunia yang terlalu kejam buat orang sepolos gue, ceilaa~
banyak orang yang dateng di kehidupan kita, salah satunya elo. bertemu dengan lo adalah sebuah hal yang ajaib, yang gak pernah kepikiran sama gue sebelumnya. di pertemuan pertama kita, di MCD Pondok indah waktu itu, lo baru dari kampus sedangkan gue lagi liburan di rumah bude. waktu itu kita ketemu, gue masih malu-malu. masih ada kesan canggung yang gak di utarakan. masih banyak hal yang gue gak tau. kalo aja lo gak bawa laptop buat nyetel film like a stars in the worl (sebuah film anak diseleksia) gue gak tau apa yang harus gue omongin, dan gue gak tau harus memulai pembicaraan dari mana.

sampe waktu itu MC Float sama kentang pesenan kita yang berserakan udah abis. dan lo selalu makan kentang pake es krim. jam udah menunjukan lewat pukul sembilan, kita masih bercengkrama seadanya. dan akhirnya kita pulang pake motor gue.

seiring berjalannya waktu, gue ngeliat banyak perubahan yang terjadi. gue yang tadinya harus jemput tuan puteri jarwo dan nganterin pulang tiap kali jalan sekarang kita sama-sama punya motor baru. dan udah beberapa kali ini lo yang gantian jemput sama nganter gue balik kalo kita jalan. lo juga yang katanya menurut lo pelit tapi kenyataanya lebih sering neraktir gue. dan soal pria, lelaki, laki atau cowok yang kita bicarain semalem, gue bilang suatu saat lo bakal jadi seorang pria yang dewasa, bukan lelaki yang romantis, bukan laki yang masih pake celana pendek merah dasi karet, bukan juga cowok karena menurut gue lo bukan seperti cowok kebanyakan yang suka gombal. itu satu point plus. meskipun tingkat nyebelin lo itu lebih gede dari pada gunung semeru.

seberapa banyak kita berantem soal jalanan? seberapa kesel gue waktu lo nakut-nakutin gue kalo lagi ada ondel-ondel. seberapa nyebelinnya elo karena setiap kali gue salah ngomong di sindir abis-abisan.

kalo elo setan, gue zombie.
dan kadang lo suka kebangetan kalo tiap kali ketemu gue sok-sokan gak kenal.

gue kenal elo itu gak cukup sehari-dua hari, gue harus ngerti gimana seorang programmer ngomong, gue harus dengerin cerita program-program yang lo buat yang sejujurnya gue gak ngerti itu apa, dan sebaliknya elo, lo dengerin semua cerita gue tentang berbagaimacam anak-anak yang gue hadapin, rumus-rumus matematika yang tiap hari ketemu sama gue, juga jurusan kuliah yang gak singkron sama kerjaan gue. tapi gue jalanin. dan lo bener, kita gak perlu jadi orang lain untuk terlihat sempurna. sebab kesempurnaan itu ada ketika kita menerima.
tapi ketika bertemu dengan orang baru, bukan apa yang akan kita dapet dari dia, tapi apa yang bisa kita beri untuk dia. dan sepertinya gue tidak sungkan untuk berbagi sesuatu sama lo. apalagi untuk berbagi cerita.

Jarwo yang nyebelin, obrolan kita semalem bikin gue berpikir kalo gue emang harus pergi dari hidup yang biasa-biasa aja. dari hidup yang gini-gini aja. dari aplikasi BBM yang bikin gue galau akut. iya kan? lo sering bilang gue cewek paling galau. itu bener. dan semua kegalauan gue di tulisan.

dan soal pernikahan yang musti di pikirkan secara berulang-ulang. soal anak yang harus di didik secara tegas namun penuh kasih sayang, tapi itu nanti kalo segalanya sudah siap. dan segalanya perlu di persiapkan lahir dan batin. gue gak nyangka, orang se-nyebelin elo bisa di ajak diskusi soal beginian. oh iya, banyak hal yang masih harus gue lakuin, gue cobain sebagai tantangan. sebagai sebuah petualangan hidup yang berharga, yang nantinya bakal gue ceritain sama anak gue.

sekali lagi, makasih ya, walaupun lo bukan cowok romantis, tapi lo temen yang baik, yang berusaha ada. sampein salam maaf gue buat mumay, gara-gara gue. mumay batal ketemu lo buat nyelesaiin kkp.

salam nyebelin.

ovie.



nb: gue pake nama asli. dan jangan di tanyakan jarwo itu siapa.


