Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.

Sunday, July 13, 2014

Jatuh cinta diam-diam.

Dear Tuan Capriorn,

Aku janji untuk menuliskan surat balasan untukmu. sepertinya dengan surat-menyurat kita seperti ini obrolan kita semakin sakral dibandingkan aku mengirimimu pesan singkat yang ujung-ujungnya obrolan kita tidak jelas atau kau sedang tidak ingin dekat dengan handphonemu itu.

tidak apa-apa Tuan, kegalauanmu membuahkan hasil yaitu; tulisan.

lupakan soal orang kedua atau ke tiga sekalipun, sebab aku sudah melupakannya. Ia hanya sebuah masalalu. Kau benar Tuan, orang kedua dan ketiga adalah orang tua dan sahabat. seharusnya aku memfokuskan diriku pada mereka. sejauh ini, aku bahagia dengan kesendirianku.

Tuan, memangnya aku bawel ya? huft. Akugak bawel-bawel amat kok, maksudku dalam frekuensi tertentu. dalam perbincangan panjang kita di telepon, kau selalu memberiku masukan. entah apapun bentuknya. kau selalu berfilosofi, atau menyederhanakan filosofi-filosofi hidup yang terlalu sulit kuterjemahkan dengan sensorikku.

ada banyak hal di dunia ini yang membuat manusia berubah, entah apapun itu faktornya. tapi kukira perubahan sikap adalah sesuatu yang diwakilkan oleh rasa dan sering kali kita mengumpati rasa itu demi hubungan baik yang telah terjalin. Tuan, bagaimana kalau seseorang jatuh cinta diam-diam? seperti buku yang pernah di tulis seorang perepuan supergalau, ya, kau bisa menebaknya sendiri lah. apakah cinta itu bisa diucapkan seperti keinginan hati kita, Tuan? bagaimana kalau semua keadaan berubah dalam waktu yang relatif singkat?

Tuan, aku sudah membaca web barumu. aku suka tampilannya. hehe. emm, terimakasih telah menjadi teman pena yang menye-bal-kan. juga menyenangkan.

cheers, Nona Sagitarius.

jawaban atas pertanyaanmu.

hai, mungkin seharusnya aku tidak berbuat hal ini denganmu. tapi kalau tidak kau mungkin seperti ini terus.
dari beberapa bulan yang lalu, aku selalu menghindarimu.
mungkin tanpa sebab.

atau justru sebaliknya, sebab aku tidak ingin lebih lama menyakitimu.

kamu tau?
dari perbincangan kita yang tidak pernah nyambung, dari sikapmu yang terlalu acuh, bagaimana aku bisa mencintaimu?

ada banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin kutanyakan denganmu. tapi tidak etis jika kutanyakan di sini.

aku kecewa denganmu, saat kau hampir tidak pernah mengangkat telponku, padahal kamu tau? saat itu aku berusaha ingin berbagi sepenggal kisahku denganmu. aku kecewa.

aku menanyakan soal matematika denganmu, waktu itu kuharap kamu jadi orang pertama yang membantuku, tapi isi balasan smsmu malah "Kamu butuh jawabannya kapan? nanti ya aku cari jawabannya,"
dan aku malah mendapatkan jawaban soal matematika itu dari temanku yang lain, yang kutau dia sangat sibuk. aku juga kecewa.

waktu kau menanyakan "kamu inget gak sebentar lagi hari apa?"
jujur, aku tidak tahu. tapi mungkin jika sekiranya salah, aku minta maaf, jadi kubalas smsmu dengan, "tanggal jadian kita,"
lalu kamu menertawakan aku. akukan sudah minta maaf.
pada saat hari H, aku berusaha menghubungimu lewat telepon. kukira itu adalah satu-satunya cara paling efektif mengucapkan kata "selamat ulang tahun" tapi kamu malah tidak mengangkat teleponku yang pertama, yang kedua, yang ketiga, dan aku lupa sudah menelponmu berapa banyak. tapi kamu tau? aku kecewa.

sebetulnya, aku bukan tipikal orang yang harus kau ingatkan, aku akan mencari tau segala apapun hal yang berkaitan dengan orang yang kucintai, tanpa sepengetahuannya. dan aku lebih suka memberi kejutan dari pada mengumbar-umbar janji.

aku mencoba meninggalkan seluruhnya, apapun, semua hal tentang itu. termasuk kekecewaanku. di tengah kau sering kali mengirimiku pesan singkat yang berisi kata-kata entahlah, aku sendiri tidak bisa menjelaskannya, menurutku kata-katamu terlalu di awang-awang. buaian kata-katamu tidak berlaku.

