Sebelum menjadi kita, aku dan kamu adalah dua buah tanda tanya yang berusaha mencari jawaban dengan ke-mengertian, sampai pada akhirnya kita lelah, menyerah dan berhenti di sebuah titik, untuk saling berpegangan agar bisa meneruskan perjalanan.

Sunday, June 3, 2012

jiwa untuk cinta part2


Suara sendu, syahdu mengelitik telingaku. Agar menikmati lagu itu lebih mendalam. Kami berputar putar diatas udara malam yang dingin. Apakah ini perasaan yang Gerald bilang kepadaku?
  “Kau lelah?” tanyaku melihat wajahnya yang makin memucat.
  “Tidak. Aku sangat bahagia. Kau satu satunya temanku” katanya. Kami duduk di atas tower gedung rumah sakit. Menikmati semilir angin yang menembus raga rapuhnya. Mungkin aku tak waras. Membiarkan gadis ini disini. Itu sama saja mendekatkannya pada kematian. Aku tau aku bodoh.

Rachel.
  Malam ini malam yang paling indah. Andaikan tuhan mencabut nyawaku setelah ini. Aku rela. Sebab sekarang aku tau, dimana titik kebahagiaanku selama ini. Bukan bernyanyi. Tapi El. Ia titik kebahagiaanku.
  Aku tak perduli seberapa dinginnya malam ini. Aku tak perduli seberapa kejamnya angin malam untuk tubuh yang rentan ini. Aku hanya ingin bahagia dengan El.
  El melepaskah jubah hitamnya untuk menutupi tubuhku. Lalu ia tetap memelukku. Membiarkan kepalaku melesat di dadanya yang kekar. Bau kematian pada El sungguh tercium olehku. Jiwanya yang selalu tenang. Memberikan keistimewaan tersendiri.
  “Kau menginginkan sesuatu dariku?” Tanya El sambil menikmati susu kotaknya. Entah itu di dapat dari mana. Ku kira hanya aku yang menyukai susu kotak. Makhluk lain juga rupanya suka.
  Aku meraih kotak susu itu dari tangannya. Dan mulai menyeruput sedikit. “Mungkin” kataku lalu kembali menyeruput susu itu. Aku masih di dalam dekapannya. “Kalau kau?” tanyaku.
  “Iya.”
  “Kalau boleh aku tahu. Tentang apa itu?”
  “Perasaan”
  “Aku rasa aku juga seperti itu” timpalku di ikuti dengan anggukan El.
  “Kau merasakan perasaan aneh?”
  “Iya. Rasanya jantungku menari-nari atau sesekali ingin loncat”
  “Itu cinta.”
  “Cinta? Apa itu? Sejenis makanan penutup. Atau obat penenang merk baru?” tanyaku.
  “Gerald bilang. Cinta itu tak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Tapi bisa di rasakan.” Kata El.
  “Jadi sekarang aku sedang jatuh cinta?” tanyaku.
El tersenyum menyambut pertanyaanku yang sepertinya agak bodoh. Oke, pertanyaan bodoh.
  “Seperti itulah” ucap El.
  El seperti malaikat dari surga yang di datangkan untukku. Atau ia adalah malaikat maut yang berubah menjadi sosok yang aku cintai. Hari hariku di rumah sakit tidak lagi menjadi mimpi buruk. El selalu membuat kejutan, entah dengan membawaku ke atas perosotan pelangi. Atau mengendarai awan sepanjang sore. Sekarang bertemu dengannya sudah menjadi keharusan untukku. El seperti obat yang menenangkanku.

Elmerio.
  “Kau sudah mengertikan sekarang?” Tanya Gerald. Saat kami berada di dalam ruang dewa. Jutaan dewa terkumpul disini.
  “Aku merasakannya. Ternyata indah” ujarku mengeluarkan isi hatiku yang sebenarnya.
  “Kalau gitu kau sudah boleh kembali” Gerald tersenyum tipis.
  “Maksudmu? Aku tak mengerti” tanyaku yang tak paham maksud Gerald.
 “Seperti yang ku katakan sebelumnya. Bahwa kau harus punya cinta. Untuk di klasifikasikan oleh dewa. Agar kau bisa menjadi dewa cinta. Setelah mendapatkan cinta dengan seseorang. Kau harus kembali ke alammu” jelas Gerald.
  “Lalu. Aku tidak bisa kembali ke bumi?” tanyaku.
 Gerald menggeleng. Dan reaksi itu membuatku frustasi.
  “Kau hanya akan menjadi dewa cinta di sini. Tidak di bumi. Apakah kau mau menjadi jiwa yang melayang tak jelas di permukaan bumi? Bertemu dengan para manusia yang tak punya hati?” Tanya Gerald.
  “Tapi.. Gerald kau sudah gila! Aku mencintainya. Mana mungkin aku bisa melupakannya secepat itu!” aku marah. Ku tonjok dinding beton di ruang dewa.
  “Bodoh. Aku hanya menyuruhmu mempunyai cinta. Bukan menggilai cintamu sampai seperti ini.” Ucap Gerald lalu meninggalkanku. Aku akan menjadi satu-satunya dewa cinta yang patah hati? Tidak!. Aku berteriak seperti orang gila. Mengapa Gerald menyuruhku seperti ini? Aku lebih baik tidak mencintai siapapun dari pada harus kehilangan Rachel. Aku sungguh mencintainya.

