Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.

Tuesday, October 23, 2012

november


November.
Sekali lagi harus ku ingat kata itu. Bulan yang selalu ku nanti-nanti sepanjang tahun, karena bertepatan dengan hari ulang tahunku. Tepat pada tanggal 27 november nanti usiaku genap 18 tahun. Aku selalu menanti bulan itu, dimana aku harus mencari teka-teki tentang hadiah apa yang akan ku dapat dari Papa. Mungkinkan sebuah ciuman kasih sayang dari Ibu? Atau apapun yang bisa membuatku tersenyum.
Tapi, kalau ku ulang sejak dua tahun yang lalu, bulan November menjadi bulan yang paling menyeramkan. Ini yang menjadi unek-unek di dalam kepala kedua orang tuaku mengapa aku tidak seceria dulu saat menerima beberapa kado dari mereka. Mengapa aku tidak lagi tersenyum malu saat mereka mengucapkan “Happy b,day” padaku.
Ya, semua itu hilang begitu saja. Seperti di terpa angin masalalu. Yang mana bulan November menjadi sebuah kenangan yang terlalu memilukan. Masih ku ingat bagaimana senyumanmu menyihirku, membuat aku bertekuk lutut di hadapanmu untuk mencintaimu. Masih ku ingat di tanggal itu ulang tahun kita hanya berselang beberapa hari, dan di antara ulang tahun kita, ada hari yang mana kamu pernah mengiklarkan perasaanmu terhadapku. Mencintaiku sepenuh hati dan berjanji untuk selalu ada disisi.
Janji itu begitu saja ku amini, ku telan tanpa mengolahnya terlebih dahulu. Janji itu seperti ramuan mujarap yang sukses menyinari hatiku yang lama padam. Seharusnya di bulan ini aku mengucapkan kata “Happy anniv buat kita yang ke2”
Sekali lagi luka menarikku pada fakta yang belum bisa ku terima secara fana. Kamu terlalu indah untuk di lenyapkan begitu saja. Bagaimana dengan ice cream coklat yang kita nikmati bersama? Bagaimana tentang sippo? Aku bahkan tidak tau keadaan, terakhir kali aku bertemu dengannya, dia bilang, dia rindu pada kita.
Pernahkah kau tau, seberapa lama aku bisa melupakanmu? Jawabannya hanya hatimu yang tau, aku tidak akan berlaku egois pada diriku yang terlalu mencintaimu. Aku juga bukan wanita super, sekalipun wonder woman pasti tidak bisa hidup seorang diri.
Kamu pergi begitu saja meninggalkan cinta kita, jangan menjadikan apapun untuk alasan pembenaran, aku terlalu kecewa dengan pecundang sepertimu, tidak ada yang harus di bahas lagi, tidak ada yang harus kamu jelaskan. Otakku tidak bisa menerima jawaban darimu secara logika. Yang aku tau kau maya. Dan tidak nyata. Kembalilah ke duniamu dan lupakan aku. sekali lagi, happy anniversary buat kita.