 kemudian, yang paling membuatku sedih suatu hari, setelah sekian lama kau tidak menghubungiku, kau menanyakan "bagaimana tentang perasaanku?"

perasaan yang bagaimana menurutmu? aku baik-baik saja.

aku tidak langsung menjawab, dan kau menanyakannya lagi. dengan pertanyaan yang sama.

aku harus jawab apa? apa yang ingin kau dengar?

dan saat itu kamu malah ngajak ribut soal kesetiaanmu yang kau tanggung sendiri itu. aku sangat kecewa.

Tuan, maaf jika ini terlalu menyakitkan, maafkan aku yaa.

kamu terlalu abu-abu, terlalu menggantung dengan ketidakpastian yang terlalu lama.

dan yang paling membuatku kecewa berlebih-lebih, kau menyebuutku "sudah pindah ke lain hati sekian kali" sadar tidak, kau mengecewakanku lagi.

kalau memang kamu bersungguh-sungguh, tidak seharusnya kau berkata seperti itu, kesannya aku perempuan yang mudah jatuh cinta, padahal, kenyataannya, mengucapkan sebuah kata cinta itu hal yang sangat sakral yang akan mengubah perasaan yang biasa menjadi tidak biasa, perasaan yang berlarut-larut sayang.

bertemu dengan laki-laki, kenal baik, akrab, enak diajak ngobrol, perhatian, apa kita tidak jatuh cinta pada orang itu? perempuan akan merasa terlindungi jika ia mempunyai seorang teman yang bisa berbagi, bercerita dengan nyaman tanpa kepentingan apapun.

beberapa hari yang lalu, kau mengirim pesan lagi. kau bilang, bahwa ibumu menanyaiku?
aku sempat tidak mengerti dengan isi pesan singkatmu, maaf bukannya tidak percaya, tapi orang yang belum pernah bertemu denganku, seumur hidup bagaimana tiba-tiba bisa menanyakan kabar? aku yakin ibumu jauh lebih dewasa dari aku yang nyaris masih tergolong remaja labil yang bisa seenak jidatnya menyapa orang walaupun orang itu tidak kukenal.

jadi haruskah aku percaya padamu? kalau kenyataannya dalam hidupku kau tidak pernah benar-benar hadir, kau juga tidak pernah ada, aku tau kau sibuk, aku sangat mengerti, itu penyebab kita putus kan waktu itu? dan aku masih kecewa dengan itu. entah sudah berapakali kutuliskan kata kecewa dalam surat ini. dan apakah semua kesibukanmu menyita seluruh waktumu? jika iya, silakan bersenang-senang dengan kesibukanmu, aku tidak pernah berkomentar, apalagi menuntut, itu mustahil.

jika iya, kau memang benar-benar serius, aku selalu berada di pamulang, setiap akhir pekan. dan kenapa kau sama sekali tidak menanggapinya? setidaknya mengajak bertemu, bicara serius soal hubungan kita (jika kau masih mau) tapi jika tidak aku juga tidak peduli. aku sedang bahagia dan fokus dengan kehidupanku yang sekarang.

untuk itu, aku tidak pernah melarangmu untuk mencari wanita lain yang jauh lebih baik dariku, carilah, masih banyak perempuan di luar sana yang cantik. sementara aku tidak. bahkan jauh dari kata cantik. dan jangan pernah kau katakan sebuah pernyataan bahwa kamu tidak pernah pindah ke lain hati setelah putus denganku. aku tidak pernah memintamu melakukan hal itu, sungguh.

tuan, kamu masih muda, bersenang-senanglah dengan pilihanmu. aku tidak ingin kau berjanji lagi. mungkin, jika dikategorikan, aku termasuk perempuan yang mudah kecewa dan tidak peduli dengan orang yang sudah mengecewakannya. mungkin begitu.

mungkin ini jawaban, beserta alasanku kenapa aku menghindarimu.

aku tidak ingin jauh lebih lama menyakitimu. karena aku tidak pernah berniat sedikitpun.

sekali lagi aku minta maaf.

nona sagitarius.