Rachel.
  El kemana? Sudah tiga jam ia meninggalkanku. Ia janji hari ini akan memberikan kejutan untukku. Aku merindukan El. Merry bilang hasil diagnosa kali ini buruk. Kondisiku benar-benar tak stabil. Karena itu aku harus memakai selang oksigen agar otakku bisa menerima udara. Aku hanya terbaring di tempat tidur ini. Menunggu kedatangan El membawakanku kejutan.
  “Akhirnya kau datang” lirihku saat El menembus dinding kamarku.
  “Aku disini. Jangan khawatir”
 Ku lihat wajah El tak seperti biasanya. Ia seperti baru saja mendapat kabar buruk. Atau mungkin ia sudah tau mengenai kondisiku.
  “Apa kau membawa kejutan itu?” tanyaku. Aku sudah tidak sabar dengan kejutan hari ini.
 El berjalan mendekatiku. Ia menggenggam erat tanganku. Lalu membuka selang oksigen yang menutupi mulutku.
  “Aku mencintaimu” ucapnya. Sorot matanya begitu meyakinkan. Tangannya mendekap wajahku. Bibirnya menyentuh bibirku. Aku seperti melayang-layang. Dalam paduan dewa kematian. Seluruhnya terasa gelap. Ini bukan seperti di kamarku. Ini di tempat yang aku tidak pernah lihat. Aneh. Aku tak merasakan apapun. Hanya ragaku yang sudah terbaring di bawah sana. Dewa kematian menuntunku berjalan. Dimana El? Aku sudah tak lagi melihatnya? El? Aku tak melihatmu?.. aku menyukai kejutanmu! El..

Elmerio.
  Kain putih itu sudah menutupi seluruh tubuhnya. Ia sudah pergi. Tanpa aku.
  Cinta, aku tetap di sini. Di hatimu. Walau raga kita sudah tak bergerak. Tapi. Kau harus tau. Jiwaku ada di dalam jiwamu.

jiwa untuk cinta


Kematian adalah sebuah hal yang mengerikan. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa detik ini, ajal mendekapku.
   Aku memasuki lorong hitam berkabut hijau. Bersama dengan seseorang yang menjemputku dengan jubah hitamnya yang terjulur panjang kelantai. Atau mungkin ia melayang tak punya kaki. Sehingga terlihat jubahnya hanya terlerai-lerai. Aku pun merasakan itu. Bahwa kakiku sudah tak lagi menapak.
  Tiga tahun setelah kematianku aku di tugasskan oleh Gerald, seorang ketua dari kumpulan dewa kematian. Untuk kembali ke bumi.

Rachel
  Pagi ini aku kembali menghirup udara dari jendela kamarku. Bukan kamarku. Melainkan kamar rumah sakit yang selama sekian tahun sudah menjadi kamarku.
  Sel-sel kanker di otakku  mulai menggerogoti setiap syaraf dalam tubuhku. Menjalar, meluas dan menghantui. Aku selalu menikmati setiap detik-detik napasku, sebelum akhirnya hidupku akan berakhir di tempat tidur ini. Dan di kamar ini menjadi saksi bisu bahwa aku pernah bernapas.
  Rasanya aku tak pernah sakit. Aku baik-baik saja. Bahkan aku bias meloncat dan menari-nari. Tapi entah kenapa merry melarangku untuk melakukan semua itu. Aku hanya boleh melakukan satu hal. Yaitu bernyanyi. Itupun merry selalu menggingatkan bahwa aku tidak boleh menyanyikan lagu terlalu banyak. Padahal dengan bernyanyi aku bisa melupakan segalanya.
  Aku tak pernah punya teman, hanya Daddy yang menjengukku setelah ia pulang bekerja. Tak ada liburan musim panas, atau bermain salju pada musim dingin. Aku hanya terbaring di atas tempat tidur bodoh ini. Atau sesekali duduk di atas kursi roda untuk menatap burung-burung yang terbang bebas d pinggiran kolam taman.
  “Apa boleh aku menyanyi sekarang?” tanyaku pada Merry. Suster yang mendorong kursi rodaku.
  “Tentu, tapi hanya satu lagu.” Kata Merry sambil mengingatkanku.
  “Kenapa tak ada hari bonus untukku? Aku ingin bernyanyi hingga ratusan lagu” Pintaku menatap Meery dengan wajah memelas.
  “Tidak, aku yakin kau tidak akan sanggup untuk itu. Berani taruh, tiga lagu pun kau sudah lelah. Selanjutnya kau akan menghabiskan obat penenang” tantang Merry.
  “Oke. Akan ku buktikan padamu kalau aku tidak akan menelam obat-obat menjijikan itu.”
  “kalau gitu, selamat berjuang” kata Merry dengan nada pasrah. Lalu ia meninggalkanku di atas kursi roda.
  Ku lihat burung-burung yang terbang. Hinggap sana, hinggap sini dengan sayapnya tanpa batasan. Tanpa harus tergantung dengan seberapa butir obat yang mereka habiskan.  Gemercik air kolam menenangkanku. Aku suka tempat ini. Satu-satunya tempat dimana aku bias melihat dunia. Bahkan aku tidak tau seperti apa dunia yang seperti orang-orang bilang. Penyakit ini membuat sebagian memori otakku tak bisa mengingat banyak.
   Dan aku mulai bernyanyi..