blog blog blog


Hallo, udah lama ya, enggak ngeposting blog ini. maaf gue agak sibuk mantengin tulisan gue yang harus di edit. Oh iya ngomong-ngomong soal blog, gue kemarin dapet email dari Adek kelas gue yang curhat soal gimana nulis blog. Dan ada juga seorang temen gue *sorry gak sebut nama* yang nanya soal itu.
gue bukan orang yang pinter nulis blog, ketauan kan dari jumlah followers gue yang bisa di itung pake jempol kaki.  Gue juga bukan pemenang kontes ngeblog tingkat kecamatan. Tapi, gue adalah orang yang doyan banget bacain blog orang. Selain kepo sama “siapa pribadi si penulis postingan?” gue juga suka karena blog itu bisa di baca gratisan. *aku cinta gratisan*
di bandingkan dengan harga buku, blog mungkin untuk sebagian mahasiswa kayak gue itu penting untuk menggali informasi. Gue suka ngebuka link-link yang ada di temlen gue, gak salah kalo twitter di ciptakan sebagai mikro blogging. Buktinya gue anteng banget guling-gulingan di temlen.
Oh iya untuk menulis sebuah postingan emang gak gampang. Kita harus menyalakan laptop, nungguin lampu modem sampe ijo (seabad kemudian baru ijo) lalu berantem dengan sinyal modem yang selalu ngajak ribut. Oke, itu gak penting, tapi emang nyebelin banget.
 Buat nulis blog , berikut ini adalah saran2 dari gue:
1. buatlah blog lo senyaman mungkin.
Yang terpikirkan oleh kita kalau denger tempat yang PW adalah kamar. Walaupun kamar udah kayak kapal pecah atau kapal tenggelem gak masalah kan, yang namanya kamar sendiri sejelek apapun kamar itu kita bebas ngelakuin apa aja di kamar (asal gak ngenganggu privacy orang). Blog juga gitu. Buat blog lo, nyaman seperti kamar lo, buat diri lo betah berlama-lama nongkrong di blog. Kayak desain templatenya, back groundnya, font hurufnya. Apapun, yang bisa bikin blog itu lebih menarik.
2. membuat postingan.

. Kadang blog yang sering gue singgahi adalah blog yang menarik perhatian gue, enggak Cuma dari tampilannya aja, tapi postingannya juga. Ide-ide mereka tuh yang bikin gue gak mau move on dari blognya. Nah, cara nyari Idenya itu yang setiap orang punya cara masing-masing untuk membuat postingan lebih menarik. Simple aja, kalo lo emang bukan seorang penulis(atau setidaknya belum bisa ngakui kalo sebenernya lo penulis) ya, lo bisa bikin postingan dari kisah keseharian lo. Kejadian-kejadian lucu yang pernah lo alami, kejadian sial, kejadian menyebalkan atau apapun yang buat diri lo asik bercerita di blog lo. Ide itu bisa dateng dari mana aja. Bisa dari ucapan teman, dari video youtube,  dari foto yang tidak jelas yang di jepret entah kapan, dan kapan saja. Saat experiment di lab sekolah, saat kebelet di pesawat, nah kalo gue biasain bawa alat tulis kemanapun gue pergi. Jadi kejadian-kejadian itu bisa di catet dalam note. Atau sekarang udah canggih, tinggal bawa Handphone aja, simple. Tidak harus berpetualang keliling dunia untuk mencari-cari hal yang bisa di tulis, tapi cukup membaca banyak informasi agar postingan blognya gak kayak pepesan kosong. Tapi kalo kebiasaan gue nyari ide saat gue sendiri dan tidak berbicara dengan siapapun, ide yang keren tau-tau bisa muncul di otak gue gitu aja(tapi emang jarang banget L) atau, gue biasa duduk di depan laptop membaca ulang cerita yang gue udah buat dan otomatis ide untuk melanjutkan cerita itu pasti menggerakan sepuluh jemari gue buat nulis. (heh, kok jadi curhat)

3. kolaborasi gambar.
Di dunia ini ada beberapa orang yang benci banget ngeliat sederet tulisan. Beberapa dari mereka bahkan bilang kalo baca tulisan doang bikin mata jadi jereng. Gue gak nyalahin mereka sih, tapi dari gue sendiri juga setuju sama pendapat mereka. Nah untuk menghindari hal itu coba lo bikin kolaborasi tulisan lo dengan gambar-gambar. Missal tulisan lo adalah tulisan galau yang bener-bener galau, ya jangan lo buat gambar kucing kawin, gak jodoh banget cari gambar yang sesuai dengan tema tulisan lo. Gampangnya sih tinggal nyari di google :p
Jadi tulisan lo gak ngebosenin.