Wednesday, March 11, 2015

sebuah kerinduan






Aku tidak tahu harus memulai dari mana, kalau tidak salah ini menit ke sembilan kita saling terdiam. Mengumpati kata dalam pelupuk ego kita masing-masing.
Di pagi yang sembab ini aku menemuimu, wajahmu terlihat monokrom senyummu datar, kau mengecup keningku seperti biasa setiap kali kita bertemu.  Kamu menyuruhku masuk ke apartemenmu, melepaskan mantel merahmuda favoritku dan menggantungkannya persis di sebelah mantel cokelatmu. Kemudian, kamu berbalik badan mengambil posisi nyaman di antara bantal-bantal sofa dan kembali disibukan oleh permainan di tabletmu.
Aku turut menyibukan diriku dengan novel yang kau belikan beberapa hari lalu, mataku terpusat pada deretan huruf yang tersusun rapih dalam buku, sementara pikiranku terpusatkan olehmu. Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi. Bahkan sekedar mengucap hai, atau selamat pagi. Sesekali aku mencuri-curi pandang, berharap kau memulai pembicaraan.
Aku selalu merindukan saat-saat dimana kau kepusingan dengan skripsimu, sementara aku terpaut dengan draft novelku, kita melewati malam panjang dengan dua cangkir kopi. Dan jika kopimu habis duluan kamu selalu menyeruput kopiku tanpa izin. Aku senang melihatmu seperti itu. Rasanya semua punyaku ingin kubagi denganmu tanpa perlu konfirmasi lagi. Kita banyak bercengkrama, entah kenapa kita selalu bisa membahas sesuatu, dari mulai dalam-dalamnya bumi sampai lintas galaxi sampai akhirnya kamu menyerah.. mendengar ocehanku dan  terlelap begitu saja dengan kepala di atas meja, dengan wajah kelelahan, meninggalkan bab-bab yang berhasil kau rumuskan. Sementara aku melanjutkan draftku. Esok paginya kamu mengantarku pulang kerumah dan aku selalu tertidur sepanjang perjalanan.
Aku rindu saat kamu yang membawakan payung, menjemputku di halte tram. Saat itu hujan seharian. Dan aku selalu lupa membawa payung.
Aku rindu dengan durasi film panjang yang kita tonton, hingga kau terlelap di pangkuanku.
Aku rindu kau menciumku tanpa sebab, sementara katamu saat melakukan adegan seperti itu kamu menemukan wajahku yang bertanya-tanya, kenapa kamu menciumku. Dan sialnya, kamu selalu membiarkan pertanyaan itu menggantung di kepalaku tanpa kau balas dengan apapun kecuali dengan senyummu yang menggoda.
Aku selalu hafal bagaimana caramu berbicara denganku, aku selalu mengerti setiap intonasi nada yang kamu keluarkan, aku selalu suka caramu menatapku, aku selalu berhasil tersipu-sipu di buatmu.