Elmerio.
  Siapa gadis yang bernyanyi itu? Membuat sebagian organ dalam tubuhku bergerak lebih cepat. Oh iya. Aku lupa. Aku tak punya raga. Aku hanya sebuah jiwa yang melayang. Tapi aku bisa merasakan perasaan yang aneh.
   Aku mendekati gadis itu. Untuk bisa mendengar lebih jelas suaranya yang syahdu. Ku lihat sepertinya burung-burung ikut menari-nari mengiringi setiap nada indah yang keluar dari mulutnya.
  “Ehh. Kamu siapa?” hentaknya kaget.
  Aku juga kaget. Gadis ini bisa merasakan kehadiranku. Lalu ia berhenti bernyanyi.
  “Aku.. aku.. kau bisa melihatku?” tanyaku menatap mata hazelnya yang cerah bila terkena sinar matahari sore. Tapi, garis- garis wajahnya tak secerah matanya.
  “Tentu saja. Kau memakai jubah hita., dan rambutmu jabrik. Kau seperti hantu” ucapnya memandangi pakaianku.
  Aku tersenyum. Dari sekian ribu manusia yang aku jumpai di dunia ini. Tak ada satupun yang bisa melihatku. Bahkan orang tuaku. Kecuali gadis bermata indah di hadapanku ini. Aku bukan hantu. Aku bukan malaikat. Aku hanya jiwa yang melayang-layang di permukaan bumi. Sebelum aku kembali ke dalam kantung jiwa. Bersama jiwa-jiwa yang lain aku harus mempunyai perasaan cinta yang begitu kuat. Sayangnya. Selama aku hidup 18 tahun di dunia. Aku belum pernah merasakan hal itu.
  “Jadi, kamu pernah hidup?” Tanya Rachel.
 Aku mengangguk “Iya, tiga tahun lalu sebelum kecelakaan itu merenggut nyawaku.”
“Rachel. Waktunya kau istirahat” seorang suster menghampirinya. Menarik kursirodanya menjauhiku.
 Rachel
“Bisakah kau tidak mendorong terlalu cepat? Aku masih ingin bermain dengan temanku” kataku meminta Merry mengembalikanku ke tempat tadi. Aku tak habis piker Merry selalu melarangku ini-itu. Ia lebih kejam dari pada sosok ibu tiri. Atau mungkin, ia adalah jelmaan dari Victoria? Si cewek vampire yang menyeramkan.
 “Teman katamu? Sudahlah, jangan bergurau lagi. Setelah ini kau harus beristirahat” ujar Merry yang sepertinya mulai kesal dengan tingkahku.
  “Tapi El adalah temanku!” aku bersi keras memberitahukan Merry bahwa aku ini juga punya seseorang itu.
Merry membuka pintu kamar. Dan menyalakan lampu di ruangan yang mulai gelap itu.
  “Sejak kapan kau punya teman? Hanya aku yang kau bisa ajak bicara” sekali lagi Merry mengingatkanku. Bahwa selama aku hidup ia adalah satu-satunya orang yang paling banyak aku ajak bicara. Selanjutnya aku hanya diam atau mengeluh.
  “Selamat istirahat” ucap Merry mengecup keningku. Lalu ia meninggalkanku di ruangan yang aku tidak sukai ini. Sampai detik ini. Aku tak pernah mengenal seorangpun yang bisa di katakana teman. Aku hanya mengenal puluhan dokter yang capek menanganiku. Merry dan Daddy yang sampai detik ini ia selalu bilang bahwa ia mencintaiku.. bahkan aku tidak pernah tahu. Siapa ibuku. Daddy bilang, mommy berada di tempat paling indah di atas sana.
  GREEK. Suara jendela kamarku terbuka. Dan aku menemukan El disana.
  “El!!” teriakku kegirangan. Aku sudah hamper frustasi saat Merry membawaku ke ruangan. Dan aku tidak akan bisa bertemu dengannya. “Kau penuh kejutan!” kataku masih tak percaya terhadap fakta. Bahwa El menerobos jendela hanya untuk menemuiku.
  “Terimakasih. Tapi aku senang melakukannya unukmu” ucap El penuh kepastian.
  “Aku sedih. Merry tak mempercayaiku. Kalau aku punya teman sepertimu.” Keluhku. Aku mulai menyukai rambut jabriknya.
  “Rachel.. sudah ku bilang kau jangan banyak bergurau. Kau harus istirahat” Merry membuka pintu kamar dengan wajah garang. Ia mungkin kesal dengan tingkahku. Tapi aku tak perduli. Aku terlalu panik kalau Merry melihat lelaki di kamarku.
  “Baiklah” jawabku dengan tenggorokan seperti tersendat. Lalu Merry menutup pintu lagi.
  Aku menghela napas. “Tentu saja. Wanita itu tak akan bisa melihatku” ujar El membuatku ternganga.
  “El, kau hebat! Kau bisa tak tampak olehnya. Bisakah kau mengejariku tentang hal yang menakjubkan itu?” pintaku. El hanya menatapku dengan  matanya yang kelam.
  “kau mau yang lebih keren dari pada hal yang tak kasat mata?” Tanya El.
  “Apa?”
  “Mari berpegangan denganku”
 Aku beranjak dari tempat tidur. Menghampiri El. Tubuhnya yang menjulang tinggi seolah mengintimidasi tubuhku. Aku menangkap tangannya yang dingin. Ku peluk tubuh itu erat-erat. Satu detik kemudian. Aku sudah terbang di udara bersama El.