4. tulisan lo adalah pribadi lo.
Gue sebut ini karena gue (sedikit) bisa memahami pribadi orang dari gaya dia bercerita lewat tulisan, bahkan misalkan gue baca cerita fiksi sekalipun, secara tidak langsung karakter si penulis akan kebaca sama pembaca lewat tokoh yang mereka ciptakan. Tapi, kalo nulis blog. Lo bebas mau nentuin cerita apa yang lo tulis di blog lo. Setiap orang punya keinginan yang beda-beda kan? Yap, maka itu, blog di ciptakan untuk kita yang ingin berexpressi lewat tulisan. Entah tulisannya Cuma sekedar kunci jawaban ujian nasional tahun 1945, atau mungkin rincian tunggakan kontrakan selama setahun. Itu bebas.
Misal lo adalah seorang pelajar, mungkin kebanyakan orang memakai kata “gue” sebagai tokoh utama di blog lo. Itu cukup asik. Buktinga gue lebih enjoy dengan kata “gue” selain “aku” atau “saya” walaupun gue tau untuk seorang perempuan gak bagus kan pake “gue” tapi itulah blog. Bebas bercerita. Kalo gue biasa ngomong ngalor ngidul pake bahasa gue? Kenapa harus sok-sok di perhalus? Gue lebih suka terlihat apa adanya. Ketimbang harus jadi orang lain Cuma untuk menarik perhatian pembaca. (curhat lagi)

5. pemblogger adalah seorang penulis yang hebat.
Kenapa gue bilang begitu? Jawabannya simple. Seorang pemblogger tidak perduli ada atau tidaknya royalti dari tulisan-tulisan yang dia buat. Tulisan yang dia tulis berdasarkan hal kesukaannya. Seorang penulis adalah orang yang harus bisa mengendalikan egonya demi menciptakan tulisan yang bagus, bertentangan dengan halaman kosong yang mereka harus isi dengan sejumlah paragraph di setiap lembarnya. Tapi seorang pemblogger tidak. Dia lebih berego. Dia tidak perduli seberapa banyak orang yang mengunjungi situs webnya. Seberapa banyak mata yang membaca tulisan-tulisannya. Dia hanya perduli dengan expressinya yang di tuangkan ke dalam bentuk tulisan yang bisa dia share ke banyak orang.

Mungkin itu aja yang bisa gue share disini, gue juga bingung kenapa blog ini tau-tau berubah jadi diksi, padahal gue suka banget sama fiksi, yaudah deh. Namanya juga gue, kadang emang suka gak bener sendiri, ini blog di buat Cuma buat coret-coretan. Hehehe, semoga bermanfaat ya. J
Cheers, ovie.