Friday, June 20, 2014

bersamamu dalam hitungan detik


Ada yang membuatku tersenyum sepanjang hari ini.
Kamu tau? Penyebab paling utamanya adalah kamu. Kamu yang semalam datang dalam mimpiku untukmenemuiku, mengantarkanku pada ambang kisah masalalu kita yang dibungkus dengan pita kehidupan berupa kenang. Dan mengenangmu adalah sebuah perjalanan ke lorong masalalu yang melukiskan cerita indah kita di balik seragam putihabu-abu dulu :’)

Di dalam mimpi itu, kau tersenyum, menatapku, memintaku untuk tetap berada di sisimu sepanjang kau masih bernapas. Aku yang terbaring di pangkuanmu, nyaris tidak berani menatapmu, aku menggigit bibir bawahku—suatu kebiasaan yang kau sendiri paham—bahwa itu berupa efek dari kecemasan dengan frekuensi kecil.

“Kamu ingin selalu bersamaku?”

“Ya,” jawabmu.

“Sungguh?” Aku mendongak, nyaris tidak percaya kamu benar-benar datang, sayang.

“Selalu, bersamamu, dengan kesungguhanku,”

Aku berusaha mencerna kata-katamu yang paling terakhir sebelum napasku sesak. Seolah-olah oksigen di sekitarku habis dalam hitungan detik.

Kamu menatapku, masih dengan tatapan yang sama, tatapan yang bisa membuatku tergila-gila padamu terhitung sejak detik pertama aku menikmati dua bola mata di balik kacamata minus yang bertengger manis di hidungmu, danitu yang membuatmu makin rupawan. Bagiku kau sempurna.

Mimpi itu membuatku mengingat-ingat tentang kita. Bahwa aku dan kamu pernah ada, untuk bersama dengan frekuensi rasa yang sama. Yang manasetiapku melihatmu, aku akan gugup sempurna, aku kehilangan semua perbendaharaan kata-kataku. Padahal nilai bahasa indonesiaku nyaris sempurna.

Aku mengingat sebuah genggaman tangan yang tidak pernah terlepas, sebuah tawa riang dari dua remaja labil dalam kefrustasian tugas-tugas sekolah.

kalau boleh, saat ini, aku ingin menemuimu. Berlari memelukmu lalu sesungukan di antara dadamu yang bidang. Aku suka menyandarkan kepalaku  pada bagian itu, dan itu menjadi tempat favoritku  yang kedua setelah kursi XXI dengan film keren bersamamu. Aku ingin menumpahkan seluruhnya, bahwa selama ini—setelah kamu pergi dengan mengakhiri ciuman dipipiku—setelah kamu mulai merenggangkan genggaman tanganku—aku belum juga menemukan orang yang sama sepertimu.

Tapi entah, kenapa hal itu bisa terjadi. Ini kesalah pahaman.Aku yakin kamu mengerti, ah, aku bergurau.

Maaf.

Aku selalu diam-diam mencuri fotomu, mengamatimu dari layarhand phoneku, setelah aku lelah, kuhapus foto itu, lumayan untuk penawar rindu seminggu. Biasanya seperti itu. Atau yang lebih sering lagi, aku menuli smemo-memo untukmu yang ku kumpulkan dalam sebuah kaleng, setelah penuh, kalengitu kubuang.

Lelaki berkacamata yang teramat sangat kusayang, aku merindukanmu, aku rindu derai suaramu yang setiap malam secara berskala tersalur di telepon. Itu empat tahun lalu, bahkan aku masih hafal jenis suaramu. suara yang naik dua oktaf jika kau gemas denganku. dan itu terdengar lucu. aku semakin ingin menciummu.

Sekarang, kamu tumbuh menjadi lelaki yang dewasa, aku yakinkamu tambah tinggi, dan spertinya jika bertemu denganmu aku harus menggunakan heels 5cm untuk bisa setinggi bahumu.

“Sayang, banyak hal di dunia ini yang belum kita lakukan,”katamu.

Aku mengangguk setuju, aku masih betah menidurkan kepalaku di pangkuanmu, ini hanya sejenak, aku janji, biasanya yang menjadi tumpuanku adalah semua dokumen pekerjaanku. Tapi kali ini saja. Aku ingin denganmu. Bermanja.

“Dan aku ingin melakukan semua hal itu bersamamu,” iamembelai rambutku sejenak.

Aku hampir saja nelangsa.

Sayang..

Aku juga ingin..

Melakukan hal yang sama sepertimu..

Denganmu..

Dan aku sadar, ini hanya mimpi. Indah.



for: Mr glasses

Friday, May 16, 2014

surat terakhir untukmu :')

Menemukan orang yang ikhlas, itu sulit. Entah bagaimana definisi ikhlas itu sendiri kalau yang baik masih saja dinilai kurang baik, yang sepenuh hati di anggap gak punya hati. Padahal niat dan etikat sudah bulat. Tapi mungkin cara kita yang salah. Terlepas dari apapun, cara kita belum tentu berharga bagi mereka.