Elmerio.
Inikah rasanya? Di dalam bola matanya aku menemukan kembali kehidupanku? Di dalam raganya, aku seolah menemukan surga tersendiri. Di atas langit gelap. Tanpa taburan bintangpun aku masih bahagia. Karena yang ku peluk ini adalah bintang peling terang.
  “Apakah kau menyukainya?”  tanyaku.
  “Iyap. Apalagi hal ini ku lakukan bersamamu”
  “Kalau kau ingin bernyanyi. Maka bernyanyilah sesuka hatimu”
  “Kau tidak melarangku?”
  Aku tertawa menatap matanya yang polos.
  “Tentu saja tidak. Aku bukan Merry” lalu kami tertawa.
Rachel bernyanyi dengan suaranya yang indah.  Di dalam pelukanku. Tubuh yang rantan itu memiliki jiwa yang bersemangat. Tuhan berikan aku waktu lebih lama bersamanya.
Suara sendu, syahdu mengelitik telingaku. Agar menikmati lagu itu lebih mendalam. Kami berputar putar diatas udara malam yang dingin. Apakah ini perasaan yang Gerald bilang kepadaku?
  “Kau lelah?” tanyaku melihat wajahnya yang makin memucat.
  “Tidak. Aku sangat bahagia. Kau satu satunya temanku” katanya. Kami duduk di atas tower gedung rumah sakit. Menikmati semilir angin yang menembus raga rapuhnya. Mungkin aku tak waras. Membiarkan gadis ini disini. Itu sama saja mendekatkannya pada kematian. Aku tau aku bodoh.

Rachel.
  Malam ini malam yang paling indah. Andaikan tuhan mencabut nyawaku setelah ini. Aku rela. Sebab sekarang aku tau, dimana titik kebahagiaanku selama ini. Bukan bernyanyi. Tapi El. Ia titik kebahagiaanku.
  Aku tak perduli seberapa dinginnya malam ini. Aku tak perduli seberapa kejamnya angin malam untuk tubuh yang rentan ini. Aku hanya ingin bahagia dengan El.
  El melepaskah jubah hitamnya untuk menutupi tubuhku. Lalu ia tetap memelukku. Membiarkan kepalaku melesat di dadanya yang kekar. Bau kematian pada El sungguh tercium olehku. Jiwanya yang selalu tenang. Memberikan keistimewaan tersendiri.
  “Kau menginginkan sesuatu dariku?” Tanya El sambil menikmati susu kotaknya. Entah itu di dapat dari mana. Ku kira hanya aku yang menyukai susu kotak. Makhluk lain juga rupanya suka.
  Aku meraih kotak susu itu dari tangannya. Dan mulai menyeruput sedikit. “Mungkin” kataku lalu kembali menyeruput susu itu. Aku masih di dalam dekapannya. “Kalau kau?” tanyaku.
  “Iya.”
  “Kalau boleh aku tahu. Tentang apa itu?”
  “Perasaan”
  “Aku rasa aku juga seperti itu” timpalku di ikuti dengan anggukan El.
  “Kau merasakan perasaan aneh?”
  “Iya. Rasanya jantungku menari-nari atau sesekali ingin loncat”
  “Itu cinta.”
  “Cinta? Apa itu? Sejenis makanan penutup. Atau obat penenang merk baru?” tanyaku.
  “Gerald bilang. Cinta itu tak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Tapi bisa di rasakan.” Kata El.
  “Jadi sekarang aku sedang jatuh cinta?” tanyaku.
El tersenyum menyambut pertanyaanku yang sepertinya agak bodoh. Oke, pertanyaan bodoh.
  “Seperti itulah” ucap El.
  El seperti malaikat dari surga yang di datangkan untukku. Atau ia adalah malaikat maut yang berubah menjadi sosok yang aku cintai. Hari hariku di rumah sakit tidak lagi menjadi mimpi buruk. El selalu membuat kejutan, entah dengan membawaku ke atas perosotan pelangi. Atau mengendarai awan sepanjang sore. Sekarang bertemu dengannya sudah menjadi keharusan untukku. El seperti obat yang menenangkanku.