Tapi sekarang, di hadapanku, aku tidak menemukanmu, aku tidak mengenalimu aku tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikiranmu. Saai ini tepat lima belas menit kita tidak saling bicara, tidak saling menyapa kecuali sapaan pertama saat aku baru saja tiba dua puluh empat menit yang lalu. Di wajahku sudah tergambar sudut-sudut kecewa. Aku hampir lupa alasan pertamaku datang ke sini. Aku lupa kenapa aku harus menemuimu pagi-pagi. Karena sudah tidak ada lagi rindu yang sama.
Aku lekas berdiri dari tempat dudukku. Menghela napas kecewa.
“Aku pulang,” ujarku
Aku memberanikan diri untuk menatapmu yang masih asik main game. Omonganku tidak digubris sama sekali.
Aku merapihkan mantel merahmuda yang tadi kau gantung. Aku melangkah pelan, masih berharap sesuatu. Masih berharap kamu mengatakan sesuatu yang mencegah kepergianku.. jadi aku punya alasan ke dua untuk berlama-lama, berbagi cerita sederhana denganmu.
Tapi tidak kutemukan semua itu..
Aku menutup pintu perlahan. Dan sudah tidak menemukan wajahmu yang selalu ingin kulihat.
Seseorang yang tidak kukenal memberiku secarik kertas saat aku berjalan di lorong. Ia langsung lewat begitu saja tanpa konfirmasi dia siapa, dari mana dan kenapa memberiku kertas ini. Aku tidak berhasil mengingat wajahnya. Ia mengenakan cropped tie dan bowl hat yang menutupi sebagian matanya. Saat aku berbalik badan ia sudah menghilang di tikungan.
Aku membuka lipatan kertas itu. Dan menemukan sesuatu.
“selamat ulang tahun, Ardelia..”
Saat aku membacanya seseorang berhasil meraih tanganku dan mengucapkan “selamat ulang tahun, Ardel,” kemudian berlari dengan skateboardnya. Ia juga tidak aku kenal.
Satu detik kemudian, saat aku berbalik badan aku menemukan seseorang lagi membawa sebuah kue taart dengan lilin angka 20 yang menyala ia memintaku meniupnya. Tanpa kusadari kamu memelukku dari belakang. Dan mengatakan sesuatu, “Selamat ulang tahun sayang. Aku sayang kamu.”
Aku berbalik badan.. dan memukul-mukul bahunya dengan kesal.
“Kamu jahat banget sih,” ujarku. Ia berhasil membaca kegelisahan yang bercampur dengan kekecewaan di wajahku. Aku menatapmu dengan tidak percaya, sedari tadi kamu membiarkan aku berkecamuk dengan segudang pertanyaan yang tidak bisa kumengerti atas sikapmu, kamu merelakan aku di ambang pilu karena tak kamu ajak bicara. Kamu juga yang seolah tidak peduli sibuk dengan dirimu..
Aku tau ini bagian dari rencanamu.. dan aku mulai terisak. Kamu merengkuh wajahku, mencium pipiku dan mengatakan sesuatu, “maafin aku sayang,” katamu lirih. Kemudian memelukku.
Ada banyak hal yang tidak perlu kuucapkan tapi kamu mengerti, ada banyak kata yang terlanjur membisu, ada banyak debu yang tiba-tiba tersiram begitu saja oleh hujan. Tapi hanya ada satu yang bisa selalu mengerti mauku tanpa kuminta, hanya ada satu yang mengerti maumu tanpa kamu minta, satu hal yang membuatku bahagia yaitu; kita.
Aku sayang kamu.