Monday, September 24, 2012

keritikan dari kakak editor keren :D


Dear, Ovie.
Cerpen kamu cukup menarik. Ceritanya, kalau saya gak salah tangkap, adalah:
Dua orang musuh di kelas, diam-diam saling jatuh cinta, sama-sama gengsi untuk mengungkapkan perasaan masing-masing, dan ketika keduanya seperti hampir dipersatukan, mereka justru terjebak pada sebuah kesalahpahaman fatal.
Maaf kalo salah. Tapi itu yang saya tangkap setelah membaca 8 halaman cerpen kamu.
Meskipun tema seperti itu udah cukup umum dipakai (baik di cerpen, novel, FTV), tapi kamu menyampaikan cerita dengan cara yang cukup menarik. Keputusan kamu menggunakan sudut pandang orang pertama dari dua orang karakter (Adira dan Hadi) patut diapresiasi.
Sejujurnya, itu bukan teknik sembarangan. Itu teknik advance yang sebenernya jarang sekali dipakai oleh penulis fiksi profesional. Meskipun begitu, saya banyak ngelihat teknik ini dipakai sama penulis-penulis yang masukin naskah ke penerbit tempat saya kerja. Kamu, seperti penulis-penulis lain itu, terjebak pada satu kesalahan yang sama: lemah di karakterisasi.
Intinya, dua karakter utama di cerita kamu terasa seperti satu orang karakter yang punya kesamaan sifat, watak, dan perilaku. Adira dan Hadi terasa seperti satu orang. Bedanya, Adira cewek dan Hadi adalah cowok. Udah, itu aja. Selebihnya, mereka sama-sama punya sifat yang keras, sama-sama gak mau ngalah, sama-sama rela berjuang mati-matian untuk saling mengalahkan satu sama lain, sama-sama pintar—walaupun awalnya Hadi agak bodoh (tapi akhirnya nilai matematikanya 99), sama-sama suka memendam perasaan, dan sama-sama yang lain. Sebenernya gak ada yang salah dengan kesamaan sifat. Tapi kalau kesamaannya terlalu banyak, rasanya tulisan kamu jadi kurang berdimensi. Karakter yang ada di sana cuma gitu-gitu aja. Lagian, di kehidupan nyata, jarang juga kan kita lihat sepasang kekasih (atau suami-istri) yang punya terlalu banyak kesamaan? Yang sering saya temuin, sifat keduanya malah saling bertolak-belakang. Kalau yang satu keras, yang satu orangnya suka ngalah. Mereka punya kesamaan, tapi cuma di satu atau dua hal aja. Yang jelas, biasanya keduanya saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Sebagai contoh: saya. Saya suka menulis dan membaca fiksi, tapi calon istri saya sangat gak suka membaca, apalagi menulis fiksi. Sangat bertolakbelakang, bukan? Tapi mungkin justru itulah yang bikin hubungan kami jadi lebih berwarna. #curcol J
Nah, sekarang coba karakterisasi kamu dipertajam dan diperdalam. Caranya: bikin dua karakter utama itu punya sifat yang berbeda, atau bahkan bertolakbelakang sekalian. Kalau Adira memang punya sifat keras, kenapa Hadi gak dibikin sebagai cowok yang lemah? Bikin yang dramatis sekalian: Hadi adalah cowok yang cengeng. Oke, gak banyak cewek yang suka cowok cengeng. Tapi kamu kan penulis. Kamu punya—dan harus bisa bikin—seribu satu cara untuk membuat Hadi yang cengeng menjadi menarik di mata Adira. Mungkin dia cengeng, tapi gak suka selingkuh kayak cowok-cowok lain. Mungkin dia cengeng, tapi baik banget—suka ngasih uang ke orang gak mampu secara diem-diem. Mungkin dia cengeng, tapi punya kesamaan hobi sama Adira. Ehm, sebagai contoh, mereka sama-sama suka aero modeling. Gak masalah punya sedikit kesamaan, asal jangan terlalu banyak aja. Kamu pasti ngerti dan bisa bikin yang lebih keren dari itu. Dengan cara ini, cinta pertama antara Adira dan Hadi pasti bakal terasa lebih mengharukan dan lebih bermakna, karena kedua karakter berusaha menerima kekurangan maupun kelebihan masing-masing dengan cara mereka sendiri-sendiri.
Ngomongin soal point of view, kalau boleh saran, sebelum menguasai teknik dasar, lebih baik gak usah memakai teknik advance. Pakai aja yang dasar-dasar dulu. Salah satu teori dasar penulisan fiksi adalah: pilih satu point of view, dan konsistenlah sampai cerita selesai. Kalau kamu memutuskan memakai sudut pandang orang pertama, pilih antara Adira atau Hadi saja, jangan ikutin dua-duanya—kecuali kamu udah jago di karakterisasi.
Sedikit tips: pilih dari dua karakter itu yang paling menderita akibat konflik dalam cerita kamu. Karakter yang paling menderita bakal lebih banyak ngasih emosi ke pembaca. Dan semakin banyak emosi yang dirasakan pembaca, pembaca bakal semakin merasa terhibur. Tapi kalau kamu gak bisa memilih, ya gak usah maksa, silakan pakai sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang ketiga lebih memudahkan penulis untuk pindah antara karakter satu ke karakter yang lain, tanpa membuat cerita terasa janggal. Jangan jadi penulis egois yang berusaha kelihatan pintar dengan menggunakan teknik super, padahal kemampuannya belum memadai. Jadilah penulis rendah hati, yang walaupun kemampuannya udah super, tapi teknik berceritanya biasa-biasa aja (contoh: Ernest Hemingway, Harper Lee, Khaled Hosseini, dll).
Yang perlu kamu pahami, jangan terpaku bikin cerita yang cara penyampaiannya keren aja. Bikinlah cerita yang cara penyampaiannya biasa, ceritanya mungkin juga biasa, tapi punya makna dan pesan yang dalam. Tapi juga jangan terlalu menggurui. Makna dan pesan itulah yang akan membedakan antara penulis biasa dan penulis hebat. Kamu tentunya ingin jadi penulis hebat kan?
Selain point of view dan karakterisasi, kritik saya yang lain: coba bikin format tulisan kamu lebih rapi. Saya langsung kasih contoh:

Copy-paste dari tulisan kamu:
  “Hadi, bayar uang kas dong! Udah tiga minggu lo gak bayar” pintaku sambil membawa buku catatan uang kas kelas. Kebetulan di kelas VII-B aku menjabat sebagai bendahara kelas.

Yang benar:
“Hadi, bayar uang kas dong! Udah tiga minggu lo gak bayar,” pintaku sambil membawa buku catatan uang kas kelas. Kebetulan di kelas VII-B aku menjabat sebagai bendahara kelas.

Perhatiin: First line indent di-set di 1 cm, bukan cuma dikasih 2 spasi seperti yang kamu bikin. Perhatiin ujung dialog. Setelah kata “bayar” dan sebelum tanda petik dua, harus dikasih tanda baca, entah itu titik atau koma. Dalam kasus di atas, lebih tepat pakai koma. Selain itu, biar lebih rapi, mending pakai alignment yang Justify, bukan Align Text Left. Ini ketentuan teknis yang biasanya dipakai di hampir semua media yang saya tahu. Kelihatannya sepele, tapi bakal berpengaruh besar kalau kamu nyoba masukin naskah ke penerbit.
Ovie, kamu udah punya modal yang kuat jadi penulis. Dari segi plot, dialog, alur, kamu sudah cukup baik. Sangat terlihat kalau kamu punya referensi bacaan yang banyak. Teruslah membaca, dan jangan batasi bacaan kamu. Jangan cuma baca teenlit, tapi coba baca karya fiksi dengan berbagai macam genre. Itu akan memperkaya referensi, sekaligus memperkaya kemampuan kamu dalam bercerita—bahkan tanpa kamu sadari.
Semoga di masa depan kamu berhasil meraih cita-cita kamu, menjadi penulis hebat yang mengharumkan nama bangsa, negara, maupun agama. Saya yakin, kalau kamu terus konsisten, terus rendah hati, dan terus belajar, kamu bakal bisa meraih apa pun impian kamu.


Salam,

Gari Rakai Sambu




to kakak editor. terimakasih terlah mengkeritik begitu banyak tulisan saya yang jelek itu. salam hormat dari penulis pemula ini. saya merasa sangat terhormat sekali bisa di kritik oleh orang super sibuk seperti kak gari. ini modal untuk saya. trimakasih atas ilmunya yang tak sembarangan orang bisa mengajari saya.

salam.

ovie nurbaity paring.

Sunday, June 24, 2012

Luka karenamu.


 Ingatkah?
  Kita pernah tertawa bersama,
 melewati satu hari
dengan perasaan saling cinta.

Taukah?
  Saat aku harus kehilanganmu,
Melepassmu dari hidupku?
Tanpa memperdulikan perasaan yang baru saja tercipta.

Mengertikah?
  Perasaan yang teriris oleh keadaan
Menjadi luka jiwa.
 Karena aku tak bisa melepasmu.

Kapankah?
  Kau ada untukku? Menjadi tempat bersandarku dan berbagi cerita luka yang selama ini menyatu dalam hatiku.

Thursday, June 14, 2012

lossed


“Kadang jika aku merindukan mereka aku hanya bisa mengingat betapa indahnya keluarga kecil itu.”