Elmerio.
  “Kau sudah mengertikan sekarang?” Tanya Gerald. Saat kami berada di dalam ruang dewa. Jutaan dewa terkumpul disini.
  “Aku merasakannya. Ternyata indah” ujarku mengeluarkan isi hatiku yang sebenarnya.
  “Kalau gitu kau sudah boleh kembali” Gerald tersenyum tipis.
  “Maksudmu? Aku tak mengerti” tanyaku yang tak paham maksud Gerald.
 “Seperti yang ku katakan sebelumnya. Bahwa kau harus punya cinta. Untuk di klasifikasikan oleh dewa. Agar kau bisa menjadi dewa cinta. Setelah mendapatkan cinta dengan seseorang. Kau harus kembali ke alammu” jelas Gerald.
  “Lalu. Aku tidak bisa kembali ke bumi?” tanyaku.
 Gerald menggeleng. Dan reaksi itu membuatku frustasi.
  “Kau hanya akan menjadi dewa cinta di sini. Tidak di bumi. Apakah kau mau menjadi jiwa yang melayang tak jelas di permukaan bumi? Bertemu dengan para manusia yang tak punya hati?” Tanya Gerald.
  “Tapi.. Gerald kau sudah gila! Aku mencintainya. Mana mungkin aku bisa melupakannya secepat itu!” aku marah. Ku tonjok dinding beton di ruang dewa.
  “Bodoh. Aku hanya menyuruhmu mempunyai cinta. Bukan menggilai cintamu sampai seperti ini.” Ucap Gerald lalu meninggalkanku. Aku akan menjadi satu-satunya dewa cinta yang patah hati? Tidak!. Aku berteriak seperti orang gila. Mengapa Gerald menyuruhku seperti ini? Aku lebih baik tidak mencintai siapapun dari pada harus kehilangan Rachel. Aku sungguh mencintainya.

Rachel.
  El kemana? Sudah tiga jam ia meninggalkanku. Ia janji hari ini akan memberikan kejutan untukku. Aku merindukan El. Merry bilang hasil diagnosa kali ini buruk. Kondisiku benar-benar tak stabil. Karena itu aku harus memakai selang oksigen agar otakku bisa menerima udara. Aku hanya terbaring di tempat tidur ini. Menunggu kedatangan El membawakanku kejutan.
  “Akhirnya kau datang” lirihku saat El menembus dinding kamarku.
  “Aku disini. Jangan khawatir”
 Ku lihat wajah El tak seperti biasanya. Ia seperti baru saja mendapat kabar buruk. Atau mungkin ia sudah tau mengenai kondisiku.
  “Apa kau membawa kejutan itu?” tanyaku. Aku sudah tidak sabar dengan kejutan hari ini.
 El berjalan mendekatiku. Ia menggenggam erat tanganku. Lalu membuka selang oksigen yang menutupi mulutku.
  “Aku mencintaimu” ucapnya. Sorot matanya begitu meyakinkan. Tangannya mendekap wajahku. Bibirnya menyentuh bibirku. Aku seperti melayang-layang. Dalam paduan dewa kematian. Seluruhnya terasa gelap. Ini bukan seperti di kamarku. Ini di tempat yang aku tidak pernah lihat. Aneh. Aku tak merasakan apapun. Hanya ragaku yang sudah terbaring di bawah sana. Dewa kematian menuntunku berjalan. Dimana El? Aku sudah tak lagi melihatnya? El? Aku tak melihatmu?.. aku menyukai kejutanmu! El..

Elmerio.
  Kain putih itu sudah menutupi seluruh tubuhnya. Ia sudah pergi. Tanpa aku.
  Cinta, aku tetap di sini. Di hatimu. Walau raga kita sudah tak bergerak. Tapi. Kau harus tau. Jiwaku ada di dalam jiwamu.

Sunday, May 13, 2012

adele someone like you

I heard that you’re settled down
That you found a girl and you’re married now
I heard that your dreams came true
Guess she gave you things I didn’t give to you

Old friend, why are you so shy?
It ain’t like you to hold back or hide from the lie

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn’t stay away, I couldn’t fight it
I hoped you’d see my face & that you’d be reminded
That for me, it isn’t over

Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me, I beg, I remember you said
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah

You’d know how the time flies
Only yesterday was the time of our lives
We were born and raised in a summery haze
Bound by the surprise of our glory days

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn’t stay away, I couldn’t fight it
lyricsalls.blogspot.com
I hoped you’d see my face & that you’d be reminded
That for me, it isn’t over yet

Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me, I beg, I remember you said
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead", yay

Nothing compares, no worries or cares
Regret’s and mistakes they’re memories made
Who would have known how bittersweet this would taste?

Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me, I beg, I remembered you said
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"

Nevermind, I’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me, I beg, I remembered you said
"Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead, yeah

after exam national

apa yang terjadi setelah aku ujian? oke. aqku mau cerita banyak disini,, uh udah ama engga buka blog ini eh pas di buka ternyata banyak sarang laba-laabanya ehehhehe. guys. buat yang setia baca blog aku. aku mau mengucapkan selamat ujian nasional. dan aku juga salam satu pesertanya lho..
  hidup itu kadang tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. tentunya aku juga merasakan itu. berpikir satu tingkat lebih dewasa dari pada anak SMA yang selalu manja. oke aku ngaku waktu sma aku manjanya minta ampun. terutama sama papa.
  kehidupan yang merubah aku. setelah ini aku harus melanjutkan kuliah. dan aku berpikir bagaimana seorang ovie yang selalu merepotkan papa. aku sadar aku ini anak pertama yang seharusnya menjadi panutan untuk adik2ku kelak. umurku baru 17 tahun, tapi sepertinya nasip anak pertama tidak seberuntung nasib anak terakhir deh.
 aku bercita2 ingin kuliah dengan caraku, apapun itu tentunya harus halal. dengan itu aku memutuskan untuk mencaari uang sendiri. dengan bermodal nekat.  awalnya aku googling loker magang utuk anak sma. dan ternyata ada beberapa perusahaan yang menyediakan itu. apapun itu aku harus bisa. dan beberapa emailku di jawab oleh perusahaan. tibanya. aku bilang oke untuk menghadiri interview. papa sangat bangga kepadaku. ia menyiapkan seluruh kebutuhanku untuk interview. dan pesannya aku harus menjadi diriku sendiri.
 senin jam 11 aku sudah tiba di blok m. karena dari alamat kantor itu menunjukan blok m. dan aku selalu bertanya alamat yang aku iituju ini benar atau tidak.
  dan pak satpam menjelaskan bahwa kantor yang aku tuju ini sudah  banyak penipuan. nyaliku langsung ciut mendengarnya. aku enggak mau dateng ke kantor itu. jujur aku kecewa. di dunia yang semakin ringsek ini kok masih ada orang2 yang jahat. mereka seperti jepang yang menjanjikan keuntungan bagi indonesia. padahal di belakang itu mereka punya maksud jahat.
  iseng punyaa iseng aku masuk ke blok m square. dan melihat salah satu optik yang membutuhkan karyawan. daku langssung melamar dan bertemu dengan bos nya yang kayaknya keturunan cina. aku langsung di terima dengan cv yang aku bawa.
  ijazah emang belom di tangan tapi nekat itu lebih baik dari pada diam. besoknya aku langsung kerja. ternyata menjadi penjaga toko itu susah banget. aku capek. haru melayani costumer dengan senyum sumringah. tanpa libur, tanpa istirahat, dan uang balasan yang sangat tidak cukup.
  hari ke tiga aku bekerja aku mulai terbiasa.semua barang2 toko hampir aku kuasai. aku bisa mengingat dengan ccepat. mempelajari administrasi dengan cermat dan tepat. cuma sekali lagi aku lelah. aku berpikir, ini di nasib nya orang kecil selalu di pekerjakan dengan tidak manisuawi. malamnya. aku menghubungi caesar untuk bertemu. dan jam 9 malam kami bertemu. caesar emang orang yang tepat di ajak curhat. entah ia tercipta dari cairan apa. yang penting aku suka kalo curhat sama dia. dan caesar bilang "kalo kamu capek aku rasa sebaiknya kamu berenti aja, aku kasihan liat kamu kecapean" ujarnya. aku mengangguk. tapi soal resain itu aku pikir2 lagi. sampai rumah kira2 jam 1 malam. besoknya aku kesiangan. aku sepik sama bosku kalo aku sakit. tapi bener2 deh badanku rasanya bobrok banget.
  dua hari di rumah aku cuma ngelanjutin naskahku. sambil googling2 loker lagi. dan setelah dapet, aku di panggil interview sama pihak perusahaan. ketemu sama cika, tyar, nuraini, dan olvi. kami sempet makan siang bareng. dan besoknya aku di telpon untuk mengikuti training selama satu minggu. eh 2 hari di trainig aku lagsung kerja. dengan jam kerja yang cukup. libur yang standar dan gaji yang standar. :) semoga aku bisa kuliah dan guys. doain ya aku mau ikut lomba mizan.com :)

Saturday, March 24, 2012

puisi 38th gramedia

tanpa kamu naskah ku tidak akan berarti.
penoakan demi penolakan tiba.
berawal dari rasa gelisah.
apakah aku bukan benar-benar seorang penulis?
apakah naskah ku tak layak di baca oleh ribuan mata?