Ini adalah catatan terakhir untukmu, dengan menghilangnya aku dari hidupmu mungkin akan membuat semuanya berubah, berharap, kita akan menjadi orang yang lebih baik.
Ini bukan inginku, aku tau ini juga bukan inginmu.  Tapi hidup adalah pilihan, saying. Sebagaimana dalam realita kamu memilihnya tapi hatimu untukku, dan dalam kehidupanku, aku memilih orang lain, yang akan menghapus air mataku, menyemangatiku, bahkan menjadi sandaran untukku dan mencintaiku seumur hidupnya—seperti yang kau lakukan waktu itu.

Sayang, ini takdir kita. Kita sudah tidak bisa lagi terlalu lama bermain-main dengan hati. Akut takut jika ini 
akan menyakiti hati yang lain.

Aku sudah kalah, dan pasrah—meskipun dalam hidup untuk menyerah adalah perbuatan paling bodoh. Tapi untuk hal ini, itu yang kulakukan.

Sayang, sekarang, aku sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang lebih dewasa dari sebelumnya, aku selalu membandingkan hal yang harus kulakukan dan tidak kulakukan, dan melupakanmu adalah hal yang wajib kulakukan. Melupakan kita.

Anggap saja, kita adalah sebuah doa untuk masa depan, yang mana dalam pencarian panjang ini, aku bisa menemukan lelaki yang sama baiknya, lembutnya, dewasanya, dan sayangnya sepertimu.

Sayangku, kadang aku harus menjadi orang lain untuk membuat orang lain bahagia. Kau pernah mengatakan padaku, bahwa kau harus jadi badut untuk membuat kekasihmu tersenyum. Dan hal itu yang paling kubenci. Karna kau berpura-pura.

Sedangkan saat kita bertemu, kita selalu bagga menjadi diri kita masing-masing. Tidak ada yang ditutup-tutupin, tidak ada yang di sembunyikan, ngomong semaunya, sesukanya, nyanyi seenak jidat, ngoceh, ngocol bareng-bareng, ketawa, teriak-teriak kayak orang gila, bilang cinta di depan orang banyak—dan aku bahagia atas semua itu. Walau tidak ada orang yang tau bahwa kita saling mencintaipun, aku tetap mencintaimu.

Tapi sekarang, aku mengerti kenapa kau melakukan hal itu pada kekasihmu. Seperti halnya yang kulakukan padamu saat ini. Sebisa mungkin aku tidak peduli denganmu, aku bukan menjadi diriku yang dulu saat dihadapanmu, aku tidak mengenalmu, aku tidak menginginkan bertemu, bahkan untuk mengenalmu.

Aku ingin kau membenciku. Agar kau sakit, dan tidak ingin mengenalku lagi.

Sayangku yang selalu kusayangi, maaf jika ini terlalu menyakitkan. Tapi jalan kita. Anggaplah aku munafik—jahat atau apalah namanya, aku ingin kau bahagia bersamanya. Tolong jangan hubungi aku lagi, sayang. Kumohon..

Tuesday, May 6, 2014

orang kedua dan ketiga.


dear Tuan Capricon.

sebentar, aku aktifkan radar dulu. biiibb..

Hai Tuan, apakabar? bagaimana kesehatanmu? kuharap kau baik-baik saja.
Tuan, saat menuliskan surat ini aku baru saja pulang bekerja, aku ingat sesuatu, aku ingin sekali menulis surat untukmu lagi, setelah membaca potongan surat yang kau kirimkan saat event 30 hari menulis surat cinta.

Tuan Capricon yang baik hati. aku teringat pembicaraan kita beberapa dekade lalu soal orang ke dua dan orang ketiga. maksudku dalam pencarian. sebagaimana semua orang sibuk mengadakan pencarian dalam hidupnya, sementara aku masih (saja) sibuk memperbaiki hati. ini sudah kulakukan berulang-ulang kali. dan rasanya tidak cukup mudah.
bagiku sebuah pencarian adalah jalan dimana seseorang selalu diberi pilihan iya atau tidak, benar atau salah, dan tidak ada yang menjamin pilihan itu benar, kecuali hati.

waktu itu kau bilang padaku, kalau orang ke dua, atau orang ketiga dalam pencarian, belum tentu sebaik orang pertama, jadi seharusnya aku mensyukuri orang pertama yang hadir dalam hidupku, begitukan?
tapi bagaimana, jika orang pertamalah yang justru mengecewakan..
orang pertama yang justru terlalu menyakitkan..

masihkah kau tetap memilih orang pertama?
kalau aku, justru berdampak ke orang kedua dan orang ke tiga. tapi tidak berdampak pada orang-orangan sawah.