  Hidup itu tidak selalu berjalan sesuai yang kita harapkan. Aku terlahir di tengah keluarga kecil 18 tahun yang lalu, dimana aku menikmati begitu bearnya kasih saying kedua orangtuaku sejak tangisan pertamaku.
  Ibu. Pahlawan yang tidak akan tergantikan. Ia adalah satu satunya wanita yang rela di robek perutnya demi aku. Demi kelahiranku. Ia tidak rela aku disakiti siapapun. Bahkan ia tidak akan rela seekor nyamuk pun menggigitku.
  Bapak. Seperti superhero tanpa kostum. Ia adalah sosok yang kritis, namun berhati lembut. Sampai detik inipun aku tidak pernah di marahi olehnya. Mungkin jika aku salah aku akan selalu di ingatkan oleh beliau.
  Aku dan adik-adikku merasa anak2 yang paling beruntung. Hidup di tengah keluarga amat bahagia. Sampai cobaan menerpa keluarga kami. Masalah melanda memecah belah kami. Dan hal yang paling aku takutkan terjadi. Ibu dan bapak akhirnya bercerai. Aku menatap mereka dengan penuh linangan air mata.
  Apakah harus seperti ini? Perpisahan? Kehilangan? Perceraian? Tuhan, tahu kah kau. Aku sangat mencintai mereka?
  Aku harus jauh dari ibu dan adik perempuanku. Saat itu, aku benar2 butuh sosok ibu untuk berkembang dewasa. Bu. Aku ingin ibu disini. Yang setiap hari memasak untuk u. yang setiap hari menemaniku makan siang dan menjadi teman curhat jika aku punya masalah atau lelah habis sekolah. Sekarang sosok yang selalu aku rindukan itu jauh aku hanya bisa menelponnya sesekali untuk menanyakan kabar beliau.
  Aku berada di titik dimana aku benar2 terjatuh ke jurang. Aku butuh ibu, aku butuh keluarga yang utuh.
Suatu hari aku bertanya pada bapak.
  “Pak kapan ya ibu bisa satu rumah lagi sama kita?”
Bapak hanya tersenyum. “semoga saja. Semua sudah di atur allah ndok” kata bapak membuatku pilu. Lelaki yang selalu membuatku ingin bergelayut manja di lengan kokohnya setiap kali aku bertemu dengannya kini menatapu penuh kepastian.
  Banyak orang bilang. Perpecahan keluarga itu menjadi suatu factor yang bikin anak2nya gak bener. Buat aku. Perpecahan ini memang menjadi duka. Tapi sekaligus pemacu. Agar di masa depan kelak, akan menjaga keluarga kecilku tetap utuh.
  Bapak bilang “kita sudah sama-sama terluka. Maka jangan menambah luka lagi di keluarga ini” dan itu membuatku haru.
  Aku. Detik ini. Tidak pernah sedikitpun kekurangan kasih sayang dari orangtuaku. Mereka tetap menjadi superhero untuku.