aku tak akan pernah mengerti apa arti dari sebuah penolakan itu, kalau aku tidak sadar diri.
ribuan penulis sepertiku kau sadarkan. kau ubah mereka untuk mempunyai tekat serta nyali yang besar.
setiap malam jari ini menari-nari di atas keyboard usangku.
aku berpikir akankan naskah ini terbit darimu? aku ingin menjadi bagian dari hidupmu.
aku dan sepuluh ribu penulis di luar sana merindukan kepastianmu.

aku akan bangkit. aku tak ingin berlarut dalam kesedihanku karena kau tolak.
aku justru akan beerjuang untuk meraih mimpi itu. dengan doa dan usaha.
dear gramedia. kau lah tempat bersandar para penulis. tanpa dirimu aku yakin tak ada buku-buku yang menabjubkan itu.

karya-karya anak bangsa tersalurkan.
bakat-bakat mereka di ketahui banyak orang.
rak-rak buku itu akan kosng jika kau pergi.

kini 38 tahun sudah kau memberi kejutan pada seluruh orang. dengan buku-buku yang kau terbitkan.
selamat ulang tahuun. semoga gramedia tercinta makin berjaya. wish gramedia all the best

Monday, March 19, 2012

kelas membatik sama manoharun


semuanya berawal dari twitter. pagi itu kak @_harh following saya beberapa waktu yang lalu. kebetuan saya sering dengerin RRI dan disana ada kak @lianamaku dan kak harun. kak harun ini seorang pecinta buku (saya juga walaupun sering angot-anotan kalo baca hehe) saya suka membaca postingan blognya lho. . dan beberapa hari yang lalu ia mentweet yang isinya mengajak para followernya untuk ikutan acara membatik di museum bank mandiri kota. sayapun tertarik dan langsung mengkonfirmasi kepada kak harun bahwa saya ingin ikut acara itu. respon pun sangat possitif. Beliau langsung mendaftarkan saya. Hari minggunya saya bersiap untuk berangkat. Tentunya dengan izin papa. “Pa. Aku pulang jam dua. Aku Cuma ikut kelas batik” kataku. Papa mengangguk dan mengiyakan permintaanku. Sampai disana kebetuan saya mungkin memang seorang yang sangat “awam” museum bank mandiri pun saya tidak tahu. Tapi kalau kota tua tentu saya tahu. Than.. kak harun yang menunjukan dimana museum itu berada. Keluar dari terminal transjakarta saya langsung menelpon beliau dan beliaupun akan menunggu saya di lobby.
  Jujur, saya belum pernah bertemu dengan dia. Seperti yang saya tuliskan bahwa saya dan kak harun hanya berkomunikasi via twitter. Saya melangkah menuju lobby. Dan saya menemukan seseorang dengan berbaju hijau dan celana jeansnya. Saya pastikan bahwa itu adalah beliau. Karena Saya satu kali pernah melihat avatar twitternya itu juga untuk mengkonfirmasikan bahwa saya tidak salah orang. Kami bersalaman dan menyebutkan nama kami masing2. Tidak berpanjang lebar ia langsung mengajak saya gabung ke kelas membatik. Saya pun menunggu giliran mendapatkan canting. Setelah mendapatkan canting saya bergegas menuliskan lilin malam itu pada garis-garis yang sudah di buatkan.
Batik sudah jadi. Tinggal di celup kemudian di rebus. Haduh ngantri boooooooo.. jadi giliranku lama deh. Sembari ngantri ada seorang lelaki yang ikut ngantri juga dengan saya. Setelah berkenalan saya tahu nama beliau adalah kak lukman. Kami sempat berbicara mengenai buku. Saking serunya ngobrol. Saya sampai lupa bilang kalo saya ingin batik saya berwarna biru. Bukan merah. Nah si pak ahmad ini menyelupkannya ke warna merah. Saya tidak suka, karena warnanya seperti darah. Saya benci itu. Saya minta untuk di celupkan ke warna biru sehingga hasilnya warna ungu. warna yang saya suka.