Tuan Capricorn yang sedikit menyebalkan, aku ingin memberitahumu, kalau sekarang ini, aku sudah bisa menjahit celanaku yang robek. itupun terpaksa. dan beberapa kali aku tertusuk, hasilnya juga tidak sebagus jahitan Ibuku. tapi kau tau? keadaan terpaksa itulah yang membuat aku bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. kata orang, itu namanya the power of kepepet. aku sih ikut-ikutan bilang begitu.

apakah hati pula harus dipaksa untuk seperti itu, Tuan?

aku harus benar-benar pergi? berpindah ke tempat yang baru?

ah, sudahlah tidak usah dipikirkan, Tuan. aku cukup bahagia dengan hidupku yang seperti ini. mungkin aku kurang bersyukur.

Tuan Capricorn yang selalu sok dewasa, aku suka caramu memberiku pilihan, nasihat, semangat untuk sebuah perjalanan hidup, serta solusi-solusi untuk setiap masalahku. aku suka ketika kita berbicara tentang tulisan dan genre yang kita pilih untuk menulis, aku suka tiap kau cerita bahwa kau dan menulis tidak bisa dipisahkan. aku suka ketika suara sabarmu menasihatiku, itu memberikan sedikit ketenangan.

Tuan, terimakasih telah menjadi teman terbaik, terimakasih untuk waktu, ide-ide, opini, kritik, dan apapun yang pernah kau beri.

kali ini, aku tidak akan menonjokmu lagi. hehehe. oh iya kapan-kapan berburu buku lagi yaa.
atau pinjami aku koleksi bukumu itu.
satu saja.
aku janji tidak akan kukembalikan :p


salam,

Nona sagitarius.

Sunday, April 13, 2014

Topeng kehidupan



Hidup adalah  sebuah
petualangan yang kerap memberikan kita rintangan, pilihan, dan kesulitan. Tatkala
kita sebagai manusia, sebagai makhluk yang berlumuran dosa ini adalah tokoh
utamanya.

Hidup membuat banyak orang memakai topeng, topeng kehidupan—sebagai
lakon atas dirinya. Hidup sering kali membuat kita terpaksa menjadi orang lain.
Membuat kita lebih egois, ingin ini, ingin itu, ingin segalanya. Bila perlu
seantreo bumi adalah milik kita seorang.

Rasanya semua manusia mulai memakai topeng. Bahkan acap kali
aku tertipu dan sulit membedakan yang mana yang memakai topeng dan yang mana—yang
tidak. Yang mana yang bepura-pura dan yang mana yang menerima kita apa adanya.

 Hidup juga tidak bisa memberi jaminan, kepastian yang layak
bahwasannya manusia tetap pada titiknya. Anggaplah semua orang yang
berlalu-lalang adalah semua kepura-puraan. Sampai akhirnya kita jengah dengan
orang yang bertuhan uang, bermental kompeni. Memperdaya orang-orang di bawah
dengan iming-iming surga.
Yang tersenyum, belum tentu dia bahagia. Yang
tertawa, mungkin saja memendam duka. Yang bersedih siapa tau hanya berpura-pura.
Tidak semua yang baik itu tulus, bisa jadi ia punya kepentingan.

Lalu, di mana letak ketulusan itu?...

Tatkala kita mempercayai bahwa semua
manusia akan bersikap jujur, tapi kadang seseorang memerlukan beragam topeng
untuk menutupi keburukan dan menyembunyikan kebaikan

Dan di mana kau sembunyikan hati yang
berpredikat

Thursday, February 20, 2014

mencintaimu karena sebuah alasan sederhana.