Friday, February 13, 2015

untukmu cinta sebenarnya





Dear ibu dan bapak.
Katanya hari ini hari kasih sayang ya bu? Pak?
Bagiku emba, setiap hari adalah hari kasih sayang. Seperti kasih sayang kalian yang tak terhingga untukku.
Saat ini usiaku sudah 20 tahun, dan selama itu aku pun mengenal kalian.
Ibu, bapak apa kabar? Anak gadismu ini semakin galau saja sepertinya. Aku di galaukan oleh rutinitas yang itu-itu saja, tapi kata ibu tidak boleh menyerah? Betul kan bu? Nah.. aku sudah pintar.
Ibu bapak yang terpisah oleh jarak, emba kangen..
Kalau saat ini boleh bilang, urutan teratas orang yang paling dikangenin dalah hidup adalah kalian, kedua orang tuaku. Entah rasanya kasih sayang, ketulusan serta doa-doa kalian adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.
Kata ibu, waktu kecil bapak sering ajak aku jalan-jalan? Iya pak? Bener? Dari umur aku 3 tahun bapak sering ajak aku naik taksi? Kata ibu juga aku seneng banget liat lampu yang kelap kelip. Bener ya pak?
Aku gatau kenapa aku suka kedua hal itu, aku Cuma suka sesuatu yang baru, salah satunya perjalanan, karena dalam perjalanan aku menemukan orang-orang baru yang membuatku belajar. Aku suka berdiksusi dalam forum, aku suka mengetahui sesuatu dengan bertanya, kepada siapapun, aku suka setiap kali aku mencari.. dan berujung pada pertemuan-pertemuan tak terduga
Kalau lampu kelap kelip..  lampu itu terang dan kelap kelip itu warna, aku suka sesuatu yang ramai, aku suka keadaan dimana aku tidak sendirian. Aku punya banyak teman yang notabene semuanya baik, aku suka kalau ada yang berkunjung ke rumah,  entah sepertinya warna-warni itu indah dari pada monokrom.
Pak, beberapa hari yang lalu aku bertemu ibu. Kucium tangan lembutnya, aku pulang. Kali ini tidak sendirian. Aku bersama beberapa teman. Tapi aku pulang hanya untuk singgah sebentar kemudian aku pergilagi. Melanjutkan perjalananku selanjutnya. Aku nekat pergi ke beberapa kota besar di pulau jawa. Bapak tau pertanyaan pertama ketika aku bertemu dengan ibu apa? Ibu menanyakan kabarmu. Dan aku bilang bapak baik-baik saja.
Bu, sebelum bertemu denganmu, sehari sebelumnya aku di jemput bapak di kampus karena keaadaanku yang tidak baik.  Ia menyampaikan salamnya untukmu, dan tiga adikku serta permohonan maaf yang sedalam dalamnya. Aku tau rasa kangen dina dan ayub ke bapak yang berlipat-lipat lebih dari aku.
Ini tepat tanggal 13 februari, aku baru saja mengalami fase dimana aku harus berpikir lebih kedepan. Mewujudkan mimpi-mimpiku satu persatu. Aku tidak pernah menjadi anak yang baik untuk kalian, tapi aku selalu mencoba. Aku tidak pernah menjadi orang yang baik, tapi aku selalu berusaha baik. Di mana setiap orang selalu ingin terlihat lebih baik, tapi rasanya aku tidak ingin Nampak baik, tapi aku ingin menjadi yang lebih baik.
aku tidak pernah mengingat, tapi kata orang kalian membantuku berjalan, bapak membantuku belajar sepeda, ibu mengajariku mengaji, bapak selalu membantu dalam pelajaran, sedangkan di awal bangku sekolah ibu mengenalkanku pada huruf dan angka, bapak mengajariku mengikat sepatu, sementara ibu tidak pernah lupa mengingatkanku menaruh sepatu di tempatnya, bapak selalu membelikanku mainan favorit sementara ibu selalu membereskannya setelah aku terlelap karena kelelahan diantara tumpukan mainanku.. kalian adalah komposisi yang tepat untuk sesuatu yang perlu banyak belajar seperti; aku.
aku selalu menemukan kehangatan di setiap kalian menatapku, sekalipun diantara kesalmu karena aku anak yang terbilang bandel.
setiap anak selalu ingin berada di tengah orangtuanya. iya pak,bu, seperti aku ini. setiap hujan aku kangen teh dan pisang goreng buatan ibu. setiap malam aku kangen main halma sama ayub dan bapak.
aku terlalu kangen untuk menceritakan semuanya disini..
kalian adalah sebenarnya cintaku, untuk seumur hidup yang tidak pernah aku lupakan.
Oh iya bu. InsyaaAllah, april aku pulang.. kalo besok aku kangen akut, besok aku pulang.
Aku tidak ingin membuat diriku lebih kangen lagi. Sebab aku tidak bisa berteman dengan kangen lebih lama.

Dari yang tersayang.

Nona sagitarius.