Friday, June 8, 2012

sahabat di kantor

aku suka bingung sendiri kalo di kantor. orang2 dewasa itu selalu berbuat aneh. pergi pagi pulang malam. menikmati cerutu yang tidak enak rasanya. kopi item yang juga aneh. lalu sering kali bercanda atas membahas soal2 mennyimpang. atau menyamping? ah sama aja menurutku. kecuali 3 temanku di kantor yang bisa si bilang asik alias mereka bisa di katakan engga macem2 kayang yang lain.
pertama kak dave. namanya Defender raba. dia bilang kalo orang keren yang nyebut namanya dia pasti "difender" bukan "defender" kalo aku bilang sih agak mirip sama obat nyamuk ya?? lafender? hehehehe pis kak.
 rima bilang kak dave itu orang super romantis. seperti yang pernah dia update di BBM . kak Dave dari kalimantan lho! tepatnya di pontianak. dia enggak ngerokok. tipikal pacar yang setia dan superromantis. iya lah secara ceweknya di kasih bunga dan coklat waktu ngambek hehehhe. kalo gue? hemmm...
informasi terakhir kak dave Margin 30 juta wesss keren deh. di pendiem kok. dan paling suka kalo ada sesi curhat. oh iya kak Dave juga penyuka lagu galau2 gitu di BlackBerry nya.dari mulai ungu-sampe dewa ada. dan lagu neng nong itu dia suka banget. menurut dia sih lagu galau itu asik banget kalo di pake otw. heheh mungkin ka Dave dapet inspirasi kali kalo lagi otw ngantor atau ngampus pake lagu galau ._.v
 kedua itu ada dwi. dwi suci lestari. boleh panggil dwi, suci atau lesta. terserah deh mau panggil apa. @lesthayusuf manusia satu ini engga jahat dan enggak gigit. udah agak jinak sih ehehhe. dwi ini orangnya baik. sua bawain gue coki2. wah kalo dia bawain coki2 buat gue senengnya minta ampun. cewek satu ini hobbynya agak lain dari cewe yang lain.yaitu suka banget sama bola. dan dia adalah seorang internona *sebutan pagi penggemar inter cewek* mungkin gue emang enggak terlalu suka atau tepatnya enggak terlalu ngerti bola. kalo gue ngerti bola juga pasti gue udah menggilai bola. atau bisa jadi lebih gila dari pada dwi. kak dave tuh kalo ketemu sama dwi udah kayak colokan sama setrum. ngalor ngidul ngomongnya bola mulu. dan si cewek pencinta bola ini yang jemput inter lho di soeta. orangnya si asik. bisa mengerti segala kekurangan aku. dan mungkin dia cewek yang tepat untuk di fikar. longlast terus yaaa.
ketiga rima. Rima dwi sasmita panggil aja rima. orangnya kurus kering dan galak kalo sama pak ariel. apalagi kalo lagi PMS wesss ati-ati bisa di bacotin sama dia. hobbynya suka makan gorengan. dan gak doyan makan sayur. pantes aja badannya kecil. ketiup angin juga terbang heheheh. tapi di orangnya asik lho.sama kayak dwi bisa jadi orang yang mengerti gue. di salah satu penggemar kak Dave. tapi berantem mulu sama pacarnya. sabar yaa rima si pacar sayang kok sama lo. ehehehehe. sorry ya rima kalo fotonya gue ambil berdasarkan fudul hehehe. kita bertiga adalah bawahannya pak ariel yang super guanteng. btw hari ini kita bertiga udah bohong sama pak ariel. bilangnya prospek eh taunya malah ikut kegiatah kagak jelas, maapin kita yak pak ariel -____- aku kak dave. rima sama dwi sering curhat tentang pacar kita masing2. kalo sesi curhat sore udah di buka wah seru banget. sampe pak deni manager tetangga keganggu dan ngeledekin kita deh.

Sunday, June 3, 2012

efek candu buku.