Air hujan yang jatuh selalu ikhlas.
Aku menatapi kaca jendela yang basah karena hujan. Menyemai wajahku yang sedari tadi sendu. Aku mengigit bibir. Wajahku pias oleh keadaan. Tanganku mencengkram gordyn bermotif polkadot. Entah sudah berapa lama aku mematung di sini. Menerawang ke rintik hujan yang tetap saja ikhlas walaupun ia sudah dipisahkan dari awan.
“Syaira, come on, aku ingin bicara sesuatu padamu,” suara messo sopran itu menarik sadarku.
Aku menghela napas sejenak, menghembuskannya perlahan, memejamkan mata sekaligus menulikan telinga.
Kosong.
Aku kosong.
Aku ingin kosong. Bukan hampa kuterima. Apalagi—saat mendengar suaramu—suara yang selalu  terkonfirmasi sebagai nada yang amat karib dengan gendang telingaku.
Aku makin kuat meremas gordyn.
“Sayang..” lirihmu. Kamu mencoba menggenggam tanganku—memisahkan dari gordyn yang sudah kusut.
Dari semalam, aku sudah menolak untuk bertemu denganmu. Aku menolak semua ajakanmu, dari mulai menonton film, bermain badminton, jalan-jalan, bahkan aku menolak untuk kamu ajak ke kedai kopi—sebagai tempat favorit kita—yang selalu kita pakai untuk bercengkrama, bercerita panjang kali lebar, atau sekerdar menatap wajahmu, menikmati mata cokelat pejal, wajah yang terlihat teduh dan sesimpul senyum yang bias membuat sekitarmu terlihat monokrom. Kamu sempurna.
Kamu membelikan tubuhku yang sedari tadi menegang. Kini, di hadapanku, aku bias melihat setiap garis-garis wajahmu, ada bagian yang berwarna kehijauan di sekitar wajahmu—sepertinya kamu baru saja menghabiskan sepuluh menit waktumu untuk bercukur tadi pagi. Celana jeans yang senada dengan Kemeja biru yang digulung selengan—aku seperti baru saja meneguk puluhan gelas vermouth. Mabuk berat.
“Apakah kamu merasa tidak nyaman denganku, sayang?” suaramu membentuk artikulasi sempurna, mengalun pelan, dan segera ditangkap oleh otak sadarku.
Aku menggeleng. “Aku baik-baik saja.”
“Kamu tidak pernah pintar memainkan drama, sayang,” kamu berhasil membaca bolamataku yang membendung sesuatu.
Bibir pucatku bergetar untuk mengatakan sesuatu. Kamu menatapku lagi, kali ini lebih-lebih mendalam. Tatapanmu berbeda dari pria-pria lain.
“Apakah kamu bahagia sekarang?” kini giliran aku yang bertanya.
“Ya, aku bahagia,” balasmu, aku merasakan sesuatu yang amat pedih menyayat-nyayat hatiku. “Tapi, tidak sebahagia ketika aku bersamamu. Aku tetap mencintaimu. Dan kamu tetap jadi wanita yang pertama untuk kucintai.”
Beru kali ini aku merasa di pahami dan memahami seseorang hingga sedalam ini. Aku tak pernah berpikir panjang. Bahwa apa yang tak terucap terkadang tak lagi penting. Bahwa ketidakhadiranmu sekalipun bukan berarti perpisahan. Bahwa tidak memilikimupun bukan berarti kalah.
Bukan inginku mencintaimu hingga sedalam ini.
Aku tersenyum getir. Air mataku sudah tak terbendung lagi, pecah berantakan meluber , melalui pelupuk mata, sejurus dengan sayatan-sayatan pedih tadi.
“Mencintai itu sebuah pilihan,” kataku.
“Kalau memang iya, aku sudah memilihmu. Aku ingin kamu, bukan yang lain. Hanya saja kamu datang terlambat, datang saat yang tidak tepat—saat aku sudah berjanji dengan yang lain,” aku berusaha mencerna kata-katanya.
Aku tertawa getir. Menertawai ketololanku. “Aku memang jam karet,”
Tapi ini bukan lelucon.
Mau dilihat dari sudut manapun, posisiku tetap saja salah. Tetap tidak benyenangkan—tidak bahagia, setulus apapun aku mencintaimu, sebesar apapun kamu mencintaiku, tidak ada satu alasanpun yang membenarkan sebersamaan kita.
Aku menatap sisa-sisa senyum yang belum pudar dari wajahmu. Entah bagaimana teknisnya, aku begitu mengagumi apapun tentangmu, semua hal yang berhubungan denganmu.
Kamu meraih tanganku, memilin jemariku dengan ruas jemarimu. “Kadang mencintaimu tak perlu alasan yang cukup—yang berkelit kelit. Mencintaimu kerena sebuah alasan sederhana.”
Yang bahagia adalah yang ikhlas, seperti air hujan.
“Aku mencintaimu,” ucapku.
“Aku juga,”