 lalu batik ini harus di jemur dulu sampat kering. lalu kak harun mengajak saya solat, sama kak lukman dan kak ayu. abis solat kita makan rame2. saya pesen gado2 nasinya setengah. cuma dengan hara 7rb bisa isi perut. setelah kambali ke kelas yang lesehan itu setengah jam lebih kami menunggu ibu batik yang entah namanya siapa. tapi beiau tak kunjung datang. kami pun lelah. dan segera meminta izin untuk pulang. saya berterimakasih kepada kak harun yang sudah mengajak saya ke acara ini. kami bersalaman karena menurutku tidak ada yang akan saya lakukan lagi. kak harun bilang ia ingin mengisi acara @proresensi di RRI. saya pun tertarik dan saya meminta diri untuk mengikuti acara ini. dengan senyum yang lebar dan satu anggukan kepala dari kak harun. aku mengikuti langkahnya. kami menaiki busway menuju monas yang sekarang berganti nama menjadi monumen anas.
 sampai di halte kami harus menyebrang jalan. perjalanan dengan sendal hampir 200 meter dari halte, tapi aku mengisinya dengan mengobrol dengan kak harun. sedikit terkejut juga mengenal kak harun orang yang paling exis disini ternyata dirinya adalah PNS!! orang segini bawelnya bisa juga yak jadi pegawai negri? heheheh. (ampun kan harun). ia mengaku alumni stan beberapa abad yang lalu. kelihatannya si masih muda. tapi sodara-sodara jangan terlena sama wajahnya yang imut itu. heheheh.
  sampai di RRI gedung bercat putih tepat di sebelah gedung mahkamah konstitusi. kami naik ke lantai 5. dan disana ada beberapa ruangan yang di isi dengan alat-alat banyak lampunya yang saya tidak ketahui namanya. bentuknya mirip cpu. cuma lebih besar 3 kali lipat dari cpu. kami masuk ke dalam ruangan yang mana ruangan itu sudah terisi dengan orang-orang yang sedang siaran. kami mengobrol dan membahas beberapa penerbit dan termasuk kak ayu yang sudah 3 bulan di terima kerja sebagai editor elexmedia. wow! sempet gak percaya juga sih. ternyata mereka adalah orang yang hebat!
  dan kak delisa gadis bermuka arab blasteran ini cerewet. tapi dia cantik kok. aku suka dengan gaya bicaranya. dia mengaku sudah kuliah di.. *lupa univnya* yg jelas umurnya 19 tahun. tapi tetap saja umur saya yang jauh lebih muda. tapi akhirnya dia pulang sebelum siaran berlangsung.
  aku kira. aku hanya duduk di luar melihat mereka yang sedang asik berceloteh dari luar kaca . ternyata orang yang mengaku prince manoharun ini mengajak saya masuk dan ikut siaran sodara-sodara!
  saya gugup seperti orang yang tidak minum air semenjak sebulan yang lalu. tangan saya berubah jadi dingin. padahal saya tidak sedang di lihat saya hanya di dengar.
  kak lia membuka pembicaraan. dan yang di sapa duluan adalah saya. saya langsung di beri wewenang untuk berbicara. ibuuuu! bapakkk! aku masuk radioooo!! *norak.
   hari ini topiknya tokoh yang paling berkesan menurut kamu. menurut aku tokoh yang paling berkesan adalah adri! di novel miss pesimis kak alia zalea. lalu saya menceritakan bagaimana saya menyukai karakter tokoh itu. kalo mau tau. baca sendiri ya miss pesimis ! lalu kami keasikan mengobrol hingga jam 6 sore. kami berdiskusi mengenai bella swan, harry potter, dan sedikit tentang the hunger games.
  saya siap untuk pulang. tapi kak lia menyetop taksi dan langsung membawa kami ke jalan sabang. perasaan gue udah was-was takut papa marah. tapi gue mencoba tenang. papa enggak bakalan marah sama gue. than kami mampir ke sebuah cafe. kak lia memesan makanan super banyak sampe saya bingung melihatnya. untuk kocek pelajar gadungan seperti saya menunggu 3 bulan gak jajan dulu untuk memesan makanan seperti itu. papa kan ngasih uang jajannya perbulan. jadi harus hemat-hemat deh -___-
  kami makan. dan kak lia banyak bercerita. sepertinya ia memang pandai untuk soal bercerita. saya memperhatikan rambutnya yang tersusun rapih. ternyata dia abis dari salon hehehe ketauan deh. saya tidak pernah menyangka kalau saya akan duduk satu meja dengan kak lia. berbicara sambil tertawa dan menikmati suasana seru ini.
selanjutnya karena jam sudah pukul 9 malam. saya pulang di antar oleh kak harun. trimakasi kak ^^
sampai dirumah saya tidak di omeli papa. karena papa tahu saya tidak akan macam2 di luar sana. papa memberi kepercayaan seluruhnya kepada anak sulungnya yang paling di sayang ini*ngacung. tapi papa bilang bagaimanapun juga papa tetap khawatir dengan saya. karena saya perempuan :) begitu cerita hari ini. smoga besok ada cerita yang lebih menarik lagi yaa.

Friday, March 2, 2012

silent of love.


Kalau memang perasaan itu
  menggambarkan pertanda cinta.
Mengapa cinta itu masih diam?
Pada sebuah mata yang memancarkan supernova.
Pada sebuah bibir yang melengkung.
Membntuk senyum dan merindu
Cinta yang diam, cinta yang tak terucap,
Cinta yang tenggelam dalam perasaan rindu tak berujung..
Kalut. Yang suatu saat akan melimit.
Ku lihat wajahmu yang teduh.
Aku ingin kamu seluruhnya. Kapanpun, bagaimanapun aku rindu.
Bisakah kau merasakan perasaan bodoh ini?
Dan jika aku lelah..
Aku akan terkubur dalam perasaan..
Tanpa escape..