Mau curhat colongan tentang hobby gue yang kadang enggak lazim ini. Dasar ababill!!!
 Hehehe, guys. Sejak kelas 1 smp gue mulai suka baca buku. Entah kenapa saat itu mungkin gue butuh hal-hal yang bikin gue sibuk sama diri sendiri. Selain baca al-qur’an ibu lebih seneng ngeliat gue di anteng di rumah sambil belajar. Padahal gue sama sekali enggak hobby belajar. Gue orangnya cepet bosen. Sama hal yang itu-itu aja. Maklum anak labil. Akhirnya gue bikin keibukan dengan membaca. Ternyata membaca itu enggak menyeramkan seperti yang kita pikirkan lho. Om @arifmaulana06 bilang buku itu bisa di gaya-gayain. Enggak harus di liat dari depan tapi untuk foto bareng buku bisa narsis. Atau mungkin emang orangnya kelewat narsis? Tanyain aja deh.
  Dan membaca buku tidak Cuma bikin pinter dan berwawasan lho. Baca buku juga ada efek sampingnya.
  Sekarang, detik ini gue menggilai buku. Entah kenapa menurut gue buku itu adalah nasi yang harus gue konsumsi setiap hari. Gue cinta sama buku-buku yang gue beli. Entah itu beli di took buku bekas, minjem. Minta. Minjem kagak di balikin. Atau ngumpulin duit jajan buat beli buku. Kadang gue lebih ikhlas ngerelain duit gue buat beli buku di banding buat beli bakso. Sebenernya gue pengen beli bakso tapi nunggu jatah uang jajan gue meningkat *lho kok curhat*
  Buku yang gue beli selalu gue sampulin pake pelastik sampul putih yang transparan. Dan gue namain. Tujuan nya biar tetep awet dan kagak ilang. Gue bisa nangis semaleman kalo buku yang udah gue beli ilang. Apalagi harganya mahal banget.
  Oh iya. Tadi gue bilang kalo baca buku ini ada efeknya ya. Efek negatifnya buat gue adalah “candu” gue kayak pengguna narkotika gitu. Candu buku. Apalagi kalo ceritanya bagus. Keren dan menakjubkan. Kayak keempat bukunya kak aliazalea #metropop itu gue baca. Sumpah candu banget. Gue sampe enggak tidur deh. Apalagi inget tokoh yang di ciptakan kak alia itu sungguh keren. Ervin, revel, dan kafka bikin aku jatuh cinta sama tokoh2 itu. Lalu membaca twilight bikin aku juga enggak bisa tidur. Dan mungkin novel #sepatudahlan nya mas kris @1bichara juga bisa bikin aku tak bisa tidur deh. *curhat*
  Efek yang lain. Sewaktu gue duduk di kelas 2 sma. Gue lagi ujian pkn. Pelajaran yang menurut gue gampang. Gurunya juga selow. Waktu itu ujian pkn mendadak. Cuma di kasih waktu 10 menit buat belajar sebelum ujian harian itu di mulai. Gue belajar tuh. Cuma ngafal2 yang penting-penting aja. Gue emang gampang buat ngafalin sesuatu. Jadi gue ngejalanin ujian dengan selow. Soal yang di buat juga gampang2 gitu. Bukan ngeremehin pelajaran tapi emang otak gue bisa ngejawab semuanya.
  Selesai ngisi soal. Mungkin gue orang pertama yang selesai ngerjain soal ujian. Dari pada gue bengang-bengong dan di resein sama sebelah gue yang selalu menantikan contekan gratisan dari gue, apa salahnya gue baca novel lanjutan. Gue inget waktu itu novel nya kak esti kinasih. Jingga dan senja. Trilogy buku laris di pasaran. Ceritanya emang oke punya. Makanya gue enggak bisa lepas dari tu buku sampe ceritanya selesai.
  Minggu depannya. Pas pelajaran pkn lagi. Di umumin hasil ujiannya. Dan ternyata gue REMEDIAL! Iya remedial sodara-sodara. Gue enggak abis pikir kenapa gue bisa kayak gini? Apa yang gue jawab itu salah. Perasaan gue enggak! Gue di panggil maju kedepan sama temen gue yang ikut remedial juga. Gue di jewer. Guru gue bener2 marah. Entah kenapa gue masih bingung. Terus gue di keluarin dari kelas dan disuruh ngerjain soal ulang di koridor.
  Gue malu! Sumpah malu abis di gituin sama guru PKN. Dia yang gue kenal sabar dan dia adalah pembimbing karya ilmiah gue bisa galak begitu. Selesai ngerjain soal. Dan gue kembali bilang kalo soal itu gampang. Setelah itu gue balik ke dalam kelas membawa hasil kerjaan gue dengan wajah yang masih malu. Iya Malu lah. Jelas di kelas itu ada orang yang gue suka! Aduh. Setelah menyerahkan hasil kerjaan gue yang berupa remedial. Guru gue bilang. “lain kali kalo lagi ulangan atau jam pelajaran di larang membuka buku lain selain buku pelajaran” nah disitu gue baru ‘ngeh’ titik kesalaha gue. Baca novel pada saat ulangan harian. Itu menjadi boomerang buat gue.
  Terus gue mendapat teguran saat jam kantor dari atasan gue. Kalo gue enggak boleh baca buku di jam kantor. Dari beberapa kejadian yang gue alami. Gue berpikir. Candu buku itu bagus. Tapi liat sikon. Dimana kita harus menempatkan posisi membaca kita pada saat yang pas.